December 31, 2015

2015

Merangkum tahun yang akan berlalu merupakan sebuah ritual wajib sejak 2010 di blog ini. Saya memang suka menuliskan refleksi dari apa yang saya lalui selama setahun ke belakang. Tapi saya bukan tipikal orang yang menuliskan resolusinya untuk tahun depan. Saya—dengan jiwa kebebasan saya—berpikir bahwa resolusi itu omong kosong, bahwa hidup seharusnya bebas, bahwa target hanyalah kekangan yang membuat hidup tidak asyik. Biasanya saya hanya akan berdoa jika tahun depan akan lebih menyenangkan dari tahun sebelumnya. Biasanya hal itu terjadi, setiap tahun  hidup saya selalu makin menyenangkan. 

Hingga pada akhir 2014 lalu, saya merasa hidup kurang ‘greget’. Saya mau sesuatu yang menyenangkan lagi (iya, memang manusia tidak pernah puas, selalu minta lebih). Karena merasa di tahun 2014 saya sangat sedikit membaca buku dan berpergian, akhirnya saya memasang resolusi yang masih sangat sederhana untuk tahun 2015; read more, travel more. Saya mau hidup lebih progresif.

Menginjak penghujung tahun, saya cukup bangga dengan diri sendiri. Saya berhasil membaca 14 buku fiksi dan non-fiksi (meski melenceng dari target 24 buku dalam setahun), berpergian lebih sering dan telah mengunjungi 5 kota berbeda di luar Jawa Barat dan Pulau Jawa selama satu tahun terakhir, menonton lebih banyak film bagus, dan kembali bergabung dengan Gerakan UI Mengajar. Secara umum, saya merasa resolusi tahun 2015 cukup tercapai.

2015 adalah tahun yang lucu karena dalam beberapa kesempatan, saya berhasil menekan habis ego saya untuk melakukan hal yang tidak saya sukai sebelumnya. 

Pertama kalinya dalam hidup, saya punya teman sekamar. Dulu saya sangat anti dengan ngekos berdua karena berpikir hal ini dapat mengurangi kebebasan dan ruang privasi saya, dan sebenarnya saya malas cari orang yang bisa toleransi dengan ketidakacuhan saya kalau kamar sedang berantakan. Hehe. Untungnya, teman sekamar saya, Luna, adalah orang yang sifatnya sama seperti saya, jadi saya bisa menjalani hidup satu kosan dengan damai.  Ternyata ngekos berdua enak juga, bisa pinjem barang, bisa minta makanan, dan ada yang membangunkan juga kalau saat ketiduran saat nugas atau kesiangan bangun saat mau kuliah. Hehe.

Selain itu, akhir November lalu saya berhasil menjuarai sebuah kompetisi ilmiah di Fakultas tempat saya kuliah. Saya dapat juara 2 dalam bidang PKM Kewirausahaan. Buat saya, ini hal lucu karena saya sangat tidak suka membuat PKM dan tidak suka dunia kewirausahaan. Tapi mungkin semesta ingin mengajarkan kalau menutup diri dari segala sesuatu yang tidak kita sukai itu tidak baik. Salah seorang teman saya bilang, “mungkin di dunia ini banyak hal yang lu benci ternyata baik buat elu”.

2015 juga sebuah tahun yang penuh cinta. Ewwwwh. Beberapa teman dekat saya sudah ada yang tunangan, menikah dan sedang menunggu kelahiran anaknya. Lalu bagaimana dengan saya?

Tahun ini, ada seseorang yang membawa warna baru dan memberikan banyak pelajaran bagi diri saya. Orang yang saat itu memberikan kenyamanan dan rasa bahagia. Saya mengutip salah satu tulisan Alain de Botton dalam Essays in Love (buku favorit saya): “Perhaps it is true that we do not really exist until there is someone there to see us existing, we cannot properly speak until there is someone who can understand what we are saying in essence, we are not wholly alive until we are loved.” Dalam beberapa waktu, saya merasa lebih hidup, karena kehadirannya. 

Tapi mungkin itu juga kesalahan terbesar saya tahun ini. Saya terlalu bersandar pada kehadiran orang lain untuk membawakan saya kebahagiaan (terima kasih Olga atas ngobrol singkatnya via Line yang akhirnya membuat saya sadar tentang hal ini). Saya lupa bahwa kebahagiaan sejati datang dari diri sendiri. Padahal, sebelumnya saya pernah menulis “….is what really happen when you rely on someone else to bring you happiness. It’s just hard, because if they leave, so does your happiness”, tapi saya juga yang lupa. Iya, kalau orangnya ada, kita bahagia, kalau orangnya pergi, bahagianya juga pergi.  Emang 5 huruf itu efeknya bahaya, ya. Hehe. 

Intinya….ya saya turut bersuka cita tahun ini karena teman-teman saya bahagia dengan hidupnya bersama pasangannya, dan saya cukup senang karena ternyata saya bisa belajar banyak dari orang yang membuat saya harus merekonstruksi ulang definisi bahagia bersama orang lain bagi diri saya.

