April 20, 2017








Jika pagimu bukan untukku
Siangmu bukan padaku
Dan malammu bukan milikku
Lalu,
Apakah aku nyata bagimu?
Jawab, semesta.












December 31, 2016

2016


Ketika hampir seluruh dunia mengutuk 2016 sebagai tahun terburuk, lucunya 2016 berjalan cukup menyenangkan buat saya. 

Tidak banyak yang terjadi pada saya tahun ini, selain bermain dan melancong. Serius. (Saya posting foto-fotonya di ujung postingan ini)

Setelah bertahun-tahun, saya baru merasakan lagi nikmatnya santai di tahun 2016. Amanah yang harus saya jalankan berakhir di bulan Maret, sehingga saya memiliki waktu 9 bulan di 2016 untuk memanjakan diri saya sendiri. Bagi saya, memanjakan diri sendiri hampir sepanjang tahun merupakan sebuah pencapaian untuk saya. Pencapaian lainnya yang saya banggakan di tahun ini adalah akhirnya saya mengalahkan rasa takut pada air laut dan berani nonton film horror lagi sejak terakhir menonton film horror di tahun 2012. Yes, it's been a very delightful year.

Walaupun mestinya 5 bulan terakhir ini saya gunakan untuk menggarap Tugas Akhir demi lulus cepat, nyatanya saya lebih memilih lulus tepat waktu. Ehehe.

Oh iya, tadi saya bilang tahun ini kerjaan saya adalah bermain dan melancong. Ada sebuah percakapan yang paling membekas di antara perjalanan-perjalanan yang saya lakukan tahun ini.

Satu malam saat sedang solo trip ke Malang di akhir bulan Agustus, saya berbincang dengan seorang bapak yang usianya cukup lanjut di sebuah kedai kopi. Bapak ini sebelum pensiun merupakan seorang dosen Filsafat di sebuah kampus di Jogja. Saya lupa bagaimana kami memulai perbincangan, intinya saat itu kami sampai pada topik tentang makna kehadiran orang-orang tertentu di dalam hidup kita. 

Saya bilang, "Saya lagi gak mau ribet sama hidup, orang-orang dan perasaan saya sendiri. Tahun lalu saya dibuat hancur sama satu orang, saya gak mau itu terulang lagi. Saya gak mau lagi menggantungkan kebahagiaan saya atas kehadiran orang lain, apalagi yang sifatnya temporer. Terlalu banyak orang-orang yang sifatnya sementara di hidup saya. Saya mau yang jelas-jelas aja. Hidup sendiri pun kayaknya saya bisa deh, Pak."

Bapak itu menjawab, "Jangan skeptis gitu lah. Jalan kamu masih panjang dek. Emang seumuran kamu itu masa-masanya orang-orang seliweran. Masa-masanya hidup kamu gak jelas, orang-orangnya juga, gak jelas akan bertahan lama di hidup kamu atau enggak. Tapi masa-masanya juga kamu mulai tau mana yang harus kamu perjuangin biar bisa sampai tua nanti ada di hidup kamu. Sembari saya ngomong gini, pasti terlintas sosok orang-orang itu kan di pikiran kamu? Kamu yang paling tahu lah. Jangan pernah kehilangan iman, Tuhan Maha Baik, gak pernah biarin kamu sendiri, perjuangkan orang-orang itu. Kadang hidup gak kasih kamu kesempatan lebih loh."

Brengsek.

Saya harus jauh-jauh ke Malang, dipertemukan dengan bapak yang bahkan saya lupa namanya, untuk paham satu hal yang seringkali saya lupakan; bersyukur atas kehadiran orang-orang yang sampai saat ini selalu ada untuk saya. Semesta terkadang lucu, ya.

Emotional breakdown yang saya alami pada tahun 2015 secara tidak langsung mengantarkan saya pada perjalanan spiritual pribadi untuk lebih mengenal dan menyayangi diri sendiri dan orang-orang yang memang layak saya pertahankan dalam hidup saya. So, I guess it is safe to say that 2016 went better than expected. Way better than expected. Apalagi ada si akang, yang tiba-tiba datang ke hidup saya di tahun 2016 ini, dan kerjaannya bikin bahagia terus. Ehehe.

Seperti doa yang saya panjatkan di hari ulang tahun ke-21, doa saya untuk 2017 tetaplah sama, agar mereka yang membuat saya bahagia saya saat ini, akan terus ada sampai nanti, sampai tua.

