August 31, 2013

Jaket Kuning, Makara Jingga.

3 tahun yang lalu, 6 tahun yang lalu, masih mimpi pakai jaket almamater ini. Persis kemarin, gue sudah menjadi pemilik resmi jaket ini. :)

Yang paling kanan dan kiri,
udah bermimpi  dan berjuang bareng dari 6 tahun lalu.
Chika, manusia ajaib yang nyebelin, tapi
udah 6 tahun kenal tetep aja ga bisa pisah.

Jaket kuning, Makara jingga :)

Oiya, ada yang keliatan beda? Iya, alhamdulillah sekarang gue udah berjilbab. :)

August 29, 2013

Dimana Hati Nurani Saya?

27 Agustus adalah hari ketiga PSAK FISIP UI 2013, atau lebih akrab di telinga dengan istilah ospek fakultas. Di hari ketiga ini seluruh mahasiswa baru (maba) diberi materi simulasi demonstrasi/long march. Masalah yang diangkat adalah tentang korupsi di bagian rektorat universitas. Sebelum long march dimulai, kami para maba diberikan suatu 'stimulus' berupa orasi singkat dari para senior yang sudah melegenda karena selalu berada di garis depan dalam aksi turun ke jalan atau aksi-aksi lainnya yang mengatasnamakan nama mahasiswa dan rakyat marjinal Indonesia. Orasi tersebut diniatkan agar kami, para maba, tergerakkan hatinya, terpanggil jiwanya, terbakar semangatnya, agar suatu saat dapatt bergabung dan melanjutkan perjuangan membela rakyat dalam aksi-aksi yang sewajarnya dilakukan mahasiswa.

Menurut data, saya tercatat sebagai mahasiswi Universitas yang membawa nama negara kita tercinta. Menurut data pula, saya tercatat sebagai salah satu mahasiswi sebuah Fakultas yang mendalami masalah sosial dan politik. Dan menurut opini yang berkembang, jika saya adalah mahasiswi sebuah Fakultas yang mendalami masalah sosial dan politik yang berada di bawah naungan Universitas kebanggaan negeri ini, saya seharusnya menjadi mahasiswa yang kritis, peduli sosial, dan akan tergerak hatinya jika mendengar kata 'penderitaan rakyat'. 

Yang terjadi tadi siang, justru jauh dari opini yang berkembang di atas. Ketika senior itu berorasi singkat di dalam fakultas, nggak ada sedikit pun empati yang hinggap di hati saya. Ketika pekik 'Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia!" diteriakkan, saya diam dan gak ikut mengulang teriakkan itu seperti halnya yang maba lain lakukan. Padahal, yang berorasi di hadapan saya adalah orang yang menurut saya keren. Orang yang punya 'nama' di kalangan mahasiswa kampus. Orang yang menurut saya hebat karena mau meluangkan waktunya untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang butuh jiwa besar dan nyali. Yang ada di pikiran gue siang itu adalah penyangkalan-penyangkalan. Emang yakin kalau hari ini kita teriak anti korupsi, tapi dua puluh tahun kemudian bukan kita yang ada di balik jeruji besi karena tersangkut korupsi?. Buat apa demonstrasi turun ke jalan kalau gue nggak punya niat dan tujuan dalam hati sendiri? Gue nggak mau ikut demonstrasi, jadi gue salah? Jadi gue bisa dibilang ga peduli sama rakyat Indonesia? Jadi gue egois?. Siang itu, saya menjadi orang yang, entah itu, egois, apatis, atau tutup telinga ketika dihadapkan fakta tentang bobroknya negeri ini. Saya pun bertanya dengan diri sendiri, Saya kenapa?

Karena simulasi long march ini wajib untuk maba FISIP, saya pun (saat itu) terpaksa ikut. Saya teringat salah satu perkataan senior yang bilang 'Kalian jadi maba cuma sekali kok. Ikutin aja rangkaian acaranya'. Long march itu capek, panas, keras dan berbagai macam keluhan lainnya kalau kalian melakukan aktivitas luar lapangan di siang bolong dengan massa hampir seribu orang. Tapi siang ini banyak pelajaran yang saya dapat dari hanya satu aktivitas, demonstrasi. Setidaknya berkat siang ini, saya jadi bisa merasakan apa yang dirasakan oleh mereka yang sering terlihat di tv ketika demo. Ada adrenalin dan hype yang keluar ketika kami didorong-dorong untuk terus maju, teriak jargon ini itu, nyanyi lagu-lagu mahasiswa, dan kegiatan-kegiatan lainnya yang biasa dilakukan orang yang sedang berdemonstrasi.

