December 31, 2014

2014

Biasanya gue akan menulis sebuah postingan panjaaaaaaaang lebar tentang apa yang telah gue lalui selama satu tahun. No, I won’t do that this year.

Tahun ini berlalu sangat cepat, bahkan gue lupa dengan apa yang gue lakukan di malam tahun baru 2014. Tahun ini, hidup cukup absurd.

Di tahun 2014, gue dihadapkan dengan banyak potret kehidupan dari yang sangat manis sampai yang sangat pahit, kehilangan orang yang gue sayang, ditinggal pergi lagi seperti 6 tahun lalu, menghadapi semester yang berat di kuliah, hampir kehilangan keyakinan dan kepercayaan, hampir kehilangan diri sendiri, bertemu dengan orang-orang yang selalu gue syukuri kehadirannya, menjadi volunteer, kembali menulis, beberapa kali mengkuti kegiatan sosial, memelihara ikan lagi walaupun akhirnya mati karena makanannya tidak cocok—my bad—dan banyak hal lainnya. Gue tidak harus menyebutkan pelajaran apa yang gue ambil dari setiap peristiwa itu, yang jelas hal-hal itulah yang sudah membawa gue sampai sekarang, di akhir tahun 2014 ini.

Di tahun 2014, gue tidak berpergian ke banyak tempat seperti tahun-tahun sebelumnya. Maybe travelling is an issue, my issue, in this year. Ternyata ini rasanya stuck di tempat yang sama dalam waktu yang tidak sebentar. Penat. Gue berharap tahun depan bisa pergi ke sana-sini lagi karena gue sangat rindu aroma kebebasan dan perjalanan baru.

Love life? Ummmm, mungkin kali ini sama yang dekat-dekat aja kali, ya:)

I've suffered lost and found more than any year in my life so far, in 2014. Gue bersyukur dengan hidup gue di tahun ini, dengan orang-orang yang datang dan pergi, dengan kejadian yang selalu bisa diambil hikmahnya, dengan segala macam hal yang membuat gue semakin kuat dan bahagia. 

Kalau ada satu hal yang harus dicatat dari tahun ini, gue akan bilang tahun ini mengajarkan tentang satu hal yang paling penting dalam hidup; don’t hope or depend too much on people because people will disappoint you, chocolate won't, and in the very end, the only one who can save you is your own self.


Terima kasih untuk kalian yang sudah menjadi badai dan pelangi gue di tahun ini. Semoga tahun 2015 akan lebih epic!

Malam Tahun Baru

Ketika malam tahun baru semua orang dilewatkan dalam sebuah keramaian dan kemeriahan, malam tahun baru a la gue adalah nongkrong di sebuah kedai kaki lima paling terkenal di pinggiran kota Bogor, dengan pengunjung yang tidak terlalu ramai karena pusat keramaian sudah beralih ke tempat hiburan.

Sempurna malam ini adalah menikmati secangkir susu panas, makan mie rebus telur kornet, sambil ngobrol berkualitas dan seru yang jarang sekali didapatkan akhir-akhir ini.

Terima kasih Fadil sudah mengantarkan manusia yang satu ini belanja dan bersedia mendengarkan semua ceritanya! You made my last evening on 2014. :)

Bandara

Tangerang, 28 Desember 2008.

Dear,

Saya marah sekali ketika tahu kamu pergi tiba-tiba. Tapi saya bisa apa? Mau menjerit hingga habis nafas pun kamu akan tetap pergi meninggalkan tanah ini. Saya cuma bisa sedikit lega ketika Bandara agak sepi pagi ini, jadi saya tak usah malu jika ingin menangis. Toh, Bandara pun sudah terbiasa dengan momentum pertemuan dan perpisahan.

-----

Tangerang, 31 Desember 2014

Dear,

Saya tidak pernah terlalu baik dalam menghadapi perpisahan. Perasaan sedih dan pasrah terkadang menjadi terlalu bias sehingga saya bingung harus menangis atau tidak, harus memeluk atau tidak, harus mengucapkan selamat tinggal atau tidak. Pada akhirnya saya hanya akan diam, berharap orang yang akan pergi di hadapan saya mendapatkan apa yang terbaik bagi dirinya.

6 tahun yang lalu, seseorang mengajarkan saya rasa dan arti perpisahan. Kala itu, saya masih terlalu kecil untuk mengerti. Hingga akhirnya sekarang, saya paham bahwa manusia memang selalu akan datang dan pergi, dikehendaki ataupun tidak.

Hari ini rasanya seperti deja vu, ketika saya harus kembali lagi ke tempat ini untuk hal yang sama. Saya harus kembali mengalami perpisahan di tempat yang sama, di waktu yang hampir sama, dan lucunya, dengan orang yang sama pula.

Hari ini saya memilih untuk memelukmu, erat, karena saya tidak tahu kapan akan melihatmu lagi. Hari ini saya memilih untuk mendoakanmu, agar nanti di tempat barumu, semua hal bisa berjalan seperti yang diharapkan. Hari ini saya memilih untuk mengucapkan selamat tinggal, untuk kita, untuk cerita kita selama 6 tahun ke belakang, untuk kehidupan lama yang terus membelenggu.

Hari ini kita mengakhiri dan memulai, di penghujung tahun. Desember adalah bulan kita.

"I wonder when that day will come, when we step our path of our own. Once it has come, I have a feeling it will be in a split second. 
Mario
-Melbourne, September 2011."

December 30, 2014

Postingan untuk Kamu, B.

Malam ini gue sedang terbaring sakit dan tidak bisa tidur, mungkin dosis obatnya belum bekerja. Jadi, gue bingung harus berbuat apa dan pada akhirnya melakukan aktivitas yang terkadang gue lakukan kalau lagi gabut; scrolling blog sampai postingan paling pertama.

Satu hal yang gue sadari: gue tumbuh bersama blog ini. Gue hidup bersama blog ini.

Gue menceritakan banyak sekali cerita mulai dari hal penting yang merubah hidup sampai hal ter-nggak-penting seperti pipis di kamar mandi. Gue posting banyak sekali quotes yang gue sukai. Gue post banyak  lagu yang menjadi favorit gue. Gue menceritakan teman-teman kesayangan gue. Dan tahu? Setelah gue scroll sampai akhir, hanya ada 3 orang yang sangat spesial yang pernah gue ceritakan di blog ini; 1 pernah ada di hampir semua tulisan blog ini baik tersirat ataupun eksplisit hampir setahun lamanya, 1 hanya numpang lewat walaupun sangat berkesan, dan 1 lagi.... sudah ada bahkan sebelum blog ini ada, dan masih ada dalam tulisan di blog ini sampai sekarang, sampai ketika akan pergi.

Lewat halaman-halaman dalam blog ini juga ternyata gue banyak menuliskan harapan - harapan dalam hidup. 

Bulan April 2010, gue menuliskan harapan untuk menjadi siswi di SMA Negeri 3 Bogor. Sebulan kemudian di bulan Mei 2010, gue menuliskan rasa gembira dan syukur karena telah diterima sebagai siswi sekolah impian kala itu.

Bulan September 2011, gue menuliskan harapan untuk menjadi mahasiswi Universitas Indonesia. 2 tahun kemudian di bulan Mei 2013, gue menuliskan ucapan syukur karena telah diterima menjadi mahasiswi di kampus impian.