Oh iya! Ini yang paling penting, resolusi untuk tahun 2017: lulus dan wisuda di bulan Agustus! Amin!!

****

Berhubung tahun ini saya banyak pergi tapi tidak pernah saya posting di blog, di postingan penutup tahun ini saya mau posting foto-foto saya sepanjang tahun 2016.

Aksi Mengajar Gerakan UI Mengajar Angkatan 5 di Tegal, Januari 2016


 Pulau Sangiang, Banten, Mei 2016 



 Aksi 1000 Kaki Komunitas Sayap Dewantara di Garut, Juni 2016
(Pembagian sepatu ke lokasi aksi GUIM 1 di Kec. Pameungpeuk, setelah itu lanjut main ke Pantai Sayang Heulang. Oknumnya: Raihan, Ucheng, Pede, Egi, Bagus, Ollin, Syaukat)



Green Canyon - Pantai Pangandaran, Juli 2016 
(Body rafting di Green Canyon, sunset di Pantai Barat Pangandaran, dan Water Sport di...emm...lupa nama pantainya. Ehe. Oknumnya: Raihan, Tammi, Ma'ruf, Ica, Novha, Kiki, Widyo, Bangkit)




 Diajakin Nge-Jeep di Bukit Hambalang, Sentul, Agustus 2016



 Pantai Watu Leter, saat solo trip ke Malang, Agustus 2016



Gili Labak, Madura, November 2016


Curug Ciherang, Jonggol, Desember 2016
(Jam 11 malam diajakin Christo, jam 5 subuh berangkat berdua naik motor)



Taman Hutan Raya Juanda - Kawah Putih, Bandung, Desember 2016
 (Ini trip cuma ke Bandung, lama di jalan karena macet, tapi jadi trip terbodor 2016. Hahaha. Oknumnya: Raihan, Aldy, Andy)




Terima kasih atas semua perjalanan serunya, 2016. :)




December 22, 2016

Dua Puluh Satu

Sebagai pengantar, saya akan bilang kalau saya bukanlah orang yang menganggap spesial ulang tahun saya sendiri. 

Tidak enaknya ulang tahun di akhir bulan Desember adalah semua orang sudah sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ujian, liburan ke rumah saudara, Natalan. Jadi, saya tidak pernah berharap orang lain ingat dengan ulang tahun saya, apalagi merayakannya. Sejak berumur 17 tahun, saya punya tradisi untuk me-time di tanggal 21 Desember dengan format kegiatan yang sama; menonton, belanja, ngopi. Buat saya, kebahagian hakiki di hari ulang tahun adalah bisa memanjakan diri sendiri tanpa harus memikirkan orang lain di hari itu.

Menurut histori, saya selalu ditinggal orang-orang terdekat saya di bulan Desember. Ditinggal pergi jauh, ditinggal mati, dan putus hubungan romantis. Tiga kejadian paling sedih untuk seorang manusia pernah saya rasakan semua di bulan Desember. Intinya, saya tidak pernah menghabiskan waktu dengan orang yang saya kasihi di hari ulang tahun saya. Jadi, sebenarnya saya punya love-hate relationship dengan bulan Desember.

Tahun lalu, tak hanya ditinggal, hati saya dibuat hancur berkeping-keping (saya bingung mengekspresikan hancurnya diri saya tahun lalu dengan kalimat yang lebih indah). Saya menangis di hari ulang tahun saya. Kejadian itu yang membuat saya sangat skeptis dengan Desember dan 21 Desember tahun ini. 

Tapi ternyata semesta punya rencana lain. Tahun ini, semesta ada di pihak saya. 

1.
Tahun ini saya kembali ditinggal pergi jauh. Kali ini oleh teman saya sejak usia 6 tahun, Christo. 17 Desember lalu, dia harus berangkat ke Entikong, sebuah kabupaten kecil di Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan Malaysia, untuk bertugas jadi abdi (keuangan) negara. 15 tahun saya kenal orang ini, baru tahun ini Christo bisa jadi laki-laki yang manis untuk saya.


Foto terakhir sesaat sebelum take off, dengan pesan terakhir "Buka kado dari gue pas tanggal 21 ya. Jangan curang lu!". Ternyata, isinya 3 barang yang bikin saya senyum sendiri. Senyum ingin gampar anaknya.