Jadi, tahun 2015 merupakan tahun yang cukup aneh. Ajaib. Mungkin kata ini yang paling dekat mendeskripsikan bagaimana tahun 2015 berlangsung bagi saya. Untungnya saya selalu dikelilingi orang-orang yang ajaib juga. Terima kasih untuk kalian yang selalu jadi energi positif buat saya selama ini. :)

Lalu tahun depan mau apa? Yang jelas, saya mau menyelesaikan kewajiban saya yang masih saya emban sampai tahun 2016.  Saya juga mau memasang target yang lebih banyak! Let’s read more than 14 books, travel to more than 5 cities, write more, and go abroad!


December 19, 2015

Bahagia

Bahagia seorang geek itu sederhana. Cukup beri ia waktu untuk memanjakan imajinasi masa kecil, dan kamu sudah bisa melihatnya tertawa atau menangis bahagia. 

Terima kasih JJ Abrams karena tidak merusak keindahan Star Wars! I am a happy, fulfilled, and satisfied geek. 

December 8, 2015





Hujan tidak pernah memilih dimana ia diturunkan,
Karena pada akhirnya mereka akan kembali ke langit yang sama.

Hujan tidak pernah memilih kepada siapa ia memberi penghidupan,
Karena pada akhirnya, semua akan menari karenanya.

Hujan tidak pernah bertanya mengapa ia menjadi bencana,
Dan tidak pernah sesumbar atas dirinya yang kerap menjadi poesi.

Hujan, hanya menyampaikan amanah mendung kepada akar yang merindukannya.







***
Beberapa hari yang lalu, di sebuah grup chat, saya iseng meminta seseorang untuk membuatkan saya puisi,
dan inilah hasilnya.

Puisi ini dibuat oleh Arief Wicaksono, salah satu rekan saya di Gerakan UI Mengajar Angkatan 5.
Terima kasih, Wicak! Saya anggap ini kado awal di bulan Desember. :)

November 11, 2015

Yang Manis

Hari ini manis
Langit biru
Waktu santai
Kopi dingin, manis

Hari ini
Ada yang hilang
Teman ngopi
Teman bicara

Cepatlah pulang


October 3, 2015

Malaikat dan Kumbang

Katanya, seseorang datang ke dalam hidup kita bukan tanpa perencanaan, semua orang punya alasan mengapa mereka ada di dalam hidup kita. Saya adalah satu dari sekian orang yang percaya dengan hal ini. Bagi saya, ‘Takdir’ hanya penyingkatan kata dari berbagai alasan  yang lebih luas lagi mengapa seseorang menjadi bagian dari hidup kita—sebentar ataupun lama.

Saat ini, ada seorang laki-laki yang datang.

Beberapa kali saya bercerita kepada seorang teman. Beberapa kali juga saya mengatakan bahwa saya heran mengapa bisa nyaman bersama dengan seseorang yang dalam banyak hal berbeda dengan saya. Dia yang rapi, saya yang serampangan. Dia yang lembut, saya yang blak-blakan. Dia yang senang berpikir jauh ke depan, saya yang lebih senang berpikir taktis dan praktis. 

Ya, mungkin ada 1001 perbedaan. Tapi, setelah sekian lama, ada lagi seseorang yang membuat saya merasa perbedaan bukanlah sebuah masalah. Kata teman saya, anggap saja itu anugerah.

Saya menikmati setiap obrolan dan diskusi tentang berbagai hal di sela-sela waktu minum kopi atau saat makan, saya menikmati saat melihat baris-baris kata di setiap obrolan virtual, saya terkadang tersenyum sendiri saat dia bilang “Biasa aja” di setiap perbuatan yang saya anggap…ehem…lucu, sweet atau romantis.

Kalau saya seorang pujangga, mungkin saya akan bilang dia adalah seorang malaikat yang dikirim semesta dari surga tertinggi. Sayangnya, saya tidak mau pakai kalimat itu. Pertama, saya bukan pujangga. Kedua, saya merasa malaikat adalah makhluk yang begitu sempurna, sedangkan apalah kita manusia. Ketiga, saya tahu dia tidak percaya tentang konsep malaikat secara spiritual. Jadi, saya akan berusaha mencari kata manis lainnya tapi bukan malaikat. Mungkin bulan, mungkin matahari, atau mungkin kumbang. Kumbang di hutan pinus saya—ya, karena saya suka hutan pinus.

Lalu, jika semua orang katanya memiliki andil dalam hidup orang lain, saya belum tahu apa alasan dia ada di hidup saya sekarang. Yang jelas, beberapa bulan belakangan ini, saya telah dibuat nyaman, pun saya telah diajarkan berbagai hal lewat berbagai cara.

Sekali lagi, dengan caranya, semesta telah membuat kupu-kupu itu berterbangan lagi. 

