July 6, 2014

Berani karena Benar

Flashback itu kadang bahaya, ya. Apa yang tadinya tidak dianggap sebagai hal yang tidak menyenangkan, kalau kelamaan dipikirin bisa berujung menjadi hal yang menyebalkan.

Suatu siang di awal bulan Juli, gue sedang menunggu kereta menuju Bogor di Stasiun UI. Saat itu, di sebelah gue, duduk seorang Ibu dan anaknya, yang sepertinya baru duduk di sekolah dasar dan hendak pulang seusai ambil rapor.  Karena posisi yang bersebelahan, otomatis gue bisa mendengar percakapan mereka. Sebagai orang yang kepo, gue pun curi-curi dengar obrolan mereka. Hehehe.

Kurang lebihnya percakapan  mereka berdua seperti ini,

I: De, tadi bu guru ade bilang, katanya ade suka ngelawan guru. Kok gitu de?

A: Ade beberapa kali pernah bilang kalau jawaban bu guru beda sama yang ade tau, waktu ditanya kenapa sama bu guru, ade jelasin alasannya ke bu guru soalnya ayah pernah jelasin ke ade, malah dibilang ade salah, soalnya di buku udah dijelasin. Kok ade dibilang ngelawan ya bu…?

Setelah percakapan itu, si anak mengusap mata, seperti hendak menahan tangis.

Miris.

Pertama, kasian, si anak ini sudah bisa loh melihat perbedaan jawaban dalam soal yang sama lalu mengkritisi di umurnya yang masih menginjak usia sekolah dasar, tapi tidak dijelaskan kenapa Ia bisa berbeda pendapat dengan gurunya. Malah diberi alasan kalau dia salah karena berbeda dengan buku yang ada.

Kedua, entah apa yang ada di pikiran si guru yang bilang kalau hal itu disebut melawan guru. Mungkin sampai sekarang, kita masih terikat adat ketimuran yang bilang orang (yang lebih) tua selalu benar.

Oke, kalian bisa bilang, “Yaelah, namanya juga guru SD. Beda kan sama guru SMA atau dosen.”

Bagi gue, guru tetaplah guru. Ketika murid meminta penjelasan, harusnya ia bisa memberikan penjelasan yang bisa diterima.

Lalu, kenapa hal kayak gini sampai gue post? Ada kaitannya juga dengan dua kalimat awal postingan ini. Flashback.  Gue sangat mengerti rasa heran anak ini karena dulu gue pernah mengalami hal yang sama dengan si anak.

Singkat ceritanya begini

Saat kelas 6 SD, yang masih sangat gue ingat karena hari itu adalah hari pengumuman kelulusan, gue ‘dikerjai’ oleh guru-guru di SD gue. Ketika semua teman gue di kelas sudah mendapatkan amplop yang berisi tulisan LULUS/TIDAK LULUS,  hanya gue yang belum memegang amplop tersebut. Heran, gue langsung berjalan ke meja wali kelas dan menanyakan hal itu.

Sang wali kelas hanya menjawab, “Kalau nggak ada di Ibu, mungkin punya kamu masih ada di kepala sekolah, belum ditanda tangan. Coba kamu ke kantor kepsek.”. Dengan jawaban seperti itu dan dengan pikiran sederhana anak SD, gue langsung menghampiri kantor kepala sekolah. Jawaban yang gue terima sama, amplop tidak ada di beliau.

Begitu terus sampai gue dilempar sana-sini untuk nyari amplop itu yang katanya ada di Ibu ini, lalu di Ibu itu. Sampai akhirnya gue harus kembali lagi ke ruang guru dan menghampiri seorang guru yang pernah menjadi wali kelas gue di kelas 5.

Jackpot, ternyata amplop gue ada di beliau. Dengan sopan, gue meminta amplop tersebut. Respon yang gue dapati saat itu, kalau diingat-ingat lagi, mestinya bisa bikin anak SD nangis. Dan ya, gue masih ingat persis apa yang Ibu itu ucapkan saat itu kepada gue.

“Ibu nggak tau ya, akan kasih amplop ini ke kamu atau nggak. Abis kamunya gitu sih.”