Bulan Oktober 2011, gue menuliskan harapan tentang masa SMA yang semoga menyenangkan dan tidak terlupakan. 2 tahun kemudian di bulan Juni 2013, gue menuliskan kegembiraan saat perayaan kelulusan SMA, disertai rasa bangga dan syukur yang amat tinggi setelah melalui 3 tahun bersama orang-orang hebat yang sangat menyenangkan.

Bulan Januari 2013, gue menuliskan harapan diterima di jalur SNMPTN Undangan sebagai mahasiswa Kriminologi UI. Juni 2013, gue menuliskan hasil pengumuman dari web SNMPTN jika gue diterima menjadi mahasiswa di jurusan hitam, makara jingga, kampus kuning itu.

Bulan Desember 2010, pertama kali menuliskan postingan selamat ulang tahun di tanggal 21 Desember, ketika itu usia gue masih 15 tahun. 4 tahun kemudian, di tanggal 21 Desember 2014, gue masih melakukan ritual yang sama, dan sekarang usia gue sudah menginjak 19 tahun. Iya, dari masih jadi anak ingusan sampai seorang yang mencoba untuk menjadi dewasa. 

Masih banyak cerita lain seperti penantian gue menunggu album John Mayer yang baru saat itu, tetang ujian di sekolah yang tak kunjung selesai, tentang tempat makan yang sangat enak, tentang makanan yang membuat sakit perut, tentang telepon tengah malam yang memakan pulsa hingga puluhan ribu, tentang chat di pagi buta bersama seseorang di benua yang berbeda, tentang pertandingan sepak bola nasional yang menggugah nasionalisme, tentang kesedihan atas pensiunnya Sir Alex Ferguson dari kursi kepelatihan MU, tentang film yang kehadirannya di layar lebar sangat ditunggu, dan lain-lain.

Iya, itu penggalan-penggalan cerita dan harapan yang pernah gue tulis dalam blog ini. 

Percayalah, saat ini gue sangat terharu ketika membaca tiap harapan dalam blog ini yang satu per satu terwujud. 



--
Blog ini, seperti sebuah memoir. Selain dirinya sendiri, mungkin dia yang paling tahu rekam jejak pemiliknya. Seperti yang tertulis di bawah judul blog, "Life ain't a fairy tale. It's a documentary.", blog ini adalah dokumentasi hidup pemiliknya.

5 tahun bersama, belum ada postingan khusus untuk blog ini. 

Ini, postingan ini, spesial untuk kamu, ruang maya tempat pemiliknya menuangkan halaman demi halaman tentang dirinya, dan apa yang terjadi dalam hidupnya. 

Tetaplah menjadi ruang yang selalu 'mendengar' dan 'berbicara'. :)









December 23, 2014

Garis Perbedaan

Bhinneka Tungga Ika.


Sebuah filosofi indah milik bangsa ini yang dalam buku teks pelajaran berarti “berbeda-beda namun tetap satu jua”. Sejak kecil, anak-anak negeri ini telah ditanamkan untuk hidup tenteram dalam perbedaan. Lewat pendidikan formal maupun informal, budaya toleransi sudah ditanamkan sejak dini. Anak kecil akan bersedia bermain dan berteman dengan siapa saja. Sebuah ketulusan alami yang tidak akan ada di masa-masa setelahnya.

Mungkin karena faktor sosialisasi yang semakin berkembang, kehidupan seorang yang semakin tumbuh dewasa akan ditemboki dengan pakem-pakem kehidupan. Hal yang membuat garis perbedaan semakin ketara; miskin, kaya, Islam, Kristen, Katolik, Buddha, Hindu, Kong Hu Chu, agnostik, atheis, Cina, Pribumi, liberalis, komunis, kapitalis, Golongan Kiri, Golongan Kanan, homoseksual, heteroseksual, pemerintah, oposisi.

Hidup di negara kepulauan ini berarti hidup dalam keberagaman yang sangat kental. Sayangnya dan herannya, masih banyak yang menganggap berbeda adalah salah. Padahal, kebenaran sifatnya sangat kontekstual. Bahkan dalam studi Kriminologi yang gue pelajari, ada kejahatan yang ditimbulkan oleh rasa benci yang salah satu akarnya adalah perbedaan; hate crime.

Maka pertanyaan yang muncul adalah:
Agama, kepercayaan, orientasi seksual, afiliasi politik. Kalau berbeda dengan kebanyakan penganut, memang masalah?
Mengapa harus mengikuti arus utama ketika hal itu tidak lebih baik?

Kalau perbedaan adalah sebuah dosa, maka yang gue yakini sebagai pendosa terbesar di dunia ini adalah mereka yang mengatasnamakan masyarakat lalu menciptakan jurang pembeda.

Gue berteman dengan seorang atheis yang bahkan tingkah lakunya lebih mulia dibandingkan mereka yang memakai atribut simbolik agama lalu ikut-ikutan korupsi. Gue berteman dengan seorang homoseks yang justru memiliki sifat lebih penyayang dibandingkan mereka yang mengaku cintanya diridhai oleh landasan agama. Gue juga berteman dengan seseorang yang bekerja dalam garis kerja pemerintahan, yang masih punya niat mulia untuk membangun lingkungan di sekitarnya tanpa harus memalsukan apapun. Mereka semua, yang dicap ‘berbeda’, toh menjalankan fungsinya dalam masyarakat dengan sangat baik.

Terkadang sedih kalau orang dicap berbeda dengan alasan 'Kan kodrat manusia tidak seperti itu.'

Katanya kodrat manusia adalah menjadi A dan B, dengan begitu C adalah berbeda, dengan begitu C adalah salah. Gue tidak percaya dengan kodrat, yang ada hanyalah konstruksi sosial. Kalau kodrat menjadi patokan mati seseorang melakukan aktivitas, maka seorang suami yang tidak bisa menafkahi istri dan anaknya sudah seharusnya dipermalukan di hadapan masyarakat, toh katanya kodrat suami adalah sebagai tulang punggung keluarga. Kalau kodrat menjadi tuntunan dan tuntutan, maka seorang perempuan yang tidak bisa memasak patut dikucilkan karena katanya kodrat seorang perempuan adalah melakukan pekerjaan rumah.  Masih percaya kodrat? Gue nggak. Satu-satunya kodrat yang gue percayai adalah kodrat perempuan untuk hamil dan melahirkan karena sifat biologisnya yang tidak bisa digantikan.

Tulisan ini mungkin adalah pandangan subjektif seorang yang tidak suka dengan fanatisme dan membenci tendensi berlebih. Namun satu hal yang diyakini adalah bahwa dunia tidak sesederhana hitam dan putih. Ada jingga, merah, kuning, biru. Bahkan ada zona abu-abu yang terkadang menjadi sangat gelap.

Semoga perbedaan selalu diiringi dengan keharmonisan dan perdamaian, ya. 


December 22, 2014

A Surprise

SMS ini dibuka di tengah-tengah persiapan pulang
dari pelatihan fisik kemarin.