June 23, 2015

16.30



Dua jiwa
pada satu senja
di kota kembang
Berjalan ringan
Bercerita cinta

Dua jiwa
pada satu senja
di ibu kota
Melangkah dalam diam
Memendam rasa

Ke mana perginya senjaku?

Ada senja di dalam sini
Yang rindu disapa
dan diajak bercengkrama
layaknya takkan pernah datang malam




June 2, 2015

60 Jam Numpang Merenung di Kota Orang

Terkadang lucu bagaimana perjalanan melarikan diri—yang sangat singkat—justru menjadi perjalanan ‘menemukan apa yang hilang’. Senin, 25 Maret lalu, saya menginjakkan kaki kembali di kota Depok, tempat saya menuntut ilmu sekarang, setelah selama 3 hari sebelumnya numpang tidur di kota orang.

Hari Jum’at 22 Mei pada pukul 05.45 pagi, saya tiba di Kota Jogjakarta setelah seminggu sebelumnya secara impulsif saya membeli tiket kereta dengan alasan sederhana; penat dan sedang berada pada titik benci dengan kampus dan segala tetek-bengeknya. Jadi, secara tidak langsung perjalanan ini merupakan perjalanan lupa sementara dari segala kewajiban, tanggung jawab, dan kehidupan di kampus.

Kalau boleh jujur, saya tidak bangga dengan keputusan pergi ke luar kota dengan kesadaran penuh bahwa ada kewajiban dan tanggung jawab yang sedang minta dimanja dan tidak boleh ditinggal. Tapi, saat itu pembelaan yang selalu saya ucapkan dalam hati adalah: “Satu setengah tahun terkahir, saya banyak mengurusi kepentingan orang lain, sibuk bukan dengan pencapaian pribadi, dan se-terikat itu dengan rutinitas, jadi bukan sebuah keharaman kalau sekali-kali saya memanjakan jiwa, pikiran dan badan sendiri.” 

Tak lama setelah membeli tiket, saya mengabari Nina kalau saya akan datang ke Jogja. 

Lo mau ke sini dul? Mau ke mana aja?

“Mau bawa gue ke mana aja gue seneng deh, asal gue nggak di Depok, nggak ketemu orang-orang kampus. Eh, tapi nanti temenin gue ke Dieng, ya. Mau ngejar sunrise. Sisanya ke mana aja bebas.”

Pagi itu, saya sarapan dengan sepiring lontong sayur di pinggiran jalan Malioboro. Tenang. Entah karena bukan suasana Kukusan Teknik tempat saya sarapan setiap pagi yang saat itu dirasakan, atau memang Yogyakarta punya daya magisnya tersendiri dalam menciptakan ketenangan pagi, saat itu saya merasa makan dengan sangat damai dan yang jelas, tidak terburu-buru karena harus masuk kelas pagi secepatnya. Pagi saya semakin sempurna ketika ada pengamen jalanan yang menyanyikan lagu milik Dialog Dini Hari yang berjudul Jalan Dalam Diam—lagu dengan lirik yang sangat indah. Semesta memang asyik.

Selama di Jogja, saya numpang tidur di kost Nina, teman berjuang dan berbagi ide semasa SMA. Tiga hari di sana, Nina membawa saya ke banyak tempat: mendengarkan musik yang dilantunkan band-band kampus dan lokal Jogja di sebuah acara musik di UGM, makan-makan pada malam hari di sepanjang Jalan Kaliurang bersama Yogie dan Putri, mengunjungi situs sejarah pemandian Taman Sari, hening sejenak dan menikmati wangi buah pinus di hutan pinus Imogiri, mengantre untuk makan Gudeg Bromo yang terkenal di Jogja yang pada akhirnya tidak jadi karena malam itu kami berangkat ke Magelang untuk mengejar matahari terbit di atas Gunung Andong.

Semua perjalanan itu dilakukan secara mendadak, tanpa rencana. Setiap akan beranjak dari tempat yang saat itu dikunjung, saya, Nina dan teman yang ia bawa dapat berdiskusi hingga 15-20 menit untuk menentukan akan pergi ke mana selanjutnya. Lucunya, hal ini justru membawa kebahagiaan sendiri untuk saya. Sekali lagi, saya belajar bahwa berpergian tanpa ekspektasi apapun ternyata cukup menyenangkan. Bahkan perubahan tujuan yang tadinya ke Dieng menjadi ke Gunung Andong pun tetap saya nikmati.

Saat itu, saya sadar apa yang hilang dari diri saya. Apa yang selama ini saya cari hingga saya harus pergi jauh ke kota orang.

Saya abai terhadap spontanitas dalam hidup, yang dulu saya agung-agungkan. Saya, sekarang, terpaku pada rutinitas, jadwal, dan lini masa. Saya tidak tenang, bahkan cenderung takut jika saya tidak merencanakan apa yang akan saya lakukan besok, minggu depan, bulan depan, bahkan sampai tahun depan. Saya terbentuk menjadi apa yang dikatakan sebagai manusia modern yang selalu diburu oleh waktu untuk melakukan berbagai hal yang didefinisikan sebagai produktif. 