Otomatis gue menjawab, “Saya kenapa bu, salah saya apa?”

Kemudian ibu guru itu menjelaskan mengapa amplop surat kelulusan gue ditahan, tidak seperti teman yang lain, adalah karena menurut guru-guru perilaku gue saat memasuki kelas 4-6 dianggap tidak menyenangkan. Menurut mereka, kala itu gue tidak nurut dan ngeyel dengan guru karena suka membantah beberapa ajaran yang diberikan saat pelajaran jika bertentangan dengan apa yang gue tahu. Malah, gue dibilang terkadang membentak guru atau berargumen dengan nada tinggi yang dianggap sangat tidak sopan.

Gue shock, sangat shock. Tapi entah karena sejak kecil gue bukan orang yang bisa menangis di depan orang lain, gue tidak menangis saat itu. Gue hanya mendengarkan ocehan sang ibu guru sampai dia selesai dan kemudian memberikan amplop itu setelah gue minta maaf.

Jelas gue sangat ingin menangis saat itu. Rasanya seperti diadili, tanpa bisa membela diri. Apalagi saat itu gue masih SD. Masih 11 tahun. Kasarnya, harus perang dalam diam melawan orang yang jauh lebih tua dari gue.

Bahkan, karena hal ini, orang tua gue sampai dipanggil ke sekolah seminggu kemudian.

Gue punya alasan untuk setiap perbuatan yang tadi beliau sebutkan.

Pertama, orang tua gue selalu menanamkan nilai keberanian kepada gue. Kita harus berani membela apa yang kita anggap benar. Masa saat itu mau diam saja ketika dijelaskan Jepara sebagai penghasil kayu damar padahal jelas-jelas Jepara terkenal karena kayu jatinya.

Ketika gue menyampaikan bahwa gue pernah membaca bahwa Jepara adalah penghasil Jati, Ibu Guru X hanya menjawab, “Pokoknya di kunci jawaban, jawabannya ini. Udah deh kamu jangan ngeyel.” Loh. Sampai sekarang gue masih ketawa kalau inget ini.

Kedua, membentak guru. Anak SD? Negur guru kalau ketemu di jalan aja waktu itu malu-malu kucing, ini lagi ngebentak guru. Poin ini yang sampai sekarang masih bikin gue tidak paham kenapa bisa keluar statement seperti itu. Mungkin bu guru kebanyakan nonton infotainment saat itu, jadi suka melebay-lebaykan. :)))

Tapi ya sudah lah ya, peristiwanya sudah terjadi 7 tahun lalu. Toh mau dibilang apa juga, tidak bisa diubah lagi.

Untungnya, ketika dipanggi kepala sekolah gue saat itu, orang tua gue cuma manggut-manggut aja dan menjawab dengan hal yang normatif. Nyokap pun ketika itu bilang ke gue, “Mama mah ketawa aja Ka waktu itu. Toh, Mama yang ngajarin harus berani kalau benar.” 
Despite of all my problems with my parents, I have such wonderful of them.

Makanya, ketika gue mendengar percakapan ibu dan anak itu di peron stasiun, gue sangat mengerti perasaan si anak karena secara tidak langsung anak itu adalah gue 7 tahun lalu.

Sekarang, gue cuma bisa berdoa,  semoga dalam 7 tahun ini kualitas guru sekolah dasar semakin membaik ya. Semoga guru-guru tersebut lebih bisa menanggapi jawaban kritis anak dan dijelaskan serta diarahkan ke arah yang benar. Lalu, kalau memang perbuatan anak salah, ya ditegur dengan cara didiskusikan baik-baik dengan anak dan diberitahu kalau perbuatannya tidak menyenangkan dan diberi solusi. Bukan malah anaknya ‘dikerjain’. :)

Oh iya, jawaban sang Ibu kepada anaknya siang itu bikin gue senyum sendiri.

“Oh, gitu de… Yaudah, Ibu percaya sama ade. Ade hebat udah berani bilang yang benar dan udah berani jujur ke Ibu. Abis ini beli es krim, yuk!.”

J


No comments:

Post a Comment