March 29, 2015

100 Kata

Sudah pada dapat surat di hari terakhir aksi, kan?

Ya, ini adalah surat cinta jilid 2 untuk kalian, dan mungkin terakhir. Cigitu terakhir. Canda. Surat ini sama seperti yang pernah diberikan saat hari terakhir aksi, bedanya kali ini surat  ini dapat dibaca semua orang karena dipublikasikan online, dan dituliskan dalam format 100 kata.

Ini adalah surat cinta untuk manusia Titik 1 yang absurd tapi sangat lovable.  Terima kasih sudah menjadi energi positif baru di hidup gue saat ini. J

Sila dibaca! (baca sampai akhir, ya!)

Dear Nismen,
Terima kasih sudah menjadi CED yang sangat penyayang, tak kenal pamrih, suka menolong dan penuh perhatian. Korlapmu tidak akan pernah lupa jasa-jasamu yang sering ngejajanin anak-anak Titik 1 ketika nggak punya uang receh buat beli gorengan atau bihun gulung yang fenomenal itu. Titik 1 sangat beruntung punya seorang Nismen karena selain menjadi CED yang menjalankan tugasnya sebagai intervensi masyarakat, kita memiliki seseorang yang kemampuan gambarnya dapat dimanfaatkan secara sporadis (baca: seksi dekor dadakan). Semangat terus Nismen yang selalu bawa maket dan gulungan kertas ke mana-mana! Btw, move on ya, Men. Jangan jalan-jalan sama mantan terus akhirnya baper. #eh

Dear Ucheng,
Hai Om, jodohnya apa kabar? Semoga nggak nyangkut terus di tangan Tuhan ya. Melalui surat ini, korlapmu mau membuat sebuah pengakuan. Dikira, anak RED strict semua, ternyata ada makhluk nyantai nyelip sebiji dan untungnya ditempatkan di titik 1. So, terima kasih sudah menjadi orang yang santai, gak ribet, tapi taktis! Ga percuma, dua kali survey telah mengantarkan Om sebagai Kepala Sekolah yang dicintai oleh pengajar di Titik 1. Harus seneng ya akhirnya ada yang mencintai. Hehehe. Semangat skripsiannya! Semoga bulan Agustus nanti udah dinyanyiin maba di Balairung, ya. Nggak kok, bukan di-hu-in lagi sama massa buat turun panggung. Engga. J

Dear Wawan,
Kalau award terkadang nyebelin terkadang ngangenin per titik di acara syukuran kemarin, menurut gue anak Titik 1 yang seharusnya dapat sih lo, Wan. Walaupun 90 persennya ada di bagian nyebelin. Tolong kelakuan absurd-nya dikurangi ya. Behave, ingat jodoh ada di mana-mana. Hehehe. Semoga ilmu dan kemampuan mengatur keuangan Titik 1 hingga akhirnya ga kekurangan uang, bahkan surplus, terus kepake ya sampai nanti jadi manajer handal perusahaan multinasional! Eh, tapi cita-citanya kan jadi politikus handal, ya? Yaudah, kalau begitu korlapmu berpesan ketika udah jadi politikus handal, jangan nilep duit partai, ya, apalagi duit rakyat. Malu sama Neng Pia loh. Hehe.

Dear Nabila,
Dulu PR Titik 1 itu Nan*s, semua berubah ketika negara api menyerang. Ternyata Nabila adalah jelmaan Veny Rose yang ditakdirkan untuk berlabuh di Titik 1. Yay! Mungkin tanpa Nabila, tiap malam gak akan ada obrolan hangat di kamar wawan (sofa) tentang gossip-gossip hangat Puncakmanggu. Terima kasih ya Nab sudah jadi intel dari ibu-ibu genggos yang hits-hits banget itu. Eh iya, jangan lupakan mimpi kita bikin usaha peternakan di Puncakmanggu ya, Nab! Hahaha. Semoga Puncakmanggu memberikan ratusan kenangan yang indah ya. Yang jelek-jelek dibuang aja, apalagi rasa sakit hati sama Sajili waktu disangka pembantu padahal koki. Ili sayang Nabila, kok. J