Teringat sebuah kutipan dari film yang rilis tahun 1986, Ferris Bueller’s Day Off; 
“Life moves pretty fast. If you don’t stop and look around in a while, you could miss it.” 
Intinya tinggal kita memilih, mau tetap ikut pada tuntutan waktu, atau rehat sejenak dan menengok kanan-kiri hidup sesaat.

Apapun itu, tiga hari kemarin merupakan hari yang sangat menyenangkan buat saya. Perjalanan melarikan diri dengan bonus refleksi terhadap diri sendiri. Dan yang jelas, saya jatuh cinta, lagi, pada kota yang selalu berhasil membuat saya bahagia dengan ketenangan, kesederhanaan dan kebaikan orang-orangnya.

Terima kasih untuk Nina, Yogie, Putri, Fahmi, Gevi, Fahreza, Bangkit, Mahar, Rivi, Taufiq dan Anggie yang sudah menjadi teman jalan-jalan yang sangat menyenangkan!



P.S.
Saat saya mencari insight untuk tulisan ini, saya menemukan artikel bagus tentang bagaimana caranya berdamai dengan waktu dalam hidup yang serba dipacu, berjudul How Not To Hurry. Sila di-klik dan dibaca! :)




Ini waku di Imogiri. Kayak kenal. 
Ya, namanya juga hutan pinus.
Mau di Bogor, mau di Jogja, bentukannya sama. Hehe.


di Taman Sari, fotonya terpotong. Huu. 

Fahmi-Gevi-Fahreza, teman sekampus Nina yang ikut menemani
Gayanya absurd, maklumi aja, ya. Ini selfie yang kesekian puluh. Hehe. 

Dari atas gunung Andong. Terbayar walaupun rame banget!

5--tebak aja maksudnya apa.  Lagi jadi angka penting
dalam hidup sekarang. Hehe.

Ditemani teman Nina lagi, kali ini ada Anggie, Bangkit, Mahar, Rivi, dan
Taufiq.




May 18, 2015






Dan sementara
Akan ku karang cerita
Tentang mimpi jadi nyata
Untuk asa kita berdua

— Sementara, Float





May 17, 2015

A Face to Call Home

Tahu rasanya kesal dengan orang-orang dewasa tertentu karena terkadang obrolan mereka sangat membosankan? Tahu rasanya kesal dengan orang-orang dewasa tertentu karena mereka lebih tahu dunia nyata itu seperti apa, dan kau masih dibilang mahasiswa idealis yang belum tahu bentuk dunia? Tahu rasanya kesal ingin cepat lulus karena melihat mereka yang hidupnya—terlihat—lebih terarah?

Saya tahu.

Tapi ini nasib yang harus saya jalani, mahasiswi semester 4 yang hidup di tengah-tengah orang yang beranjak tua. Ketika obrolan di grup Whatsapp pada akhirnya hanya membahas ‘Kapan ngenalin calon, nih ke kita-kita?’ atau ‘Besok gue interview kerja, doain ya.’ atau ‘Lo sidang minggu depan? Gila! Good luck!’ atau ‘Gue mulai mikirin thesis gue, bantu cariin judul, dong’ atau ‘Gue baru dapet sinyal nih, pedaleman sih, eh gue minggu depan cuti, bisa balik ke Bogor loh!’ atau obrolan-obrolan lainnya khas orang-orang yang sudah mempersiapkan perancangan hidupnya dengan matang. 

Terkadang lucu ketika justru saya menimpali dengan hal-hal semacam ‘Gue tadi telat kelas, ga boleh masuk’ atau ‘Doain ya besok gue UTS’ atau ‘Elah ini dosen ga tau diri banget sih ngasih tugasnya’ atau hal-hal lainnya khas mahasiswa menuju tahun ketiganya. Rasanya cerita saya tidak ada apa-apanya dengan apa yang mereka hadapi.

Untungnya, saya hidup di tengah-tengah mereka. Nanti, saya tidak perlu kaget dengan dunia orang dewasa yang (dibikin) rumit itu seperti apa. Iya, dari mereka saya belajar banyak. Dari mereka, saya punya keluarga yang lain.




There are people you just can’t live without, no matter how meddlesome and stunned they are.

I am lucky I’ve found mine.


May 5, 2015





Anak tidak hanya butuh disembuhkan lukanya 
setelah berdarah
Anak butuh bahagia dalam menyembuhkan
Anak tidak butuh menghafal 
Anak butuh mengerti
Anak tidak butuh dilarang untuk disiplin
Anak butuh mengerti mengapa disiplin dibutuhkan
Anak butuh mengerti
Anak butuh objek

-N.S.




***

Rows of sincere words, coming from a boy who got hurt in his early adult.
No matter how old you are, you are kid to your parents.

May 3, 2015

When Life Gives You Lemon.....

It is delightful when you get really really bored, feel like yelling "I'M ENOUGH!" to every kind of thing that holds you right now,
you just find something to light up your day, sided by great companion.