Sampai tulisan ini saya buat, sebenarnya saya masih mempertanyakan hal yang sama seperti siang itu. Saya kenapa? Saya bukan orang yang anti terhadap aksi demokrasi. Malah ketika SMA dulu, kadang saya menunggu kapan giliran saya berdiri di barisan mahasiswa untuk 'meneriakkan keadilan'. Tapi, siang itu, ketika diberikan gambaran nyata di hadapan saya sendiri, saya justru merasa this is not my thing.

Tapi, setidaknya sekarang saya tahu apa yang dulu para mahasiswa perjuangkan tahun 1998 lalu. Ketika mengeluarkan pendapat adalah hal yang mahal, bahkan seharga dengan nyawa sendiri. Sekarang, berpendapat sudah bebas. Jadi ya apapun itu namanya, demonstrasi, aksi turun ke jalan, long march --asal tidak rusuh, adalah bentuk rasa syukur karena berpendapat tidak lagi harus mengorbankan nyawa. Namun tetap, saya masih belum tergerak untuk ikut aksi semacam itu.

Saya ingin Indonesia lebih maju dan hebat. Jujur, saya tidak pernah skeptis dan menganggap negeri ini akan selamanya seperti ini. Tapi demonstrasi, atau apapun itu namanya, is not my thing. Seperti yang senior pernah bilang, aksi itu bukan cuma demonstrasi, tapi banyak hal lain yang bisa kita lakukan untuk buat bangsa ini maju. Dan ya, teriak lantang di hadapan ratusan atau ribuan orang mungkin bukan cara saya untuk meneriakkan keadilan. Saya pun belum memutuskan cara mana yang akan saya pilih dan jalani. Satu hal, saya ingin bangsa ini lebih baik dan saya ingin menjadi salah satu dari jutaan yang berjuang agar kalimat ini tercapai, apapun jalan yang saya ambil. Saya pun berharap sikap apatis dan egois saya juga hanya muncul di siang itu. I do care and I do want to participate.

Selamat malam! :)



Gue lagi kampret. Sejak kapan hal-hal macam ginian masuk ke blog ini? 



August 24, 2013






The sad part of not telling a skipped story you forgot to tell to someone you used to see everyday, is the time when you realize you can't see that person everyday, like used to be.




dan yang bikin nyiksa, waktu sadar gue harus cerita, eh keinget kalau udah sibuk sama dunia masing-masing.





 

August 23, 2013

Homey!

Hari ini akhirnya pulang lagi ke rumah setelah berminggu-minggu di kosan dan belum pulang. Emang sepele, karena rute kampus-rumah itu cuma Depok-Bogor. Tapi tetep aja, hidup di kosan sama di rumah ya beda. Apalagi gue masih dalam masa 'percobaan' hidup di dunia kosan.

Gue bisa dibilang beruntung karena sepanjang Barel, nama daerah kosan gue, banyak anak Smanti yang juga ngekos di sana. Tapi karena beda fakultas, kesibukan ngurusin ospek kita juga beda. Dan ini yang justru bikin nyiksa. Gue masih bingung ketika lagi ga ada kerjaan, sendirian di kosan, dan orang lain lagi sibuk ngerjain tugas mereka jadi ga bisa diajak main. Mati gaya. Seriusan. Hal ini yang paling bikin gue kangen sama manusia-manusia ajaib yang biasa gue temuin setiap hari.

Tapi, hari ini gue merasa ter-refresh-kan kembali karena pertama, gue pulang ke rumah. Kedua, waktu lagi nunggu kereta sekitar jam 9 di stasiun UI tadi, gue ketemu Adit sama Eca yang abis main ke kosan Tata dan Sekar. Gue kapan disamperin gitu ya sama pac...... Ah sudahlah. Habis itu, karena kita ngobrol dulu di stasiun, kita malah baru berangkat hampir jam 10an. Karena udah malem, gue minta Danang jemput dan minta anter sampe jalan baru. Tapi, karena ya... you know lah kawan lama bertemu, gue akhirnya nemenin Danang, Adit, Sengew dulu ngobrol sebarok hahahah. Mentang-mentang mahasiswa baru semua, obrolan pun ga jauh dari gue dan kehidupan awal kosan gue, juga mereka bertiga dengan kehidupan asrama di IPB.