Koin Star Wars, confetti, dan kaos dengan kutipan kata-kata super bangkek.
2.
Tanggal 22 pagi, teman saya sejak SMA, Rully, datang ke rumah membawakan kue dan satu plastik berisi kebahagiaan; susu Indomilk rasa melon. 

Muka baru bangun, alis seadanya karena no make up. Ehehe.

3.
Kalau untuk yang ini, rasanya mau bikin satu postingan sendiri. Ehehe.

Sabtu lalu, akang yang satu ini ngajakin saya nonton, di hari Rabu, tanggal 21 Desember. Dan tumbenan sekali, mengingat dia bukan orang yang suka dengan film action adventure dengan efek ala ala, dia langsung mengiyakan ketika saya mau nonton Assasin's Creed. Biasnya kami harus berkompromi agak lama karena selera film saya dan dia sangat berbeda. Saya mikir karena hari itu saya ulang tahun, saya dibebaskan milih film. 

Sebelumnya, dia bilang untuk nonton yang siang saja karena kalau malam takut ada meeting mendadak. Iya, si akang ini orangnya sibuk, lagi banyak deadline proyek besar yang seringkali memaksa untuk meeting mendadak malam-malam. Sempat bete, karena merasa nanggung amat kalau di hari itu cuma ketemu sebentar, nonton doang lagi. Ya, tapi pada akhirnya akal sehat saya harus selalu siap mengalah kalau untuk kerjaan, dan saya mikir daripada nggak ketemu sama sekali. Kami memutuskan untuk nonton di Grand Indonesia, yang ternyata masuk ke rencana akal-akalan dia. 

Waktu ketemu, tumben sekali pakai kemeja rapi. Biasnya kalau kami jalan, dia pakai setelan khasnya; jaket warna polos, kaos atau polo polos, jeans, dan sepatu. Sudah mulai curiga, tapi karena waktu itu mepet dengan jam mulai film, saya jadi lupa mau curiga. Lah.

Beres nonton, dia langsung mengarahkan saya untuk makan di satu tempat di GI. Saya langsung iya-iya aja, karena dia yang lebih paham tempat makan enak. Datang ke restorannya, ternyata si akang sudah reserve tempat untuk kami berdua. Mulai dari sini, jadi senyum-senyum sumringah sendiri. Ehehehe. Tapi tetap, saat makan, saya masih insecure sendiri takutnya tiba-tiba ada telpon mendadak yang mengharuskan dia meeting. Taunya enggak!! Taunya akal-akalan dia aja biar makan bisa lebih lama. Ehehe.


Satu jam kemudian, ada kue datang dengan ucapan sukses skripsi 2017. Nuhun udah diingatkan kang. Walaupun gak sopan ngingetin skripsi di hari ulang tahun. Tapi karena kamu sudah meluangkan waktu seharian, pulang dari kantor lebih awal di tengah-tengah deadline kerjaan yang menggila, jadi dimaafkan. Tuh kan, enak ya, gampang luluh gue mah anaknya.

Jadi ini toh rasanya surprise candle light dinner. Mihihi. Tumben manis amat jadi orang. Diabetes nih lama-lama. Nuhun pisan ya Kang Raihan. Bungah jeung nyaah teu eureun-eureun ini mah. :)

****

Lama nggak nulis di blog, akhirnya nulis juga. Jarang sih ulang tahun saya semanis ini, sayang kalau gak diabadikan.

Selamat ulang tahun ke dua puluh satu, Rina. Terima kasih ya semesta tahun ini 21 Desember ke 21 nya manis sekali. Tahun depan boleh lagi dong kayak gini, dengan orang yang sama. Hehe. :)


January 6, 2016

What Happened between January(s)

23 jam menuju keberangkatan.


Halo 2016! Ini postingan pertama saya di tahun 2016, ditulis  menjelang keberangkatan aksi karena saya bingung harus bagaimana melampiaskan rasa deg-degan dan panik saya.

Iya, kalau kata orang, saya gak bisa panik. Padahal saya adalah orang yang suka panik sendiri, maksudnya kalau panik dipendam sendiri, nggak usah ditunjukkin.

Malam ini saya super panik, mengingat kalau tahun lalu saya hanya bertanggung jawab dengan keberlangsungan hidup 1 tim di 1 titik aksi, tahun ini tanggung jawab saya beranak pinak menjadi seluruh keberlangsungan hidup dan kegiatan tim yang akan berangkat besok. Gimana saya nggak panik?