First, it was talking to my research informant last Friday, he told many awesome stories and how I can learn so many things from him.

Second, it was yesterday, when I went to Europe on Screen—an annual Europe film festival—and watched three good movies with a dear friend that could really boost my mood. And also, I was having an afternoon walk, which is something I love but haven't done in a long time.

Antboy - Citizenfour - Morocco


When life gives you lemon, it gives you sugar as well. So what the hell, life goes on!

Terima kasih Gumilang yang mau menemani nonton seharian dan memenuhi bm-an sejak sebulan lalu!  J


May 1, 2015

Narapidana

Jum’at, 1 April 2015.

Hari ini saya mendapat sesi ‘kuliah’ gratis dari seorang mantan preman yang pernah menghuni LP Cipinang di tahun 1985 selama kurang lebih 8 tahun potong remisi.  Hal itu bermula ketika saya diberi tugas penelitian karier kriminal dalam mata kuliah Metode Penelitian Kriminologi dua minggu yang lalu. Singkatnya, setelah melalui beberapa lika-liku, kelompok saya akhirnya mendapatkan informan yang sesuai dengan kriteria yang sudah ditentukan. 

Informan saya menceritakan segala lika-likunya saat berkecimpung di dunia kriminal. Ia juga menceritakan secara rinci bagaimana ia menjalani proses peradilan pidana ketika kasus perampokan menyeretnya ke jeratan hukum. Takjubnya saya, semua yang ia ucapkan persis dengan apa yang dosen saya ajarkan di kelas Sosiologi Peradilan Pidana.

“Saya nggak sekolah, tapi saya tahu proses mulai orang ditangkep polisi, masuk ke pengadilan, ngajuin banding sampai kasasi, karena ya saya ngalamin sendiri,”

Rasanya jadi tamparan buat saya yang sudah dibayari kuliah mahal-mahal oleh orang tua , namun masih ‘picky’ terhadap ilmu yang didapati. Bahkan informan saya lebih paham tentang proses peradilan pidana dibandingkan saya yang mengambil 3 SKS mata kuliah Sosiologi Peradilan Pidana semester ini.

Jadi benar pernyataan yang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Toh, yang dicekoki teorinya belum tentu  lebih paham daripada mereka yang mengalami langsung. Kritik terhadap diri sendiri adalah ya sudah dikasih teorinya, harusnya lebih paham keadaan di lapangan seperti apa.


Hari itu saya belajar bahwa ilmu dapat diperoleh dari mana saja, bahkan dari orang yang dipinggirkan oleh masyarakat seperti contoh di atas yaitu mantan narapidana. Asiknya jadi anak Kriminologi, ya bisa berhadapan dengan orang-orang yang terkadang dipinggirkan oleh masyarakat itu. J

April 20, 2015

Never End




Bersama kalian, saya bisa selepas itu menghadapi waktu. Saya bebas jingkrak-jingkrak dan bernyayi lantang tanpa peduli notifikasi di telepon genggam yang menagih deadline ini itu. Bersama kalian, saya bisa lupa dunia. Lupa kalau di belahan bumi Depok sana ada kehidupan yang ‘rewel’ untuk diberi atensi terus-menerus. Terima kasih karena telah dan masih menjadi salah satu sumber tawa dan bahagia utama dalam hidup. Kalau kata Bowling for Soup sih, high school never ends. J

April 15, 2015

Falling in Love (?)

I was at my Uncle’s second wedding last month when some of my relatives asked those questions you’d frequently find in your 20s.

“Rin, pacarnya mana sekarang? Kenalin dong.”
“Rina sekarang sama siapa? Pasti pacarnya ada nih di kuliahan.”
“Rina rencana nikah umur berapa?”—I……this…..what…..

By then, I realized I’ve reached stage of life when my family begins to have interests on my love life. 

Four days ago, I had this conversation via Whatsapp with my dear friend that got me thinking. I said I am currently busy—or make myself busy—with my activities, happy with my personal achievements, free of being independent early-adult woman who can do anything that breaks every possible boundary, and think that relationship stuff does not perfectly fit with me right now. Then, he said 'You can’t really take only the good part of being alone. As well as you can’t only take the good part of being in a relationship. Both things force you to take the shittiest part of each way.'

He was right, but i have my point.

There are reasons why I find relationship is a very strong word for me, now.

It makes me feel vulnerable, exposed, and left uncertain. Falling in love and having relationship mean taking a real risk. If I can quote Dr. Lisa Firestone from Psychology Today, we are placing a great amount of trust and our self in another person, allow them to take care of us, affect us, that makes us feel okay of being vulnerable—or challenged. 

Intimacy, care, love are also very close with hurt, rejection and abandonment. The worst part is that the more we care, the more we can get hurt. The more we find someone is meaningful for us, the more we're afraid of losing them, of letting them go. What really happen is when you are in a relationship, you rely on someone else to bring you happiness. It’s just hard, because if they leave, so does your happiness.