Mungkin ini satu-satunya kejutan yang gue dapatkan di tanggal 21, tahun ini. I don't really celebrate my birthday and as well doesn't make it a sacred day. Tapi gue selalu senang ketika ada orang yang ingat, apalagi orang yang tidak diduga-duga.

I am both flattered and surprised ketika manusia satu ini memberikan ucapan ulang tahun lewat SMS karena terakhir bertemu dia sekitar satu setengah tahun yang lalu. Satu hal yang cukup membuat gue terkejut, nomor gue masih disimpan dalam contact list-nya.

This post is a thank-you-post for you, sweet guy with a great taste of book and movie. Semoga suatu saat kita bisa ketemu, ngopi-ngopi sambil ngobrol asik bareng lagi ya, Satrio Wibowo. Many best regards for you. :)


21-12-14





Happy 19th!


Do not forget it's a countdown to a year before real life put me in.


Semoga semua resolusi sebelum usia 20 tahun terlaksana dengan baik ya! :)






December 19, 2014

Via Phone



Sedang menikmati salah satu kenikmatan dan kemudahan yang dapat diberikan oleh kemutakhiran teknologi: blogging via smart phone.


Enjoy! :)







December 16, 2014

A goodbye.

I wait too long

just to see my self

suffering more than pain

I hold too tight

just to see those memories

fading into pitch black

I found love too early

just to see that thing

is never real

I close my heart from outside world

just to see

that he is not permanent

This is a broken heart note

Written by a girl

who once loved too much

By a man who loved her back

This is a goodbye

for him and his new world

This is me against my world.




6 years we've been writing in the same book and so many chapter. This is the time we start a blank page, of our own.

Memori

Epic legend bromance Smanti, tak terpisahkan sejak SMP sampai kuliah.
hahaha



Hampir dua tahun yang lalu video ini dibuat oleh gue, Nina, Meges dan Ridho. Ide pembuatan video ini juga sangat mendadak, hanya sekitar dua bulan sebelum kami semua lulus SMA. Dari ke-serba-mendadak-an, gue cukup bersyukur karena bisa menciptakan tren video akhir tahun, apapun formatnya, ke angkatan-angkatan setelah gue.

Ada perasaan yang campur aduk setiap kali menonton video ini. Kangen, pasti. Pengen ngulang masa itu? Iya banget. Yang jelas, setiap kali gue nonton video ini, gue senang. Senang karena gue punya memori SMA yang sangat menyenangkan., yang selalu bisa gue banggakan.

Mungkin ini yang orang sering bilang dengan ‘rasanya baru kemarin’. Iya, rasanya baru kemarin masih pakai seragam SMA. Rasanya baru kemarin setiap hari senin harus upacara. Rasanya baru kemaren dihukum karena telat dan gak pakai ikat pinggang. Rasanya baru kemarin dilantik menjadi ketua OSIS. Rasanya baru kemarin cabut kelas dan sembunyi di UKS. Rasanya baru kemarin melakukan bandel-bandel khas anak SMA. Iya, semua rasanya baru kemarin.

Kalau banyak orang bilang masa SMA adalah masa paling menyenangkan dan mudah, gue setuju. Meskipun baru ‘makan’ bangku kuliah selama 3 semester dan belum menyentuh dunia kerja yang katanya adalah dunia sesungguhnya, gue meyakini, dan mengalami, jika masa SMA adalah masa singkat paling indah. Selain indah juga mudah, ketika hari itu yang ditakuti adalah pr yang belum tuntas dikerjakan, ketika waktu paling menyenangkan adalah pukul 14.30 saat waktu sekolah usai, ketika ujian masih sesederhana opsi A,B,C,D, ketika pembagian rapor masih menjadi tanggung jawab orang tua.

Video ini banyak menampilkan repetisi mata dan tawa. Filosofinya sih, kebahagiaan paling tulus katanya bisa dilihat lewat mata dan tawa. Seperti yang gue sebutkan di atas, gue selalu senang melihat video ini. Lewat video ini gue selalu merasa dekat dengan mereka, yang sekarang sudah banyak merantau ke Jogja, Surabaya, Semarang, Bandung, Solo, bahkan Makassar untuk kuliah. Rasanya baru kemarin menghampiri mereka satu per satu di kelas masing-masing.

Entah kenapa gue tiba-tiba menulis postingan ini.  Mungkin karena terbawa perasaan ketika menonton video ini lagi, atau mungkin karena gue sedang jenuh dengan dunia gue sekarang dan tiba-tiba kangen mudahnya hidup sebagai pelajar berseragam putih abu. Satu hal yang pasti, sebagai sebuah potongan anugerah, memori kalian di otak ini selalu gue jaga dengan apik.

3 tahun itu mungkin terasa sangat singkat, tapi gue selalu bersyukur bahwa 3 tahun itu gue miliki untuk selamanya. Being with you all, in that school, with those many awesome things is one of my most awesome years in this life. 3 tahun itu mungkin tidak bisa diulang, tapi selalu bisa dikenang.


 When I find myself fading, I close my eyes and realize my friends are my energy.


Quotes asal comot yang ditaruh di akhir video. Intinya quotes ini menggambarkan ketika SMA, kita pernah berjuang bersama, jatuh bersama, senang bersama dan saling sadar bahwa kita adalah energi dari masing-masing keniscayaan yang pernah ada.


In the end,

Terima kasih untuk kalian yang menjadi potongan memori manis gue. 

December 8, 2014

Trust.

An old wisdom said: start trusting and forgiving people to find your own peace. Unfortunately, reality shows me the reason not to.

And now I finally understand what these words are trying to say.

November 25, 2014

Kesederhanaan


Desa Balekambang, Kabupaten Sukabumi, 7-9 November 2014.

Hari itu gue pergi ke Desa Balekambang, Kabupaten Sukabumi, lebih persisnya Kampung Cigarung untuk survey lokasi titik 1 aksi UI Mengajar untuk bulan Januari nanti. Perjalanan memakan waktu 9 jam dari Depok, jadi bayangkan saja sejauh dan sedalam apa gue akan pergi nanti, padahal segitu masih di Jawa Barat. Hahaha.

3 hari numpang tinggal di sana, ada satu hal yang mengganjal dalam diri gue. Gue lupa tentang kesederhanaan hidup. Gue lupa akan rasanya damai dengan diri sendiri. Tinggal di kota yang serba hectic sana-sini terkadang membuat kita selalu menuntut lebih akan segala hal; more time, more money, more goals,more achievements. Kesannya kebahagiaan hidup harus berupa materi atau pencapaian yang megah. Kesannya hal kecil jadi tidak terhitung.

Di sana, gue menemukan apa yang hilang dari gue selama ini: rasa bersyukur. Mereka yang tinggal di sana bisa bersyukur dengan segala kesederhanaan yang ada. Gue di sini masih mengeluh kalau harus kuliah pagi,  padahal anak-anak kecil di sana rela berangkat subuh, nyebrang sungai dan hutan untuk berangkat ke sekolah.

3 hari di sana membuat gue sadar bahwa keserba-adaan membuat kita lupa pemberian Tuhan yang paling nikmat yang diberikan untuk jiwa kita, kesederhanaan. Bahwa sebenarnya gue selalu mencari apa yang dari awal gue hilangkan sendiri.

(ke)Sederhana(an) itu indah.