***

Kadang saya bingung mengapa saya masih mau melanjutkan partisipasi saya di Gerakan UI Mengajar. Satu, melelahkan. Dua, saya gak bisa (atau gak biasa) ngajar anak SD (belum mencoba secara intens, lebih tepatnya). Tiga, saya juga buka pecinta anak-anak. Saya lebih suka bayi, yang masih bisa digendong dan pasrah kalau dicubit-cubit atau diuwel-uwel. Hehe.

Tapi setiap kali pertanyaan itu muncul, saya selalu teringat apa yang saya alami di Januari 2014, kali pertama saya akhirnya paham mengapa banyak orang yang tidak bisa move on dari kegiatan ini. Rasanya selama sebulan saya hanya dialiri energi positif dari warga desa dan anak-anak yang sangat menyenangkan. Plus, tim yang juga sangat menyenangkan. Sejak itu, saya bertekad bahwa niat baik harus selalu dilanjutkan dan diberi ruang untuk berkembang.

Dan ternyata, Januari 2015 lah yang membawa saya ke Januari 2016. Sudah setahun, loh.

***

Iya, sekarang saya panik dan deg-degan.

Tapi deg-degan dan panik versi saya beda. Kalau toh menyenangkan, ngapain diambil pusing? Hehe.

***

Semoga Januari ini berkah (lagi), ya.

December 31, 2015

2015

Merangkum tahun yang akan berlalu merupakan sebuah ritual wajib sejak 2010 di blog ini. Saya memang suka menuliskan refleksi dari apa yang saya lalui selama setahun ke belakang. Tapi saya bukan tipikal orang yang menuliskan resolusinya untuk tahun depan. Saya—dengan jiwa kebebasan saya—berpikir bahwa resolusi itu omong kosong, bahwa hidup seharusnya bebas, bahwa target hanyalah kekangan yang membuat hidup tidak asyik. Biasanya saya hanya akan berdoa jika tahun depan akan lebih menyenangkan dari tahun sebelumnya. Biasanya hal itu terjadi, setiap tahun  hidup saya selalu makin menyenangkan. 

Hingga pada akhir 2014 lalu, saya merasa hidup kurang ‘greget’. Saya mau sesuatu yang menyenangkan lagi (iya, memang manusia tidak pernah puas, selalu minta lebih). Karena merasa di tahun 2014 saya sangat sedikit membaca buku dan berpergian, akhirnya saya memasang resolusi yang masih sangat sederhana untuk tahun 2015; read more, travel more. Saya mau hidup lebih progresif.

Menginjak penghujung tahun, saya cukup bangga dengan diri sendiri. Saya berhasil membaca 14 buku fiksi dan non-fiksi (meski melenceng dari target 24 buku dalam setahun), berpergian lebih sering dan telah mengunjungi 5 kota berbeda di luar Jawa Barat dan Pulau Jawa selama satu tahun terakhir, menonton lebih banyak film bagus, dan kembali bergabung dengan Gerakan UI Mengajar. Secara umum, saya merasa resolusi tahun 2015 cukup tercapai.

2015 adalah tahun yang lucu karena dalam beberapa kesempatan, saya berhasil menekan habis ego saya untuk melakukan hal yang tidak saya sukai sebelumnya. 

Pertama kalinya dalam hidup, saya punya teman sekamar. Dulu saya sangat anti dengan ngekos berdua karena berpikir hal ini dapat mengurangi kebebasan dan ruang privasi saya, dan sebenarnya saya malas cari orang yang bisa toleransi dengan ketidakacuhan saya kalau kamar sedang berantakan. Hehe. Untungnya, teman sekamar saya, Luna, adalah orang yang sifatnya sama seperti saya, jadi saya bisa menjalani hidup satu kosan dengan damai.  Ternyata ngekos berdua enak juga, bisa pinjem barang, bisa minta makanan, dan ada yang membangunkan juga kalau saat ketiduran saat nugas atau kesiangan bangun saat mau kuliah. Hehe.