My previous romance relationship taught me so much that even trust and love are not enough. Shit happens when shit happens. Eventually, we’ll hurt each other.

This trust issue is killing me, really. It’s cute when some couples do cute stuff together. I find them lucky and luckier.

Maybe I just haven’t met the right man. Maybe I’m not ready to be ‘vulnerable’ and start over again. Or maybe I'm just a self-centered person who is very comfortable being in her zone. Cliché, though. 

At last, my dear friend said, “Jangan menutup diri dari segala kemungkinan ya.

No, I won’t.


In fact, there are butterflies in my stomach now. 

April 11, 2015

The Voice



There is a voice inside of you
That whispers all day long,
"I feel this is right for me,
I know that this is wrong."
No teacher, preacher, parent, friend
Or wise man can decide
What's right for you--just listen to
The voice that speaks inside.
 
Shel Silverstein


April 4, 2015

A Message

Hello there,

It’s past midnight here, my favorite time by the way

It gives me time and space to think

All those complicated stuff I’ve been into

You know,

I was walking alone this morning

I saw an old couple, walking together side by side

They held each other’s hand

With happy smiles covered by wrinkles  

When they looked into each other's eyes

By that I know, forever is not impossible

Then I remember us,

We promised to be forever

But funny how time changes people

How fast it changed us that we have grown apart

And now I think,

Forever is overrated

These rows of words,

It’s a thank you letter
For reminding me what reality really is

It’s not a letter you should reply

It is just a message,
Delivered by the wind,
To a man far-far away,

From the woman who loses him.

March 29, 2015

100 Kata

Sudah pada dapat surat di hari terakhir aksi, kan?

Ya, ini adalah surat cinta jilid 2 untuk kalian, dan mungkin terakhir. Cigitu terakhir. Canda. Surat ini sama seperti yang pernah diberikan saat hari terakhir aksi, bedanya kali ini surat  ini dapat dibaca semua orang karena dipublikasikan online, dan dituliskan dalam format 100 kata.

Ini adalah surat cinta untuk manusia Titik 1 yang absurd tapi sangat lovable.  Terima kasih sudah menjadi energi positif baru di hidup gue saat ini. J

Sila dibaca! (baca sampai akhir, ya!)

Dear Nismen,
Terima kasih sudah menjadi CED yang sangat penyayang, tak kenal pamrih, suka menolong dan penuh perhatian. Korlapmu tidak akan pernah lupa jasa-jasamu yang sering ngejajanin anak-anak Titik 1 ketika nggak punya uang receh buat beli gorengan atau bihun gulung yang fenomenal itu. Titik 1 sangat beruntung punya seorang Nismen karena selain menjadi CED yang menjalankan tugasnya sebagai intervensi masyarakat, kita memiliki seseorang yang kemampuan gambarnya dapat dimanfaatkan secara sporadis (baca: seksi dekor dadakan). Semangat terus Nismen yang selalu bawa maket dan gulungan kertas ke mana-mana! Btw, move on ya, Men. Jangan jalan-jalan sama mantan terus akhirnya baper. #eh

Dear Ucheng,
Hai Om, jodohnya apa kabar? Semoga nggak nyangkut terus di tangan Tuhan ya. Melalui surat ini, korlapmu mau membuat sebuah pengakuan. Dikira, anak RED strict semua, ternyata ada makhluk nyantai nyelip sebiji dan untungnya ditempatkan di titik 1. So, terima kasih sudah menjadi orang yang santai, gak ribet, tapi taktis! Ga percuma, dua kali survey telah mengantarkan Om sebagai Kepala Sekolah yang dicintai oleh pengajar di Titik 1. Harus seneng ya akhirnya ada yang mencintai. Hehehe. Semangat skripsiannya! Semoga bulan Agustus nanti udah dinyanyiin maba di Balairung, ya. Nggak kok, bukan di-hu-in lagi sama massa buat turun panggung. Engga. J

Dear Wawan,
Kalau award terkadang nyebelin terkadang ngangenin per titik di acara syukuran kemarin, menurut gue anak Titik 1 yang seharusnya dapat sih lo, Wan. Walaupun 90 persennya ada di bagian nyebelin. Tolong kelakuan absurd-nya dikurangi ya. Behave, ingat jodoh ada di mana-mana. Hehehe. Semoga ilmu dan kemampuan mengatur keuangan Titik 1 hingga akhirnya ga kekurangan uang, bahkan surplus, terus kepake ya sampai nanti jadi manajer handal perusahaan multinasional! Eh, tapi cita-citanya kan jadi politikus handal, ya? Yaudah, kalau begitu korlapmu berpesan ketika udah jadi politikus handal, jangan nilep duit partai, ya, apalagi duit rakyat. Malu sama Neng Pia loh. Hehe.