Semoga 1 bulan di sana nanti jadi manfaat buat semuanya. See you soon, titik 1!

November 21, 2014

Team Building Gerakan UI Mengajar Angkatan 4

Sabtu - Minggu, 16-17 Desember 2014,

Villa 66, Cisarua, Bogor.


Mungkin ini adalah team building paling menyenangkan yang pernah gue ikuti. Well, terakhir kali merasakan team building yang senangnya sama seperti ini di tahun 2011 di Gunung Bunder. Entah kenapa, team building ini membuka mata gue tentang kebaikan dan keikhlasan, bahwa gue harus bersyukur gue dikelilingi oleh orang-orang yang punya niat mulia, dan alhamdulillah, sama absurdnya kayak gue. :)

Puyul - Ulqi - Gue - Dea - Bella
YES! Tim Creative akhirnya bisa foto cantik dan full team. :")

Iyas - Gue - Yayas - Wahyu
Side story-nya, jadi waktu itu disuruh buat kelompok dengan mencari orang
dengan kesenangan yang sama. Mutual interest kami: kemageran. :D


Panitia dan Pengajar
Gerakan UI Mengajar Angkatan 4.

Terima kasih weekend yang sangat menyenangkan dengan pemandangan yang sangat indah juga! Semoga aksi kita di bulan Januari sukses yaa! :)



September 22, 2014

Kembalilah Sejenak

Semoga bisikkan angin sampai ke telingamu

Saya ingin kamu kembali,

walau sejenak

Biarkan tubuh ini sekali lagi bersandar di bahumu

Biarkan tangan ini sekali lagi melingkar di lenganmu

Biarkan mata ini sekali lagi dimanjakan oleh senyummu

Saya ingin kamu kembali,

meski sesaat

Biarkan jiwa ini kembali larut dalam sore yang damai

Biarkan dua cangkir kopi menjadi teman keheningan berdua

Biarkan cerita mengalir bersama waktu yang terus memeluk

Saya ingin kamu kembali,

sebentar saja

Sebelum jarak dan waktu kembali memisahkan.



--
Teruntuk kamu, yang sedang sibuk menata masa depan.

Selamat untuk segala pencapaiannya. Selamat untuk selangkah lagi menjadi Arsitek handal. Semoga New York menjadi kota yang lebih asyik dari Melbourne. Kembalilah sejenak, sebelum pergi. Bandung akan selalu jadi tempat pulangmu.


Saya, di sini, selalu mendoakan yang terbaik, dearest Mario. 

July 6, 2014

Berani karena Benar

Flashback itu kadang bahaya, ya. Apa yang tadinya tidak dianggap sebagai hal yang tidak menyenangkan, kalau kelamaan dipikirin bisa berujung menjadi hal yang menyebalkan.

Suatu siang di awal bulan Juli, gue sedang menunggu kereta menuju Bogor di Stasiun UI. Saat itu, di sebelah gue, duduk seorang Ibu dan anaknya, yang sepertinya baru duduk di sekolah dasar dan hendak pulang seusai ambil rapor.  Karena posisi yang bersebelahan, otomatis gue bisa mendengar percakapan mereka. Sebagai orang yang kepo, gue pun curi-curi dengar obrolan mereka. Hehehe.

Kurang lebihnya percakapan  mereka berdua seperti ini,

I: De, tadi bu guru ade bilang, katanya ade suka ngelawan guru. Kok gitu de?

A: Ade beberapa kali pernah bilang kalau jawaban bu guru beda sama yang ade tau, waktu ditanya kenapa sama bu guru, ade jelasin alasannya ke bu guru soalnya ayah pernah jelasin ke ade, malah dibilang ade salah, soalnya di buku udah dijelasin. Kok ade dibilang ngelawan ya bu…?

Setelah percakapan itu, si anak mengusap mata, seperti hendak menahan tangis.

Miris.

Pertama, kasian, si anak ini sudah bisa loh melihat perbedaan jawaban dalam soal yang sama lalu mengkritisi di umurnya yang masih menginjak usia sekolah dasar, tapi tidak dijelaskan kenapa Ia bisa berbeda pendapat dengan gurunya. Malah diberi alasan kalau dia salah karena berbeda dengan buku yang ada.

Kedua, entah apa yang ada di pikiran si guru yang bilang kalau hal itu disebut melawan guru. Mungkin sampai sekarang, kita masih terikat adat ketimuran yang bilang orang (yang lebih) tua selalu benar.

Oke, kalian bisa bilang, “Yaelah, namanya juga guru SD. Beda kan sama guru SMA atau dosen.”

Bagi gue, guru tetaplah guru. Ketika murid meminta penjelasan, harusnya ia bisa memberikan penjelasan yang bisa diterima.

Lalu, kenapa hal kayak gini sampai gue post? Ada kaitannya juga dengan dua kalimat awal postingan ini. Flashback.  Gue sangat mengerti rasa heran anak ini karena dulu gue pernah mengalami hal yang sama dengan si anak.

Singkat ceritanya begini

Saat kelas 6 SD, yang masih sangat gue ingat karena hari itu adalah hari pengumuman kelulusan, gue ‘dikerjai’ oleh guru-guru di SD gue. Ketika semua teman gue di kelas sudah mendapatkan amplop yang berisi tulisan LULUS/TIDAK LULUS,  hanya gue yang belum memegang amplop tersebut. Heran, gue langsung berjalan ke meja wali kelas dan menanyakan hal itu.

Sang wali kelas hanya menjawab, “Kalau nggak ada di Ibu, mungkin punya kamu masih ada di kepala sekolah, belum ditanda tangan. Coba kamu ke kantor kepsek.”. Dengan jawaban seperti itu dan dengan pikiran sederhana anak SD, gue langsung menghampiri kantor kepala sekolah. Jawaban yang gue terima sama, amplop tidak ada di beliau.

Begitu terus sampai gue dilempar sana-sini untuk nyari amplop itu yang katanya ada di Ibu ini, lalu di Ibu itu. Sampai akhirnya gue harus kembali lagi ke ruang guru dan menghampiri seorang guru yang pernah menjadi wali kelas gue di kelas 5.

Jackpot, ternyata amplop gue ada di beliau. Dengan sopan, gue meminta amplop tersebut. Respon yang gue dapati saat itu, kalau diingat-ingat lagi, mestinya bisa bikin anak SD nangis. Dan ya, gue masih ingat persis apa yang Ibu itu ucapkan saat itu kepada gue.

“Ibu nggak tau ya, akan kasih amplop ini ke kamu atau nggak. Abis kamunya gitu sih.”

Otomatis gue menjawab, “Saya kenapa bu, salah saya apa?”

Kemudian ibu guru itu menjelaskan mengapa amplop surat kelulusan gue ditahan, tidak seperti teman yang lain, adalah karena menurut guru-guru perilaku gue saat memasuki kelas 4-6 dianggap tidak menyenangkan. Menurut mereka, kala itu gue tidak nurut dan ngeyel dengan guru karena suka membantah beberapa ajaran yang diberikan saat pelajaran jika bertentangan dengan apa yang gue tahu. Malah, gue dibilang terkadang membentak guru atau berargumen dengan nada tinggi yang dianggap sangat tidak sopan.