Dan akhirnya, kita baru pada cabut jam 11 malam. Karena sudah sangat malam, akhirnya gue minta Danang nganterin gue sampe rumah. Dasar emang pembalap ye, stasiun bogor ke rumah cuma makan waktu 18 menit. Abis itu saat gue baru cuci kaki, cuci muka, sikat gigi, pipis dan segala aktivitas di kamar mandi, doi udah sampai rumah lagi di Ciomas dengan selamat. Cuma karena habis begadang ngerjain tugas, naik kereta yang walaupun udah jam 10 tapi penuhnya masih ga manusiawi, terus dihajar angin malam di motor yang ngebut, malem ini kayaknya gue masuk angin gitu.

Jadi intinya, 2 minggu sejak memulai kehidupan dan kegiatan mahasiswa baru, gue masih belum bisa move-on dari Bogor. Pengennya masih main ke sekret terus, atau ketemu anak-anak Smanti, atau ada aja alasan buat main ke Bogor. Ya baru 2 minggu, belom kebiasa aja. Semoga ntar jadi anak gaul Depok deh. #eh.

Semangat ya gue dan teman-teman buat kuliahnyaaa! :D


August 16, 2013

Scrapbook, Rompi, Handband

Ini yang sedang gue, dan hampir 1000 mahasiswa baru FISIP UI lainnya, perjuangkan untuk diselesaikan.



Semangat ya FISIP UI 2013 buat PSAFnya! We can make it through! 

August 12, 2013

New Room

Hallo kamar (kos) baru! 6 bulan ya kita bareng, selebihnya ya... gimana nanti aja oke.
:)


August 10, 2013

A City Called Bandung

Bandung. Udah sering banget kota ini masuk dalam postingan blog gue. Bahkan punya label sendiri di blog ini. Ga heran, seperti yang pernah gue sebutin sebelumnya, kota ini bukan sekedar kota biasa buat gue. Bandung adalah kota di mana gue lahir hampir 18 tahun yang lalu. Lebih dari itu, kenangan di kota ini banyak banget. Ga usah disebutin ya, namanya juga kenangan, masa lalu. Hahahaha. Dan yang selalu bikin gue cinta sama kota ini adalah suasananya. Suasana Bandung selalu bikin gue kangen untuk main ke sini. Gedung-gedungnya, jalanannya, taman kotanya, suasana malamnya apa lagi. Walaupun udah ga sedingin dulu, sejuknya kota ini selalu bawa ketenangan buat gue. 

Hari ini adalah hari terakhir liburan mudik gue tahun ini, sebelum besok gue pulang dan pindahan ke kosan lalu memulai kegiatan ospek dan teman-temannya. Karena dari kemarin belum kemana-mana, akhirnya gue putuskan sore tadi untuk keliling Bandung, sendiri. Jalan-jalan sore ini membuat gue teringat sesuatu. Ketika lagi asik ngeliatin jalanan Merdeka, tiba-tiba gue senyum-senyum sendiri. Senyum-senyum sendiri karena gue ingat kalau tahun lalu, sampai bulan Agustus 2012, gue masih ngotot untuk kuliah dan tinggal di kota ini. Tahun lalu, gue masih ngehayal jadi mahasiswi Komunikasi di Universitas Padjadjaran, tinggal di rumah nenek gue, dan bebas main keliling Bandung. Iya, tapi itu 2012, sebelum 2 bulan kemudian gue memutuskan untuk milih jurusan Kriminologi yang hanya ada di satu Universitas di Indonesia. Rejeki yang Allah kasih ke gue justru jauh dari kota Bandung. Tahun ini pun status gue udah diterima sebagai mahasiswi jurusan Kriminologi di Universitas Indonesia, Depok. 