Dear Nabila,
Dulu PR Titik 1 itu Nan*s, semua berubah ketika negara api menyerang. Ternyata Nabila adalah jelmaan Veny Rose yang ditakdirkan untuk berlabuh di Titik 1. Yay! Mungkin tanpa Nabila, tiap malam gak akan ada obrolan hangat di kamar wawan (sofa) tentang gossip-gossip hangat Puncakmanggu. Terima kasih ya Nab sudah jadi intel dari ibu-ibu genggos yang hits-hits banget itu. Eh iya, jangan lupakan mimpi kita bikin usaha peternakan di Puncakmanggu ya, Nab! Hahaha. Semoga Puncakmanggu memberikan ratusan kenangan yang indah ya. Yang jelek-jelek dibuang aja, apalagi rasa sakit hati sama Sajili waktu disangka pembantu padahal koki. Ili sayang Nabila, kok. J

Dear Nuurul,
Video titiknya goks!!! Nggak sia-sia ya setiap hari mengabadikan momen di titik baik itu video ataupun foto sampai bosen. Coba rul, udah pernah kepikiran buat laporin Ucheng ke KPAI belum karena mengeksploitasi anak dokumnya buat ke sekolah terus sampai stress dan akhirnya ga pernah ikut kalo panita yang lain main ke hutan atau ladang? Coba aja sih rul, saran gue. Hehehehe. Btw, kalimat ‘jadi konformis itu ngebosenin’ terus terngiang di otak gue sampai sekarang, loh. Semoga Nuurul tetap menjadi Nuurul yang jujur dan apa adanya, yang selalu memberikan pertanyaan simple tapi nyelekit di game ‘Truth or Truth’. Semangat buat GUIM 5nya!

Dear Nia,
Bagaimana penyaluran minat berkebun dan bertaninya? Semoga selalu dilancarkan ya. Nia, korlapmu mau jujur, dia baru tau muka Nia waktu ketemu buat nanyain Iman Usman. Iya, itu dua bulan sebelum aksi, maaf ya. Heheh. Ternyata dibalik mukanya yang polos, tersimpan jiwa dan pribadi yang sama sekali nggak polos, apalagi waktu lagi ngepoin orang, juara. Titik 1 beruntung memiliki Nia yang selalu menjadi moodbooster semua orang dengan ocehannya yang walaupun nggak diniatkan untuk ngelucu, tapi tetap lucu. Semoga dengan menjadi medis di Titik 1, sedikit demi sedikit lebih mengerti tentang dunia obat-obatan (nggak terlarang) ya. Siapa tau nanti suaminya dokter. J

Dear Farid,
Doraemonku! Di sini gue akan menyampaikan 5 kalimat terima kasih untuk Farid. Terima kasih telah menjadi akomo yang gesit dan cekatan. Terima kasih sudah menjadi teknisi dadakan SDN Puncakmanggu. Terima kasih sudah menjadi penyambung selang air demi kepentingan umat rumah Ibu Maesaroh.  Terima kasih akhirnya Farid mau belajar naik motor di Balekambang dengan jalanan yang terjal berbatu itu! Terima kasih sudah menjadi Farid yang bisa menjadi segalanya dan membuat segalanya!  Selain  gaul sama robot, ternyata gaul sama anak-anak enak juga, kan? Hehehe. Mungkin bisa suatu saat di masa depan bikin robot yang ramah buat anak. Robot yang hobi melet-melet, mungkin?

Dear Ka Mbing,
Sebelumnya mau minta maaf kalau sering menjadikan Ka Mbing bahan ceng-cengan. Percayalah, itu semua demi kepentingan umat Puncakmanggu, walaupun gue juga mendapatkan kesenangan dibaliknya. Hehehe. Terima kasih Ka Mbing karena mau bergabung ke kehidupan di Titik 1. Awalnya sempat skeptis dengan BEM karena dapat cerita, yang dulu-dulu hanya ikut aksi GUIM tapi nggak banyak turun langsung. Semua terbantahkan dengan kehadiran Ka Mbing. Kalau Ka Ivan dapat award Ter-Melayani Umat, Ka Mbing sudah sepantasnya dapat award Ter-Cemplung. Kenapa Ter-Cemplung? Karena gampang banget ‘nyemplung’ langsung membantu anak-anak Titik 1 dan akrab dengan warga sekitar sampai dikangenin sama Pak Iwan dan Bu Cucun. J

Dear Ka Ivan,
Dikira awalnya yang akan ke titik 1 bukan Ivan Riansa, taunya…… Kapan lagi seorang mantan ketua BEM UI ’dipekerjakan’ secara menyenangkan? Hehehe. Oiya, katanya aksi kemarin itu ‘liburan’ lagi setelah 3 tahun ga merasakan liburan, ya? Walaupun hanya sebentar, semoga menikmati suguhan alam dan makanan di Puncakmanggu ya, Kak! Terima kasih sudah menjadi tamu yang menyenangkan dan membantu. Terima kasih sudah merelakan wibawanya hanyut bersama air cucian piring kotor. Terima kasih juga sudah melakukan perjalanan Depok-Puncakmanggu selama berjam-jam menggunakan motor demi kembali lagi ke Titik 1. Gue terharu, loh. Serius. Btw maaf gue lupa melulu mau bayar utang buku. J