Gue shock, sangat shock. Tapi entah karena sejak kecil gue bukan orang yang bisa menangis di depan orang lain, gue tidak menangis saat itu. Gue hanya mendengarkan ocehan sang ibu guru sampai dia selesai dan kemudian memberikan amplop itu setelah gue minta maaf.

Jelas gue sangat ingin menangis saat itu. Rasanya seperti diadili, tanpa bisa membela diri. Apalagi saat itu gue masih SD. Masih 11 tahun. Kasarnya, harus perang dalam diam melawan orang yang jauh lebih tua dari gue.

Bahkan, karena hal ini, orang tua gue sampai dipanggil ke sekolah seminggu kemudian.

Gue punya alasan untuk setiap perbuatan yang tadi beliau sebutkan.

Pertama, orang tua gue selalu menanamkan nilai keberanian kepada gue. Kita harus berani membela apa yang kita anggap benar. Masa saat itu mau diam saja ketika dijelaskan Jepara sebagai penghasil kayu damar padahal jelas-jelas Jepara terkenal karena kayu jatinya.

Ketika gue menyampaikan bahwa gue pernah membaca bahwa Jepara adalah penghasil Jati, Ibu Guru X hanya menjawab, “Pokoknya di kunci jawaban, jawabannya ini. Udah deh kamu jangan ngeyel.” Loh. Sampai sekarang gue masih ketawa kalau inget ini.

Kedua, membentak guru. Anak SD? Negur guru kalau ketemu di jalan aja waktu itu malu-malu kucing, ini lagi ngebentak guru. Poin ini yang sampai sekarang masih bikin gue tidak paham kenapa bisa keluar statement seperti itu. Mungkin bu guru kebanyakan nonton infotainment saat itu, jadi suka melebay-lebaykan. :)))

Tapi ya sudah lah ya, peristiwanya sudah terjadi 7 tahun lalu. Toh mau dibilang apa juga, tidak bisa diubah lagi.

Untungnya, ketika dipanggi kepala sekolah gue saat itu, orang tua gue cuma manggut-manggut aja dan menjawab dengan hal yang normatif. Nyokap pun ketika itu bilang ke gue, “Mama mah ketawa aja Ka waktu itu. Toh, Mama yang ngajarin harus berani kalau benar.” 
Despite of all my problems with my parents, I have such wonderful of them.

Makanya, ketika gue mendengar percakapan ibu dan anak itu di peron stasiun, gue sangat mengerti perasaan si anak karena secara tidak langsung anak itu adalah gue 7 tahun lalu.

Sekarang, gue cuma bisa berdoa,  semoga dalam 7 tahun ini kualitas guru sekolah dasar semakin membaik ya. Semoga guru-guru tersebut lebih bisa menanggapi jawaban kritis anak dan dijelaskan serta diarahkan ke arah yang benar. Lalu, kalau memang perbuatan anak salah, ya ditegur dengan cara didiskusikan baik-baik dengan anak dan diberitahu kalau perbuatannya tidak menyenangkan dan diberi solusi. Bukan malah anaknya ‘dikerjain’. :)

Oh iya, jawaban sang Ibu kepada anaknya siang itu bikin gue senyum sendiri.

“Oh, gitu de… Yaudah, Ibu percaya sama ade. Ade hebat udah berani bilang yang benar dan udah berani jujur ke Ibu. Abis ini beli es krim, yuk!.”

J


July 4, 2014

Dewasa?

Hinga bingar 9 Juli makin kesini makin kerasa, ya. Mungkin karena sudah masuk ke usia yang lebih diharuskan untuk lebih sadar dan melek sama hal yang beginian juga yang bikin obrolan-obrolan yang menjurus ke arah 9 Juli nanti jadi lebih 'seru'. Kalau gue sendiri merasakan perbedaan yang sangat jelas dibandingkan empat tahun lalu. 

No, no, gue ga akan bahas kelebihan si ini atau itu di postingan ini karena jujur, H-5 harus nyoblos aja gue bukan simpatisan dan (belum menjadi) pendukung salah satu calon yang ada. Gue masih searching-searching sampai mantap menentukan nanti. Hahahaha bahasa gue kampret ya. Hal yang mau gue curhatin sekarang adalah perubahan gue dan teman-teman gue dalam menghadapi pemilihan tokoh yang katanya bakal jadi pemimpin kita nanti.

Dimulai dari gue sendiri. Empat tahun lalu, hitungannya gue masih pelajar yang baru lulus SMP. Boro-boro mikirin pemilu, mikirin mau lanjut SMA di mana aja udah bikin mumet sendiri. Lagipula, saat itu gue belum punya hak pilih karena usia gue masih di bawah 17 tahun, belum punya KTP apalagi kartu pemilih. Jadi, saat itu gue nggak ambil pusing. 

Obrolan tentang capres-cawapres saat itu dengan teman-teman sebaya pastilah ada. Cuma kalau diinget-inget lagi, terkadang bikin geli sendiri. Saat itu hanya common sense yang berbicara. Informasi masih seadanya, biasanya cuma denger lewat berita sekilas dan dari obrolan orang tua yang belum tentu juga paham betul. Lalu kalau ngobrol dengan teman tentang urusan pemilu, biasanya cuma copas dari apa yang didengar, tanpa proses penyaringan dulu. Ya kan? Ngaku deh dulu lo seenggaknya pernah begitu. Hahahahah.

Sekarang? Bukan berarti sekarang gue sudah menjadi orang yang selalu tercerahkan. Lah, wong sampai sekarang gue masih belum menentukan akan memilih siapa. 

Rasanya geli juga kalau sekarang gue menjadi orang yang anti golput untuk pemilu. Pemilu di bulan April lalu aja, dengan jenis kertas suara yang banyak itu, gue masih menjadi orang dari golongan yang merusak kertas suara karena bingung harus memilih siapa dan akhirnya lebih memilih merusak kertas suara. Tapi ya, setelah di semester satu belajar Pengantar Ilmu Politik, pembelaan gue adalah sadar politik itu proses. Hahahhaah alasan aja ghas ghas.

Tapi serius, meski belum memutuskan akan memilih siapa, gue berjanji pada diri sendiri akan memilih salah satu dari yang ada. Makanya, sampai sekarang gue masih akan searching-searching sampai mantap. Untungnya sekarang nyari apa-apa udah gampang. Walau ini juga yang harus bikin hati-hati sama arus informasi, tak semua yang kamu baca itu nyata. Hahahahasek.

Satu hal lagi yang bikin senyum sendiri adalah, lo mengalami proses pendewasaan nggak sendiri. Teman-teman lo pun juga. Perbedaan dengan empat tahun lalu, ngomongin politik sama teman sendiri itu lebih asyik. Akan banyak informasi yang sebelumnya nggak lo tahu, lo akan dapat dari obrolan santai di kafe, kampus, kosan temen, atau bahkan di warteg. Niat awal sekedar nongkrong di kedai surabi pinggir jalan aja bisa jadi ajang ngobrol capres-cawapres yang seru. 

My point is, semua ambil positifnya aja deh. Mengutip kata Pandji di salah satu postingan blognya, agama akan menuntun lo untuk selalu khusnuzon, tapi hati nurani selalu meninggalkan ruang untuk keraguan. Memihak dan memilih itu pada akhirnya adalah hak masing-masing individu. Jadi saling menghargai aja. Apalagi sampe ribut sama temen sendiri gara-gara nggak sepaham dengan yang didukung? Elah bro.



