July 4, 2014

Dewasa?

Hinga bingar 9 Juli makin kesini makin kerasa, ya. Mungkin karena sudah masuk ke usia yang lebih diharuskan untuk lebih sadar dan melek sama hal yang beginian juga yang bikin obrolan-obrolan yang menjurus ke arah 9 Juli nanti jadi lebih 'seru'. Kalau gue sendiri merasakan perbedaan yang sangat jelas dibandingkan empat tahun lalu. 

No, no, gue ga akan bahas kelebihan si ini atau itu di postingan ini karena jujur, H-5 harus nyoblos aja gue bukan simpatisan dan (belum menjadi) pendukung salah satu calon yang ada. Gue masih searching-searching sampai mantap menentukan nanti. Hahahaha bahasa gue kampret ya. Hal yang mau gue curhatin sekarang adalah perubahan gue dan teman-teman gue dalam menghadapi pemilihan tokoh yang katanya bakal jadi pemimpin kita nanti.

Dimulai dari gue sendiri. Empat tahun lalu, hitungannya gue masih pelajar yang baru lulus SMP. Boro-boro mikirin pemilu, mikirin mau lanjut SMA di mana aja udah bikin mumet sendiri. Lagipula, saat itu gue belum punya hak pilih karena usia gue masih di bawah 17 tahun, belum punya KTP apalagi kartu pemilih. Jadi, saat itu gue nggak ambil pusing. 

Obrolan tentang capres-cawapres saat itu dengan teman-teman sebaya pastilah ada. Cuma kalau diinget-inget lagi, terkadang bikin geli sendiri. Saat itu hanya common sense yang berbicara. Informasi masih seadanya, biasanya cuma denger lewat berita sekilas dan dari obrolan orang tua yang belum tentu juga paham betul. Lalu kalau ngobrol dengan teman tentang urusan pemilu, biasanya cuma copas dari apa yang didengar, tanpa proses penyaringan dulu. Ya kan? Ngaku deh dulu lo seenggaknya pernah begitu. Hahahahah.

Sekarang? Bukan berarti sekarang gue sudah menjadi orang yang selalu tercerahkan. Lah, wong sampai sekarang gue masih belum menentukan akan memilih siapa. 

Rasanya geli juga kalau sekarang gue menjadi orang yang anti golput untuk pemilu. Pemilu di bulan April lalu aja, dengan jenis kertas suara yang banyak itu, gue masih menjadi orang dari golongan yang merusak kertas suara karena bingung harus memilih siapa dan akhirnya lebih memilih merusak kertas suara. Tapi ya, setelah di semester satu belajar Pengantar Ilmu Politik, pembelaan gue adalah sadar politik itu proses. Hahahhaah alasan aja ghas ghas.

Tapi serius, meski belum memutuskan akan memilih siapa, gue berjanji pada diri sendiri akan memilih salah satu dari yang ada. Makanya, sampai sekarang gue masih akan searching-searching sampai mantap. Untungnya sekarang nyari apa-apa udah gampang. Walau ini juga yang harus bikin hati-hati sama arus informasi, tak semua yang kamu baca itu nyata. Hahahahasek.

Satu hal lagi yang bikin senyum sendiri adalah, lo mengalami proses pendewasaan nggak sendiri. Teman-teman lo pun juga. Perbedaan dengan empat tahun lalu, ngomongin politik sama teman sendiri itu lebih asyik. Akan banyak informasi yang sebelumnya nggak lo tahu, lo akan dapat dari obrolan santai di kafe, kampus, kosan temen, atau bahkan di warteg. Niat awal sekedar nongkrong di kedai surabi pinggir jalan aja bisa jadi ajang ngobrol capres-cawapres yang seru. 

My point is, semua ambil positifnya aja deh. Mengutip kata Pandji di salah satu postingan blognya, agama akan menuntun lo untuk selalu khusnuzon, tapi hati nurani selalu meninggalkan ruang untuk keraguan. Memihak dan memilih itu pada akhirnya adalah hak masing-masing individu. Jadi saling menghargai aja. Apalagi sampe ribut sama temen sendiri gara-gara nggak sepaham dengan yang didukung? Elah bro.



No comments:

Post a Comment