December 31, 2014

Bandara

Tangerang, 28 Desember 2008.

Dear,

Saya marah sekali ketika tahu kamu pergi tiba-tiba. Tapi saya bisa apa? Mau menjerit hingga habis nafas pun kamu akan tetap pergi meninggalkan tanah ini. Saya cuma bisa sedikit lega ketika Bandara agak sepi pagi ini, jadi saya tak usah malu jika ingin menangis. Toh, Bandara pun sudah terbiasa dengan momentum pertemuan dan perpisahan.

-----

Tangerang, 31 Desember 2014

Dear,

Saya tidak pernah terlalu baik dalam menghadapi perpisahan. Perasaan sedih dan pasrah terkadang menjadi terlalu bias sehingga saya bingung harus menangis atau tidak, harus memeluk atau tidak, harus mengucapkan selamat tinggal atau tidak. Pada akhirnya saya hanya akan diam, berharap orang yang akan pergi di hadapan saya mendapatkan apa yang terbaik bagi dirinya.

6 tahun yang lalu, seseorang mengajarkan saya rasa dan arti perpisahan. Kala itu, saya masih terlalu kecil untuk mengerti. Hingga akhirnya sekarang, saya paham bahwa manusia memang selalu akan datang dan pergi, dikehendaki ataupun tidak.

Hari ini rasanya seperti deja vu, ketika saya harus kembali lagi ke tempat ini untuk hal yang sama. Saya harus kembali mengalami perpisahan di tempat yang sama, di waktu yang hampir sama, dan lucunya, dengan orang yang sama pula.

Hari ini saya memilih untuk memelukmu, erat, karena saya tidak tahu kapan akan melihatmu lagi. Hari ini saya memilih untuk mendoakanmu, agar nanti di tempat barumu, semua hal bisa berjalan seperti yang diharapkan. Hari ini saya memilih untuk mengucapkan selamat tinggal, untuk kita, untuk cerita kita selama 6 tahun ke belakang, untuk kehidupan lama yang terus membelenggu.

Hari ini kita mengakhiri dan memulai, di penghujung tahun. Desember adalah bulan kita.

"I wonder when that day will come, when we step our path of our own. Once it has come, I have a feeling it will be in a split second. 
Mario
-Melbourne, September 2011."

No comments:

Post a Comment