Selain itu, akhir November lalu saya berhasil menjuarai sebuah kompetisi ilmiah di Fakultas tempat saya kuliah. Saya dapat juara 2 dalam bidang PKM Kewirausahaan. Buat saya, ini hal lucu karena saya sangat tidak suka membuat PKM dan tidak suka dunia kewirausahaan. Tapi mungkin semesta ingin mengajarkan kalau menutup diri dari segala sesuatu yang tidak kita sukai itu tidak baik. Salah seorang teman saya bilang, “mungkin di dunia ini banyak hal yang lu benci ternyata baik buat elu”.

2015 juga sebuah tahun yang penuh cinta. Ewwwwh. Beberapa teman dekat saya sudah ada yang tunangan, menikah dan sedang menunggu kelahiran anaknya. Lalu bagaimana dengan saya?

Tahun ini, ada seseorang yang membawa warna baru dan memberikan banyak pelajaran bagi diri saya. Orang yang saat itu memberikan kenyamanan dan rasa bahagia. Saya mengutip salah satu tulisan Alain de Botton dalam Essays in Love (buku favorit saya): “Perhaps it is true that we do not really exist until there is someone there to see us existing, we cannot properly speak until there is someone who can understand what we are saying in essence, we are not wholly alive until we are loved.” Dalam beberapa waktu, saya merasa lebih hidup, karena kehadirannya. 

Tapi mungkin itu juga kesalahan terbesar saya tahun ini. Saya terlalu bersandar pada kehadiran orang lain untuk membawakan saya kebahagiaan (terima kasih Olga atas ngobrol singkatnya via Line yang akhirnya membuat saya sadar tentang hal ini). Saya lupa bahwa kebahagiaan sejati datang dari diri sendiri. Padahal, sebelumnya saya pernah menulis “….is what really happen when you rely on someone else to bring you happiness. It’s just hard, because if they leave, so does your happiness”, tapi saya juga yang lupa. Iya, kalau orangnya ada, kita bahagia, kalau orangnya pergi, bahagianya juga pergi.  Emang 5 huruf itu efeknya bahaya, ya. Hehe. 

Intinya….ya saya turut bersuka cita tahun ini karena teman-teman saya bahagia dengan hidupnya bersama pasangannya, dan saya cukup senang karena ternyata saya bisa belajar banyak dari orang yang membuat saya harus merekonstruksi ulang definisi bahagia bersama orang lain bagi diri saya.

Jadi, tahun 2015 merupakan tahun yang cukup aneh. Ajaib. Mungkin kata ini yang paling dekat mendeskripsikan bagaimana tahun 2015 berlangsung bagi saya. Untungnya saya selalu dikelilingi orang-orang yang ajaib juga. Terima kasih untuk kalian yang selalu jadi energi positif buat saya selama ini. :)

Lalu tahun depan mau apa? Yang jelas, saya mau menyelesaikan kewajiban saya yang masih saya emban sampai tahun 2016.  Saya juga mau memasang target yang lebih banyak! Let’s read more than 14 books, travel to more than 5 cities, write more, and go abroad!


December 19, 2015

Bahagia

Bahagia seorang geek itu sederhana. Cukup beri ia waktu untuk memanjakan imajinasi masa kecil, dan kamu sudah bisa melihatnya tertawa atau menangis bahagia. 

Terima kasih JJ Abrams karena tidak merusak keindahan Star Wars! I am a happy, fulfilled, and satisfied geek. 

December 8, 2015





Hujan tidak pernah memilih dimana ia diturunkan,
Karena pada akhirnya mereka akan kembali ke langit yang sama.

Hujan tidak pernah memilih kepada siapa ia memberi penghidupan,
Karena pada akhirnya, semua akan menari karenanya.

Hujan tidak pernah bertanya mengapa ia menjadi bencana,
Dan tidak pernah sesumbar atas dirinya yang kerap menjadi poesi.

Hujan, hanya menyampaikan amanah mendung kepada akar yang merindukannya.







***
Beberapa hari yang lalu, di sebuah grup chat, saya iseng meminta seseorang untuk membuatkan saya puisi,
dan inilah hasilnya.

Puisi ini dibuat oleh Arief Wicaksono, salah satu rekan saya di Gerakan UI Mengajar Angkatan 5.
Terima kasih, Wicak! Saya anggap ini kado awal di bulan Desember. :)

November 11, 2015

Yang Manis

Hari ini manis
Langit biru
Waktu santai
Kopi dingin, manis

Hari ini
Ada yang hilang
Teman ngopi
Teman bicara

Cepatlah pulang