Kota ini selalu gue anggap rumah gue karena di sinilah gue lahir. Tapi hari ini, gue ngerasa aneh sama kota ini. Gue ngerasa sendirian. Jalan-jalan sendirian keliling di sini bukan kali pertama buat gue, bahkan sering. Tapi kali ini gue bener-bener ngerasa sendirian. Mungkin efek dari tahun ini lebaran tersepi karena ini tahun pertama lebaran tanpa nenek gue, jadi saudara-saudara gue bakalan dateng di akhir liburan, ketika gue udah balik lagi ke Bogor. Tapi nggak cuma itu, orang ajaib yang biasanya selalu menemani gue kemana pun dan hapal mati sama jalanan Bandung, Dio, tahun ini lulus kuliah dan bakalan sibuk. Gue ditinggal satu orang lagi. Dan kalau di Bogor terbiasa jalan kemana-mana ramean bareng biadabers, gue ngerasa sepi hari ini jalan sendirian. Untuk pertama kali, gue ga betah di Bandung. Gue kangen Bogor. Gue mau pulang. Walaupun begitu, gue juga masih kangen liburan di sini, masih pengen nikmatin suasana di sini.

Sampailah gue pada satu kesimpulan. Gue cinta Bandung, tapi secinta-cintanya gue sama kota ini, ada satu yang bikin kurang. My friends, family, and other whole life are in Bogor and soon will be moving to Depok. Coba kalau sekarang gue beneran kuliah di Bandung, mungkin hari ini bukan hari terakhir libur lebaran gue di sini. Mungkin sekarang gue lagi ngga ribet packing ini itu ke kosan karena di sini semua barang gue udah ada. Mungkin lamunan gue sore tadi ga bakal ada. 

Jadi, kota yang sangat indah ini akan selalu jadi rumah gue. Tapi bukan di sini gue akan tinggal sekarang. Gue punya kehidupan di kota lain. Dan sebagaimana kota ini gue anggap rumah, gue masih nyimpen keinginan untuk tinggal di kota ini, nanti. Makanya, gue berharap Bandung ga akan jadi kota se-metropolis Jakarta, walaupun macet di mana-mananya udah hampir nyamain. I love this city and always will. I had my story here and want to make another one someday. Tetaplah menjadi kota yang menyenangkan ya. :)



August 7, 2013

Selamat 21 Tahun Teteh Behel!

5 Agustus yang lalu, Mba Gege ulang tahun ke 21. Rasanya ngasih surprise ke Mba Gege setiap doi ulang tahun itu udah jadi tradisi. Tahun lalu, kita nyatronin rumah nenek pake topeng gocengan yang dijual di abang-abang yang suka lewat. Saking tiap tahunnya bikin surprise, tahun ini kita bingung mau ngapain, bawa apa, dan ngadoin apa. Setelah obrolan di grup chat yang selalu out of topic, akhirnya kita memutuskan untuk bawa balon yang diisi air + teh sisri + pop ice, bikin topeng pake muka Acid, dan ternyata Ka Puti bikinin pudding dan brownies coklat buat sesajen.

The birthday girl.

Pake topeng muka Acid, sang kekasih nun jauh di sana.


us :*

Sekali lagi selamat ulang tahun yang ke 21 Mba Gege! Langgeng terus sama Acid dan tercapai impian jadi aviation pshyciatrist-nya! Semoga akan ada ulang tahun - ulang tahun berikutnya dimana kita bisa kumpul bareng! Love yaaa! :*

Seminggu yang Terlewat

Sudah seminggu ga posting apa-apa. Menikmati liburan puasa sih alesannya mah. Kali ini, gue mau posting foto-foto yang terlewat, yang mestinya gue post di minggu-minggu kemarin. Cekidot!

Bukber MP 3 di Rumah Almer (20 Juli 2013)


SOTR Alumni Smanti '11 '13 (30-31 Juli 2013)






Kayak SOTR tahun lalu, sama Danang (lagi)



Bukber MP Cabang Bogor di Univ. Pakuan (1 Agustus 2013)



Bukber Alumni OSIS-MPK angkatan gue (3 Agustus 2013)





Tahun ini emang acara bernuansa puasa ga serame tahun lalu, tapi tahun ini tetap berkesan karena bukber dan lain-lainnya bersama orang terdekat. Terima kasih kalian semuaaaa! Love y'all!