August 29, 2013

Dimana Hati Nurani Saya?

27 Agustus adalah hari ketiga PSAK FISIP UI 2013, atau lebih akrab di telinga dengan istilah ospek fakultas. Di hari ketiga ini seluruh mahasiswa baru (maba) diberi materi simulasi demonstrasi/long march. Masalah yang diangkat adalah tentang korupsi di bagian rektorat universitas. Sebelum long march dimulai, kami para maba diberikan suatu 'stimulus' berupa orasi singkat dari para senior yang sudah melegenda karena selalu berada di garis depan dalam aksi turun ke jalan atau aksi-aksi lainnya yang mengatasnamakan nama mahasiswa dan rakyat marjinal Indonesia. Orasi tersebut diniatkan agar kami, para maba, tergerakkan hatinya, terpanggil jiwanya, terbakar semangatnya, agar suatu saat dapatt bergabung dan melanjutkan perjuangan membela rakyat dalam aksi-aksi yang sewajarnya dilakukan mahasiswa.

Menurut data, saya tercatat sebagai mahasiswi Universitas yang membawa nama negara kita tercinta. Menurut data pula, saya tercatat sebagai salah satu mahasiswi sebuah Fakultas yang mendalami masalah sosial dan politik. Dan menurut opini yang berkembang, jika saya adalah mahasiswi sebuah Fakultas yang mendalami masalah sosial dan politik yang berada di bawah naungan Universitas kebanggaan negeri ini, saya seharusnya menjadi mahasiswa yang kritis, peduli sosial, dan akan tergerak hatinya jika mendengar kata 'penderitaan rakyat'. 

Yang terjadi tadi siang, justru jauh dari opini yang berkembang di atas. Ketika senior itu berorasi singkat di dalam fakultas, nggak ada sedikit pun empati yang hinggap di hati saya. Ketika pekik 'Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia!" diteriakkan, saya diam dan gak ikut mengulang teriakkan itu seperti halnya yang maba lain lakukan. Padahal, yang berorasi di hadapan saya adalah orang yang menurut saya keren. Orang yang punya 'nama' di kalangan mahasiswa kampus. Orang yang menurut saya hebat karena mau meluangkan waktunya untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang butuh jiwa besar dan nyali. Yang ada di pikiran gue siang itu adalah penyangkalan-penyangkalan. Emang yakin kalau hari ini kita teriak anti korupsi, tapi dua puluh tahun kemudian bukan kita yang ada di balik jeruji besi karena tersangkut korupsi?. Buat apa demonstrasi turun ke jalan kalau gue nggak punya niat dan tujuan dalam hati sendiri? Gue nggak mau ikut demonstrasi, jadi gue salah? Jadi gue bisa dibilang ga peduli sama rakyat Indonesia? Jadi gue egois?. Siang itu, saya menjadi orang yang, entah itu, egois, apatis, atau tutup telinga ketika dihadapkan fakta tentang bobroknya negeri ini. Saya pun bertanya dengan diri sendiri, Saya kenapa?

Karena simulasi long march ini wajib untuk maba FISIP, saya pun (saat itu) terpaksa ikut. Saya teringat salah satu perkataan senior yang bilang 'Kalian jadi maba cuma sekali kok. Ikutin aja rangkaian acaranya'. Long march itu capek, panas, keras dan berbagai macam keluhan lainnya kalau kalian melakukan aktivitas luar lapangan di siang bolong dengan massa hampir seribu orang. Tapi siang ini banyak pelajaran yang saya dapat dari hanya satu aktivitas, demonstrasi. Setidaknya berkat siang ini, saya jadi bisa merasakan apa yang dirasakan oleh mereka yang sering terlihat di tv ketika demo. Ada adrenalin dan hype yang keluar ketika kami didorong-dorong untuk terus maju, teriak jargon ini itu, nyanyi lagu-lagu mahasiswa, dan kegiatan-kegiatan lainnya yang biasa dilakukan orang yang sedang berdemonstrasi.

Sampai tulisan ini saya buat, sebenarnya saya masih mempertanyakan hal yang sama seperti siang itu. Saya kenapa? Saya bukan orang yang anti terhadap aksi demokrasi. Malah ketika SMA dulu, kadang saya menunggu kapan giliran saya berdiri di barisan mahasiswa untuk 'meneriakkan keadilan'. Tapi, siang itu, ketika diberikan gambaran nyata di hadapan saya sendiri, saya justru merasa this is not my thing.

Tapi, setidaknya sekarang saya tahu apa yang dulu para mahasiswa perjuangkan tahun 1998 lalu. Ketika mengeluarkan pendapat adalah hal yang mahal, bahkan seharga dengan nyawa sendiri. Sekarang, berpendapat sudah bebas. Jadi ya apapun itu namanya, demonstrasi, aksi turun ke jalan, long march --asal tidak rusuh, adalah bentuk rasa syukur karena berpendapat tidak lagi harus mengorbankan nyawa. Namun tetap, saya masih belum tergerak untuk ikut aksi semacam itu.

Saya ingin Indonesia lebih maju dan hebat. Jujur, saya tidak pernah skeptis dan menganggap negeri ini akan selamanya seperti ini. Tapi demonstrasi, atau apapun itu namanya, is not my thing. Seperti yang senior pernah bilang, aksi itu bukan cuma demonstrasi, tapi banyak hal lain yang bisa kita lakukan untuk buat bangsa ini maju. Dan ya, teriak lantang di hadapan ratusan atau ribuan orang mungkin bukan cara saya untuk meneriakkan keadilan. Saya pun belum memutuskan cara mana yang akan saya pilih dan jalani. Satu hal, saya ingin bangsa ini lebih baik dan saya ingin menjadi salah satu dari jutaan yang berjuang agar kalimat ini tercapai, apapun jalan yang saya ambil. Saya pun berharap sikap apatis dan egois saya juga hanya muncul di siang itu. I do care and I do want to participate.

Selamat malam! :)



Gue lagi kampret. Sejak kapan hal-hal macam ginian masuk ke blog ini? 



No comments:

Post a Comment