August 10, 2013

A City Called Bandung

Bandung. Udah sering banget kota ini masuk dalam postingan blog gue. Bahkan punya label sendiri di blog ini. Ga heran, seperti yang pernah gue sebutin sebelumnya, kota ini bukan sekedar kota biasa buat gue. Bandung adalah kota di mana gue lahir hampir 18 tahun yang lalu. Lebih dari itu, kenangan di kota ini banyak banget. Ga usah disebutin ya, namanya juga kenangan, masa lalu. Hahahaha. Dan yang selalu bikin gue cinta sama kota ini adalah suasananya. Suasana Bandung selalu bikin gue kangen untuk main ke sini. Gedung-gedungnya, jalanannya, taman kotanya, suasana malamnya apa lagi. Walaupun udah ga sedingin dulu, sejuknya kota ini selalu bawa ketenangan buat gue. 

Hari ini adalah hari terakhir liburan mudik gue tahun ini, sebelum besok gue pulang dan pindahan ke kosan lalu memulai kegiatan ospek dan teman-temannya. Karena dari kemarin belum kemana-mana, akhirnya gue putuskan sore tadi untuk keliling Bandung, sendiri. Jalan-jalan sore ini membuat gue teringat sesuatu. Ketika lagi asik ngeliatin jalanan Merdeka, tiba-tiba gue senyum-senyum sendiri. Senyum-senyum sendiri karena gue ingat kalau tahun lalu, sampai bulan Agustus 2012, gue masih ngotot untuk kuliah dan tinggal di kota ini. Tahun lalu, gue masih ngehayal jadi mahasiswi Komunikasi di Universitas Padjadjaran, tinggal di rumah nenek gue, dan bebas main keliling Bandung. Iya, tapi itu 2012, sebelum 2 bulan kemudian gue memutuskan untuk milih jurusan Kriminologi yang hanya ada di satu Universitas di Indonesia. Rejeki yang Allah kasih ke gue justru jauh dari kota Bandung. Tahun ini pun status gue udah diterima sebagai mahasiswi jurusan Kriminologi di Universitas Indonesia, Depok. 

Kota ini selalu gue anggap rumah gue karena di sinilah gue lahir. Tapi hari ini, gue ngerasa aneh sama kota ini. Gue ngerasa sendirian. Jalan-jalan sendirian keliling di sini bukan kali pertama buat gue, bahkan sering. Tapi kali ini gue bener-bener ngerasa sendirian. Mungkin efek dari tahun ini lebaran tersepi karena ini tahun pertama lebaran tanpa nenek gue, jadi saudara-saudara gue bakalan dateng di akhir liburan, ketika gue udah balik lagi ke Bogor. Tapi nggak cuma itu, orang ajaib yang biasanya selalu menemani gue kemana pun dan hapal mati sama jalanan Bandung, Dio, tahun ini lulus kuliah dan bakalan sibuk. Gue ditinggal satu orang lagi. Dan kalau di Bogor terbiasa jalan kemana-mana ramean bareng biadabers, gue ngerasa sepi hari ini jalan sendirian. Untuk pertama kali, gue ga betah di Bandung. Gue kangen Bogor. Gue mau pulang. Walaupun begitu, gue juga masih kangen liburan di sini, masih pengen nikmatin suasana di sini.

Sampailah gue pada satu kesimpulan. Gue cinta Bandung, tapi secinta-cintanya gue sama kota ini, ada satu yang bikin kurang. My friends, family, and other whole life are in Bogor and soon will be moving to Depok. Coba kalau sekarang gue beneran kuliah di Bandung, mungkin hari ini bukan hari terakhir libur lebaran gue di sini. Mungkin sekarang gue lagi ngga ribet packing ini itu ke kosan karena di sini semua barang gue udah ada. Mungkin lamunan gue sore tadi ga bakal ada. 

Jadi, kota yang sangat indah ini akan selalu jadi rumah gue. Tapi bukan di sini gue akan tinggal sekarang. Gue punya kehidupan di kota lain. Dan sebagaimana kota ini gue anggap rumah, gue masih nyimpen keinginan untuk tinggal di kota ini, nanti. Makanya, gue berharap Bandung ga akan jadi kota se-metropolis Jakarta, walaupun macet di mana-mananya udah hampir nyamain. I love this city and always will. I had my story here and want to make another one someday. Tetaplah menjadi kota yang menyenangkan ya. :)



No comments:

Post a Comment