June 12, 2014

Rindu.





Terlepas dari nama yang sesuai dengan kelakuan,

Terlepas dari semua sibuk entah ngantor, skripsi, tugas akhir, dan kuliah,

Terlepas dari obrolan di grup yang selalu menjurus ke urusan nikah, dan hanya gue & Caca yang berumur di bawah 20 tahun yang mana obrolan itu terdengar.... ya begitulah...

Terlepas dari gue yang terkadang dikacangin kalau bahas sesuatu,

Terlepas dari gue yang selalu 'di-bully' tentang gebetan yang tak kunjung jadi,

Terlepas dari gue yang tahu kalau itu cara lain mereka untuk bilang, 'Cepet cari cowok yang bener, Ghas!",

Terlepas dari segala hal yang membuat mereka menjadi orang dewasa yang super menyebalkan,


Gue sangat rindu kalian,

Orang - orang yang tidak bisa terdeskripsikan.



Once a day becomes once a week

Once a week becomes once a month

Once a month becomes once in several months

I know that this is a shitty poetic sentences

But do keep in all your mind

I dont wan't this to be once a year

Or never more in a lifetime

It's been a pleasure growing up with  you all

It will always be

And I do want to keep it that way



Love

June 8, 2014







Lelah. Lelah ketika sedang penat, ketika sedang terpuruk karena apapun itu, yang teringat adalah memori empat tahun lalu.

Lelah. Lelah karena ketika emosi, yang terlintas di benak adalah semua pertengkaran hebat dengan Mama.

Lelah. Lelah karena selalu harus kalah pada argumen kolot orang tua selalu benar.

Lelah. Lelah karena tidak punya tempat bersandar seperti orang lain.

Lelah. Lelah karena selalu menangis ketika mengingat kalimat "Mama nggak bisa jadi kayak orang tua lain yang selalu kasih perhatian ke anaknya. Mama sibuk kerja. Kurang apa materi yang Mama kasih ke kamu? Toh kamu mau apa selalu mama kasih."

Lelah. Lelah karena merasa tidak bisa berdamai dengan perempuan yang melahirkannya.

Lelah. Lelah karena harus selalu menjadi anak yang dituntut mandiri dan mengerti.

Lelah. Lelah karena selalu hanya bisa mengeluarkan keluhannya lewat tulisan yang tidak akan dibacanya...







June 6, 2014

Tentang Saya dan Mereka, Sekarang.

Kalau jadi mahasiswa di sebuah fakultas yang embel-embelnya sosial, katanya harus peka dan kritis dengan sekitar. Sedikit banyak harus ngerti politik, harus selalu bisa memberi mengawasi dan memberi aspirasi untuk sekitar. Sebelumnya, gue menganggap kalimat ini pragmatis, klise. Peka dan kritis gak harus lewat politik, atau dunia sosial atau apalah itu. Bahkan gue adalah salah satu orang yang skeptis terhadap politik. Sampai akhirnya, saat ini gue mengerti, pandangan gue, atau pun orang lain yang berpandangan sama seperti di atas bukannya salah, tapi gue melihat itu di konteks yang terlalu luas, gue melihat itu dalam tataran Indonesia. Yang mau gue bilang adalah, sebenarnya peka dan kritis bisa dimulai dari hal-hal kecil; kelas, kepanitiaan, organisasi, angkatan, bahkan dalam salah satu kelompok sosial terkecil sekalipun seperti pertemanan atau peer group

Iya, kalau lihat paragraf di atas kesannya gue sangat teoritis. Tapi itu yang sedang gue alami sekarang. Kalau dulu bisa dibilang kalau gue adalah orang yang cuek, yang akan pendam pemikiran sendiri, dan akan lebih senang untuk bertindak kalau terkait dengan sebuah masalah. Diplomasi itu cuma formalitas. Tapi, sekarang gue merasa sangat cerewet dan lebih sering protes ini itu. Sekarang gue merasa, kritik dan saran harus selalu berjalan beriringan, kalau ada yang sesuatu tidak beres, keluarkan dua makhluk ampuh itu. 

Masalahnya, lingkungan di mana gue mengalami banyak kejadian akhir-akhir ini adalah lingkungan yang sangat majemuk dengan pemikiran-pemikiran yang hebat dan yang merasa hebat. Mereka yang merasa mampu, mereka yang merasa superior, (dan mereka yang ditunjuk) akan maju menjadi pemimpin. Sayangnya, dan menurut pandangan sok tahu gue, tidak semua bisa. Ada mereka yang sangat apik ketika menjadi pemimpin, ada mereka yang hanya menjadikan itu titel semata, tanpa tanggung jawab yang baik. Sayangnya lagi, definisi orang-orang tentang pemimpin itu berbeda. Ada yang merasa pemimpin itu cukup orang yang mampu meng-handle sesuatu secara taktis, ada yang mendefinisikan pemimpin itu adalah mereka yang punya kharisma, ada yang menganggap pemimpin adalah mereka yang secara fisik dan emosional lebih dari pada yang lain, bahkan ada yang sama sekali memnganggap pemimpin itu cuma sesuatu hal yang utopis, formalitas.

Dari apa yang sudah dan sedang gue alami, pemimpin adalah mereka yang mampu memimpin, mengayomi, membawa perubahan, dihormati, dan yang terpenting, pendengar yang baik, atau setidaknya berusaha menjadi pendengar yang baik. Perlu gue tekankan, gue sedang tidak membahas pemilihan presiden kita sebentar atau Putih vs Kotak-kotak atau apapun itu istilah yang sekarang menggambarkan pemilu. Gue jauh dari hingar bingar itu. Kembali ke topik. 

Sayangnya, banyak diantara kelompok-kelompok yang memang tidak berjalan sebagaimana bentuk idealnya karena efek The Man with Power tersebut. Meskipun begitu, banyak orang yang ada di sekelilingnya yang selalu melayangkan kritik dan saran. Gue yang selalu 'bawel' di tempat gue berada, juga terkadang merasa tidak didengar. Entah karena saat itu beda pendapat, atau sebenarnya walaupun berada di tempat mayoritas, pemikiran gue adalah minoritas. Gak paham.

Mungkin ini arti dari 'pemimpin adalah cerminan rakyat'. Setelah mengalami banyak kejadian belakangan ini, gue semakin paham arti kalimat di atas. Mereka, yang disebut pemimpin, sudah sepantasnya punya pendirian dan prinsip tersendiri, agar rakyatnya punya pegangan, agar rakyatnya ga bingung. Kalau pemimpinnya hanya mengikuti arus, rakyatnya akan ikut terombang-ambing. Apalagi terkait dengan masalah mayoritas dan minoritas. Menurut gue, seorang pemimpin ideal adalah dia yang ingin berjuang bersama minoritas, bukan hanya berjuang untuk minoritas atau mengajak si minor untuk menyesuaikan diri dengan si mayor. Dan pada akhirnya, gue pun sedikit mengerti tentang konsep krisis kepemimpinan. 

