June 12, 2014

Rindu.





Terlepas dari nama yang sesuai dengan kelakuan,

Terlepas dari semua sibuk entah ngantor, skripsi, tugas akhir, dan kuliah,

Terlepas dari obrolan di grup yang selalu menjurus ke urusan nikah, dan hanya gue & Caca yang berumur di bawah 20 tahun yang mana obrolan itu terdengar.... ya begitulah...

Terlepas dari gue yang terkadang dikacangin kalau bahas sesuatu,

Terlepas dari gue yang selalu 'di-bully' tentang gebetan yang tak kunjung jadi,

Terlepas dari gue yang tahu kalau itu cara lain mereka untuk bilang, 'Cepet cari cowok yang bener, Ghas!",

Terlepas dari segala hal yang membuat mereka menjadi orang dewasa yang super menyebalkan,


Gue sangat rindu kalian,

Orang - orang yang tidak bisa terdeskripsikan.



Once a day becomes once a week

Once a week becomes once a month

Once a month becomes once in several months

I know that this is a shitty poetic sentences

But do keep in all your mind

I dont wan't this to be once a year

Or never more in a lifetime

It's been a pleasure growing up with  you all

It will always be

And I do want to keep it that way



Love

June 8, 2014







Lelah. Lelah ketika sedang penat, ketika sedang terpuruk karena apapun itu, yang teringat adalah memori empat tahun lalu.

Lelah. Lelah karena ketika emosi, yang terlintas di benak adalah semua pertengkaran hebat dengan Mama.

Lelah. Lelah karena selalu harus kalah pada argumen kolot orang tua selalu benar.

Lelah. Lelah karena tidak punya tempat bersandar seperti orang lain.

Lelah. Lelah karena selalu menangis ketika mengingat kalimat "Mama nggak bisa jadi kayak orang tua lain yang selalu kasih perhatian ke anaknya. Mama sibuk kerja. Kurang apa materi yang Mama kasih ke kamu? Toh kamu mau apa selalu mama kasih."

Lelah. Lelah karena merasa tidak bisa berdamai dengan perempuan yang melahirkannya.

Lelah. Lelah karena harus selalu menjadi anak yang dituntut mandiri dan mengerti.

Lelah. Lelah karena selalu hanya bisa mengeluarkan keluhannya lewat tulisan yang tidak akan dibacanya...







June 6, 2014

Tentang Saya dan Mereka, Sekarang.

Kalau jadi mahasiswa di sebuah fakultas yang embel-embelnya sosial, katanya harus peka dan kritis dengan sekitar. Sedikit banyak harus ngerti politik, harus selalu bisa memberi mengawasi dan memberi aspirasi untuk sekitar. Sebelumnya, gue menganggap kalimat ini pragmatis, klise. Peka dan kritis gak harus lewat politik, atau dunia sosial atau apalah itu. Bahkan gue adalah salah satu orang yang skeptis terhadap politik. Sampai akhirnya, saat ini gue mengerti, pandangan gue, atau pun orang lain yang berpandangan sama seperti di atas bukannya salah, tapi gue melihat itu di konteks yang terlalu luas, gue melihat itu dalam tataran Indonesia. Yang mau gue bilang adalah, sebenarnya peka dan kritis bisa dimulai dari hal-hal kecil; kelas, kepanitiaan, organisasi, angkatan, bahkan dalam salah satu kelompok sosial terkecil sekalipun seperti pertemanan atau peer group

Iya, kalau lihat paragraf di atas kesannya gue sangat teoritis. Tapi itu yang sedang gue alami sekarang. Kalau dulu bisa dibilang kalau gue adalah orang yang cuek, yang akan pendam pemikiran sendiri, dan akan lebih senang untuk bertindak kalau terkait dengan sebuah masalah. Diplomasi itu cuma formalitas. Tapi, sekarang gue merasa sangat cerewet dan lebih sering protes ini itu. Sekarang gue merasa, kritik dan saran harus selalu berjalan beriringan, kalau ada yang sesuatu tidak beres, keluarkan dua makhluk ampuh itu. 