Dear Maul,
Maul adalah orang GUIM favorit gue sampai sekarang. Kenapa? Karena gampang banget dibohongin dan selalu kemakan sama kebohongan sekecil apapun. Hehehe. Iya, mulai dari pertama kali ketemu di wawancara oprec panitia, sampai h-1 kepulangan aksi, lo masih berhasil gue bohongin. Ul, tau nggak, gara-gara truth or truth malem-malem ketika bilang lo ingin punya anak banyak karena mau masa tuanya ramai, gue jadi mau punya anak banyak dengan alasan yang sama. Gue doakan sifat keibuan lo akan terus mengalir sampai jadi nenek nanti, ya. Gue perhatiin sih, udah siap banget jadi Ibu. Calon suaminya aja sih yang belum ada. Hehehe. J

Dear Ella,
Mohon maaf ya karena bahkan ketika sudah sampai di titik, korlapmu ini masih suka ketuker antara Ella dan Iffah. Abis nama kalian mirip. Iya, mirip huruf pertama huruf vokal, lalu diikuti oleh huruf yang dobel. Sama kan? Ella masih hobi nyanyi (nyanyian absurd)? Tetap dipertahankan ya semangatnya. Berkat Ella, Titik 1 kenal istilah lagu bobo dan ingus jebret yang dahsyat itu. Azis apa kabar la? Gue baru sadar, gue punya tetangga yang mukanya mirip sama Azis. Eh iya la, makasih ya waktu itu sudah mau mengantarkan Rendy jalan-jalan ke Ciputat. Kita yang lain sih jalannya ke Tenjo Laut. Hehehe. J 

Dear Iffah,
Sama seperti Ella, mohon maaf ya kalau korlapnya suka ketukar antara Ella dan Iffah. Intinya, nama kalian mirip. Gimana progress jadi menteri pendidikannya. Fah? Semoga lancar. Gue mau nanya dong, kok lo ngurusin nikahan mulu deh? Saudara-saudara lo berarti lagi berada di masa subur ya. L Di antara semua tamu undangan itu, nggak ada satupun yang bisa dikenalin gue? Bilang aja gue pernah tinggal bareng sama lo. Hehehe. Btw, di cerita gue buat buku GUIM 4, ada nama Iffah loh. Bangga gak? Bangga dong harusnya. Makanya, jangan lupa beli bukunya yaa. Terus yg pertama kali dibaca itu cerita gue. #maksa

Dear Mela,
Halo pengajar yang pertama kali gue temenin home visit dan langsung dapat medan yang aduhai sekali menuju kampung Ciputat! Terima kasih sudah mengenalkan gue dengan anak-anak kelas 4 yang selalu ceria nggak pernah kehabisan enerji kayak baterai Alkal*ne. Mungkin murid itu cerminan gurunya. Iya, Mela sama Pak Falah itu punya kesamaan; sama-sama ceria dan murah senyum. Untung nggak cengengesan kayak Wawan sih. Heheh. Gue seneng banget punya teman setitik sesama anak FISIP. Tau kan populasi anak FISIP di GUIM bukan yang mayoritas? L Semangat terus mel untuk suma dan segala urusan lainnya! Semoga gak kebul otaknya jadi anak kamed. J

Dear Risky,
Halo sensei kembarannya Adimas! Gimana codingnya? Lancar? Semoga ngode sana-sininya juga lancar, ya. Kok Risky sekarang jarang nongol di grup? Bete ya sama akoh? Huhuhu. Maaf ya kalo korlapnya punya salaah. Ayok dong ramaikan grup lagi seperti dahulu kala. Oiya, belum bilang terima kasih. Terima kasih ya waktu di awal-awal grup terbentuk, lo selalu menjadi orang pertama yang menanggapi gue. Btw, gimana kabar anak sukamadu? Eh, sukamadu bukan sih namanya? Maaf lupa. Hehehe. Keep contact ya sama anak-anaknya. Gue sangat yakin lo sudah sangat menginspirasi mereka. 25 hari di sana, lo udah jadi pahlawan mereka, kok. Jangan bersedih lagi yaaa!

Dear Gumilang,
Ah bosen sama yang ini mah. Ga deng. Canda. Hehehe. Skripsinya apa kabar? Semoga dalam keadaan sehat walafiat ya. Saya dan keluarga di sini baik-baik saja. *format surat anak SD*

Bosen gak Gum dengerin curhatan random korlapnya? Gue mau curhat dong. Masa kemarin gue mimpi lo nikah sama anak Puncakmanggu. Nah di sana ada pesta rakyat. Terus tiba-tiba di antara tamu undangan, ada mantan gue. Sekian. Anti klimaks. Intinya, gue bersyukur lo selalu menjadi orang yang mau mendengarkan ocehan random gue sampai sekarang, dan entah kenapa ocehan gue selalu diladenin. Btw, boleh request gak kak? Botakin rambutnya lagi dong. L


With love,

Korlapmu