Kalau melihat dalam konteks yang lebih besar seperti Indonesia, yang baru bisa gue pahami sedikit demi sedikit sekarang adalah ternyata inilah yang selama ini orang hebat bilang kalau krisis kepemimpinan sudah mengakar hingga ke hal-hal kecil. Makanya, gue salut kepada mereka yang masih mau maju sebagai pemimpin walau tahu masalahnya sedemikian rumit, walaupun akhirnya mereka ribet sendiri. Sedikit banyak gue mulai paham tentang pemikiran mereka yang dulu  peduli dengan tempatnya, selalu menyuarakan perubahan ke arah yang lebih baik, namun ternyata (di)beda(kan) prinsipnya, tidak pernah didengar lagi dan ujung-ujungnya capek dan pergi. Siapa yang tahan kalau cuma disuruh mendengarkan tapi tidak pernah didengar?

Gue bukan orang yang mau begitu saja mengkritik tanpa meninggalkan saran atau solusi. Gue belum paham mati tentang hal seperti ini. Tapi apa yang gue percaya, dan seperti yang buku sosiologi katakan, semua orang punya peran dan kapasitas masing-masing. Semua orang punya tempatnya, dan semua tempat ada 'orangnya'. 

Tulisan ini bukan tulisan berbasis jurnal atau buku-buku Soejono Soekanto maupun Miriam Budiarjo . Ini tulisan tentang pengalaman, karena pada akhirnya pengalaman adalah guru terbaik. Silakan bilang gue sok tahu, tapi begitulah adanya yang gue pikirkan sekarang.


Terakhir, 
Untuk kalian yang selalu ingin berbicara tapi selalu menahan karena merasa tidak akan didengar, sampai kapan ingin tidak didengar? 
Untuk kalian yang sekarang sedang diatas, coba buka telinga dan mata lebih lebar, jangan sampai yang peduli merasa lelah dan akhirnya pergi tanpa pesan. 


May 4, 2014

May The 4th Jakarta!

Untuk memulai, gue mau mengucapkan may the 4th be with you untuk seluruh jagad Star Wars dan pecintanya!! 

Memperingati Hari Star Wars yang jatuh pada tanggal 4 Mei, Star Wars Indonesia mengadakan Star Wars Weekend yang diadakan di Kuningan City pada tanggal 3-4 Mei 2014. Event ini merupakan exhibition pertama secara besar-besaran yang mengundang seluuuruh pecinta Star Wars di Indonesia. Lebay sih se-Indonesia, orang yang dateng juga rata-rata yang tinggal di jabodetabek kayak gue hehehe. Tapi pada intinya, Star Wars Weekend yang mentereng dengan hashtag #MayThe4thJKT ini adalah pameran pertama terbesar yang diadakan untuk publik. May The 4th Jakarta gak melulu pameran serba-serbi Star Wars, tapi juga ada bazaar, live performance yang pastinya a la Star Wars, cosplay, photobooth dan juga pameran galeri Star Wars Art yang dilombakan. 

Sebagai manusia yang waktu kecilnya dicekokkin film classic Star Wars, gue jumpalitan ketika tau ada acara ini. Seneng ga? Seneng banget! Ih parah! Kece abis bisa foto sama cosplay Master Yoda, Scout Trooper, Storm Trooper, Darth Maul, Darth Malgus, and best of all... Darth Vader!! AAAAA GILAAAAK!!!! Sumpah seneng banget ketika akhirnya gue bisa foto sama orang beneran yang cosplay Darth Vader, bukan cuma human-sized action figure atau foto sama helmnya doang. 

Gallery of bunch of happiness today:

Cap dari enterance gate-nya. Uhuhuhu ga jelas bentuk cap-nya sayang.

Iki - Christo - Storm Trooper abis perang - Gue - Danang

Ada bazaar-nya juga looh! Ga beli tapi, ga punya duit. :(

Di ruangan pameran.

Replika Darth Malgus yang segede gaban. 2 kali gue
kayaknya. :")

Master Yoda lucu bangeeet! Pengen bawa pulang
rasanya.

Iki sama yang cosplay jadi
Darth Malgus

Selfie dulu sama trooper kesayangan. Hahaha.
Itu cosplay btw bukan patung.

Lucu ada Live DJ pake kostum a la Star Wars jugaa!

pengen kasih caption:
"Nembak cewek aja gagal mulu, Ki." 

Storm Trooper kecebur rawa - Danang

Yang cosplay Slave Leia - Christo.
Bisa aje modus foto sama cewek cakep.

Selfie sama yang cosplay Scout Trooper!

Danang - Gue - Iki

Gue - Darth Malgus

WITH BEST, MOST AWESOME VILLAIN EVERRRRR!!!
2nd best goes to Loki, of course, btw.

Tft ya buat Iki, Danang, dan Christo yang udah ngeladenin minta foto aneh-aneh gue hari ini! Makasih udah nemenin ber-star-wars ria di hari Minggu kalian. Wuff youuu!

Terimakasih @Order_66_SITH yang udah bikin acara ini. Terima kasih untuk mewujudkan impian gue untuk satu frame sama Darth Vader. Kece abis!!! Seneng banget banget bangeeet!!! Tahun depan harus wajib kudu banget ada lagiii! 

May the 4th be with you! May the Force be with us all!!!

April 13, 2014

Launching Novel RE:

Sebenernya ini postingan super telat karena event-nya sudah seminggu terlewat hehehehe. 

Hari Minggu tanggal 6 April kemarin, gue bersama beberapa pengurus wepreventcrime datang ke peluncuran novel RE:, yang ditulis oleh Maman Suherman, di Jakarta Convention Center. Kenapa buku ini spesial sampai mahasiswa Kriminologi yang datang? Jadi, Mas Maman ini adalah seorang alumni Kriminologi yang lulus tahun 1989. Novelnya, RE:, merupakan serangkaian peristiwa yang dialami selama menyamar menjadi supir pelacur lesbian untuk skripsinya saat itu yang bertema Pola Pemerasan dalam Pelacuran Lesbian di Jakarta. Skripsinya ini kemudian diangkat menjadi sebuah novel yang rilis 25 tahun setelah Mas Maman lulus. Jadi, yang (menurut gue) membuat buku ini menarik adalah penulis mengambil sisi yang berbeda dalam menanggapi isu yang dianggap masyarakat tabu. Btw, Mas Maman ini orangnya keren dan selow parah loh! Waktu 'disatronin' sama anak-anak wpc setelah acara selesai, Mas Maman cerita banyak pengalamannya waktu kuliah dan sewaktu menyelesaikan skripsinya. And as a typical senior who meets his juniors, Mas Maman tidak lupa memberikan wejangan-wejangan kuliah agar bertahan di Kriminologi. Hehehehe


Cekidot lah fotonya! :D







Sabrina - Gue - Bang Meiki - Mas Maman - Bang Abram - Bang Yanu -
Bang Adit - Bang Ardi - Bang Agra - Cyane

Ada Ari Kiting juga di acara ini. Mirip Bopak banget sih....
Penampakan bukunya. Sudah bisa dibeli di toko buku terdekat.
#bukanpromosi

Mungkin suatu saat gue akan posting review atau resensi buku ini. Mungkin loh ya. Mungkin. Kalau gak mager. Hahahaha.