Masalahnya, lingkungan di mana gue mengalami banyak kejadian akhir-akhir ini adalah lingkungan yang sangat majemuk dengan pemikiran-pemikiran yang hebat dan yang merasa hebat. Mereka yang merasa mampu, mereka yang merasa superior, (dan mereka yang ditunjuk) akan maju menjadi pemimpin. Sayangnya, dan menurut pandangan sok tahu gue, tidak semua bisa. Ada mereka yang sangat apik ketika menjadi pemimpin, ada mereka yang hanya menjadikan itu titel semata, tanpa tanggung jawab yang baik. Sayangnya lagi, definisi orang-orang tentang pemimpin itu berbeda. Ada yang merasa pemimpin itu cukup orang yang mampu meng-handle sesuatu secara taktis, ada yang mendefinisikan pemimpin itu adalah mereka yang punya kharisma, ada yang menganggap pemimpin adalah mereka yang secara fisik dan emosional lebih dari pada yang lain, bahkan ada yang sama sekali memnganggap pemimpin itu cuma sesuatu hal yang utopis, formalitas.

Dari apa yang sudah dan sedang gue alami, pemimpin adalah mereka yang mampu memimpin, mengayomi, membawa perubahan, dihormati, dan yang terpenting, pendengar yang baik, atau setidaknya berusaha menjadi pendengar yang baik. Perlu gue tekankan, gue sedang tidak membahas pemilihan presiden kita sebentar atau Putih vs Kotak-kotak atau apapun itu istilah yang sekarang menggambarkan pemilu. Gue jauh dari hingar bingar itu. Kembali ke topik. 

Sayangnya, banyak diantara kelompok-kelompok yang memang tidak berjalan sebagaimana bentuk idealnya karena efek The Man with Power tersebut. Meskipun begitu, banyak orang yang ada di sekelilingnya yang selalu melayangkan kritik dan saran. Gue yang selalu 'bawel' di tempat gue berada, juga terkadang merasa tidak didengar. Entah karena saat itu beda pendapat, atau sebenarnya walaupun berada di tempat mayoritas, pemikiran gue adalah minoritas. Gak paham.

Mungkin ini arti dari 'pemimpin adalah cerminan rakyat'. Setelah mengalami banyak kejadian belakangan ini, gue semakin paham arti kalimat di atas. Mereka, yang disebut pemimpin, sudah sepantasnya punya pendirian dan prinsip tersendiri, agar rakyatnya punya pegangan, agar rakyatnya ga bingung. Kalau pemimpinnya hanya mengikuti arus, rakyatnya akan ikut terombang-ambing. Apalagi terkait dengan masalah mayoritas dan minoritas. Menurut gue, seorang pemimpin ideal adalah dia yang ingin berjuang bersama minoritas, bukan hanya berjuang untuk minoritas atau mengajak si minor untuk menyesuaikan diri dengan si mayor. Dan pada akhirnya, gue pun sedikit mengerti tentang konsep krisis kepemimpinan. 

Kalau melihat dalam konteks yang lebih besar seperti Indonesia, yang baru bisa gue pahami sedikit demi sedikit sekarang adalah ternyata inilah yang selama ini orang hebat bilang kalau krisis kepemimpinan sudah mengakar hingga ke hal-hal kecil. Makanya, gue salut kepada mereka yang masih mau maju sebagai pemimpin walau tahu masalahnya sedemikian rumit, walaupun akhirnya mereka ribet sendiri. Sedikit banyak gue mulai paham tentang pemikiran mereka yang dulu  peduli dengan tempatnya, selalu menyuarakan perubahan ke arah yang lebih baik, namun ternyata (di)beda(kan) prinsipnya, tidak pernah didengar lagi dan ujung-ujungnya capek dan pergi. Siapa yang tahan kalau cuma disuruh mendengarkan tapi tidak pernah didengar?

Gue bukan orang yang mau begitu saja mengkritik tanpa meninggalkan saran atau solusi. Gue belum paham mati tentang hal seperti ini. Tapi apa yang gue percaya, dan seperti yang buku sosiologi katakan, semua orang punya peran dan kapasitas masing-masing. Semua orang punya tempatnya, dan semua tempat ada 'orangnya'. 

Tulisan ini bukan tulisan berbasis jurnal atau buku-buku Soejono Soekanto maupun Miriam Budiarjo . Ini tulisan tentang pengalaman, karena pada akhirnya pengalaman adalah guru terbaik. Silakan bilang gue sok tahu, tapi begitulah adanya yang gue pikirkan sekarang.


Terakhir, 
Untuk kalian yang selalu ingin berbicara tapi selalu menahan karena merasa tidak akan didengar, sampai kapan ingin tidak didengar? 
Untuk kalian yang sekarang sedang diatas, coba buka telinga dan mata lebih lebar, jangan sampai yang peduli merasa lelah dan akhirnya pergi tanpa pesan.