March 30, 2014

Hallo Lagi Jomes!

Saturday - Sunday. March 29-30th 2014. 10.00 p.m - 02.00 a.m.


Malam itu, gue bersama 3 jomes lainnya malam mingguan bersama lagi sampai pagi. Padahal kuliah paling jauh ya Rama, di Bandung, yang lain di Bogor sama Jakarta. Tapi buat urusan ketemu, waktu susah banget kompromi. Semua udah punya kesibukan masing-masing. Makanya, ketemu mereka adalah hiburan tersendiri buat gue. Seperti biasa, kalau udah ketemu, pasti selalu ngomongin bola, ngomongin kuliah, ngomongin orang dan ujung-ujungnya pasti curcol. Hahahaha. Sampai ketika jam 1 pagi, kami sampai pada percakapan; "Ya kalau gue lagi pulang, gue mainnya sama kalian lah. Siapa lagi emang?", "Untung lo pada jomblo ya, jadi ga ada yang ngajakin jalan, jadi bisa nemenin maen kapan aja. Hahahaha.".  

Kalau dipikir-pikir, ketika gue pulang ke rumah, ya gue akan main cuma sama biadabies atau ga jomes. Habis mau sama siapa lagi? Yang jelas udah cuma kalian. Tempat pulang gue ya kalian. Btw, terima kasih ya quality time yang selalu absurd tapi menyenangkan. See ya later again!

Captionnya: "Diculik 3 jomblo mesum."

"Aku butuh kehangatan, Mas."





Some people go to priestsothers to poetry; I to my friends 
- Virginia Woolf






March 24, 2014

Girls Day Out!

Setelah berbulan-bulan, akhirnya hari Sabtu (22/3) kemarin ngumpul juga sama cewek-cewek ini. Makasih ya gurrrlsssss udah bikin gue jadi cewek sehari! Terima kasih untuk gossip ria seharian! Hahahahahaha.




@ Sugarbell. Tempat sama makanannya lucuuuuu! 

@ Livingroom Cafe.

Makasih Aca dan Widya! Next time lagi yaaaa!


March 19, 2014

Ibu, Rumah.

Semester 2 semakin menggila. Tugas, acara, nongkrong. 3 hal yang susah banget buat dilepas saat ini. Tugas mengalir deras, (sok) sibuk megang acara ini itu, dan nongkrong selalu jadi pelepas penat utama. Makanya, sekaligus dengan dipublish-nya postingan ini, gue minta maaf juga ya blog sayang, gue jadi jarang main ke sini.

Anyway,beberapa hari lalu gue naik kereta commuter line dari Depok menuju Sudirman. Di dalam kereta itu, ada seorang anak yang tertidur pulas di pangkuan Ibu-nya yang juga tidur pulas. Entah kenapa, pemandangan itu menghipnotis gue. Maksudnya, gue seperti ikut merasakan kenyamanan si anak yang tidur di pangkuan Ibu-nya. Gue iri. Mungkin emang lagi kangen sama nyokap, mungkin juga karena udah lupa rasanya tidur di pangkuan seorang Ibu. 

Gue bukan orang yang dekat dengan nyokap gue sendiri. Bahkan gue sering berantem sama nyokap karena hal-hal kecil. Dengan tipikal yang sama-sama keras kepala, kalau udah kekeuh sama sesuatu, ya pasti bakal dipegang sampai kapanpun. Ketemu jarang, ngobrol juga seperlunya. Kalau lagi di rumah, kita sibuk dengan urusan masing-masing. Nyokap sibuk dengan kerjaannya, gue sibuk entah ngerjain tugas, main sama temen atau diem di kamar sambil nonton dvd. Gue ga pernah cerita gue lagi dekat sama siapa, gue lagi suka sama siapa, temen gue namanya siapa, gue lagi ngurusin acara apa, gue lagi main kemana, gue lagi suka musik apa, ataupun detil-detil lainnya dalam hidup gue. Yang selalu gue sampaikan dan yang mungkin Nyokap tau adalah gue kuliah baik-baik aja, ga kena masalah apa-apa, masih sholat dan masih hidup dengan layak di kosan. Nelpon jarang, ditelpon pun jarang. Nyokap nelpon kalau nanya kapan gue pulang, gue nelpon kalau duit udah menipis. Intinya, hubungan Ibu dan anak gue jauh dari kata unyu, so sweet, atau apapun itu. 

Walaupun cuma Bogor - Depok yang bisa ditempuh melalui kereta selama 40 menit, gue terhitung jarang pulang dan lebih senang tinggal di kosan. Terkadang emang ada hal yang mengharuskan gue ga pulang, terkadang emang muncul rasa males pulang ke rumah. You may judge me, whatever. Tapi seperti yang dibilang sebelumnya, semester 2 semakin menggila. Dalam kurun waktu  satu bulan ini, terhitung gue cuma pulang dua kali ke rumah. 

Sekarang, gue lagi mengalami kejenuhan yang sangat parah (yap, gue gampang banget bosen). Jenuh dengan kuliah, jenuh dengan aktivitas di luar kuliah, bahkan jenuh dengan orang-orang nya. Segala macam hal gue coba supaya gue ga bosen kuliah. Tapi, tetep aja semua kurang memenuhi ekspektasi gue. Sampai suatu saat Nyokap nelpon gue malem-malem. Walaupun ga lama, tapi kayak ada angin segar yang datang malam itu. Gue sudah lama ga ngobrol dan tatap muka sama seseorang yang nelpon gue malam itu. Udah satu setengah bulan gue ga ketemu sama nyokap. Gue kuliah, Nyokap di luar kota. Dua kali pulang, dua kali ga ketemu.

Mungkin ini yang dibilang sama Mas Kiwil bahwa ketika lo kuliah, lo akan lebih menghargai rumah dan keluarga. Mungkin gue kangen dengan rumah dan keluarga gue yang sebenarnya. Senyaman apa pun seseorang di lingkungan barunya, selalu ada saat ketika Ia butuh pulang ke rumah, rumah yang sebenarnya, rumah di mana seorang Ibu menunggu anaknya pulang. Mungkin itu yang gue alami sekarang. Mungkin itu sebabnya kenapa gue iri ketika gue melihat seorang anak tidur pulas di pangkuan ibunya sepanjang perjalanan menuju Sudirman. Gue kangen rumah, gue kangen Mama. There's little part of me yang kangen dibangunin tiap pagi buat sholat subuh walaupun suka ngamuk sendiri, kangen ditanya mau makan apa, kangen dibuatin makanan, kangen dibeliin ini itu, kangen dimanja sebagai seorang anak. 

Tapi, mungkin ini anugerah yang diberikan Tuhan lewat sosok seorang Ibu. Sejarang-jarangnya gue ketemu sama Nyokap, entah kenapa selalu ada perasaan nyaman ketika lo tau ada Ia yang selalu menyempatkan waktunya untuk nelpon anaknya walaupun cuma 30 detik, ada Ia yang selalu mendoakan anaknya, ada Ia yang pusing mikirin akan masak apa ketika anaknya pulang, ada Ia yang menunggu anaknya pulang. There's always that comfortable feeling when you know She's there, even if She's not around. 

So, I --in my very own way-- love you no matter what. 




"Home is where the Mom is."
-Unknown