Dear Nuurul,
Video titiknya goks!!! Nggak sia-sia ya setiap hari mengabadikan momen di titik baik itu video ataupun foto sampai bosen. Coba rul, udah pernah kepikiran buat laporin Ucheng ke KPAI belum karena mengeksploitasi anak dokumnya buat ke sekolah terus sampai stress dan akhirnya ga pernah ikut kalo panita yang lain main ke hutan atau ladang? Coba aja sih rul, saran gue. Hehehehe. Btw, kalimat ‘jadi konformis itu ngebosenin’ terus terngiang di otak gue sampai sekarang, loh. Semoga Nuurul tetap menjadi Nuurul yang jujur dan apa adanya, yang selalu memberikan pertanyaan simple tapi nyelekit di game ‘Truth or Truth’. Semangat buat GUIM 5nya!

Dear Nia,
Bagaimana penyaluran minat berkebun dan bertaninya? Semoga selalu dilancarkan ya. Nia, korlapmu mau jujur, dia baru tau muka Nia waktu ketemu buat nanyain Iman Usman. Iya, itu dua bulan sebelum aksi, maaf ya. Heheh. Ternyata dibalik mukanya yang polos, tersimpan jiwa dan pribadi yang sama sekali nggak polos, apalagi waktu lagi ngepoin orang, juara. Titik 1 beruntung memiliki Nia yang selalu menjadi moodbooster semua orang dengan ocehannya yang walaupun nggak diniatkan untuk ngelucu, tapi tetap lucu. Semoga dengan menjadi medis di Titik 1, sedikit demi sedikit lebih mengerti tentang dunia obat-obatan (nggak terlarang) ya. Siapa tau nanti suaminya dokter. J

Dear Farid,
Doraemonku! Di sini gue akan menyampaikan 5 kalimat terima kasih untuk Farid. Terima kasih telah menjadi akomo yang gesit dan cekatan. Terima kasih sudah menjadi teknisi dadakan SDN Puncakmanggu. Terima kasih sudah menjadi penyambung selang air demi kepentingan umat rumah Ibu Maesaroh.  Terima kasih akhirnya Farid mau belajar naik motor di Balekambang dengan jalanan yang terjal berbatu itu! Terima kasih sudah menjadi Farid yang bisa menjadi segalanya dan membuat segalanya!  Selain  gaul sama robot, ternyata gaul sama anak-anak enak juga, kan? Hehehe. Mungkin bisa suatu saat di masa depan bikin robot yang ramah buat anak. Robot yang hobi melet-melet, mungkin?

Dear Ka Mbing,
Sebelumnya mau minta maaf kalau sering menjadikan Ka Mbing bahan ceng-cengan. Percayalah, itu semua demi kepentingan umat Puncakmanggu, walaupun gue juga mendapatkan kesenangan dibaliknya. Hehehe. Terima kasih Ka Mbing karena mau bergabung ke kehidupan di Titik 1. Awalnya sempat skeptis dengan BEM karena dapat cerita, yang dulu-dulu hanya ikut aksi GUIM tapi nggak banyak turun langsung. Semua terbantahkan dengan kehadiran Ka Mbing. Kalau Ka Ivan dapat award Ter-Melayani Umat, Ka Mbing sudah sepantasnya dapat award Ter-Cemplung. Kenapa Ter-Cemplung? Karena gampang banget ‘nyemplung’ langsung membantu anak-anak Titik 1 dan akrab dengan warga sekitar sampai dikangenin sama Pak Iwan dan Bu Cucun. J

Dear Ka Ivan,
Dikira awalnya yang akan ke titik 1 bukan Ivan Riansa, taunya…… Kapan lagi seorang mantan ketua BEM UI ’dipekerjakan’ secara menyenangkan? Hehehe. Oiya, katanya aksi kemarin itu ‘liburan’ lagi setelah 3 tahun ga merasakan liburan, ya? Walaupun hanya sebentar, semoga menikmati suguhan alam dan makanan di Puncakmanggu ya, Kak! Terima kasih sudah menjadi tamu yang menyenangkan dan membantu. Terima kasih sudah merelakan wibawanya hanyut bersama air cucian piring kotor. Terima kasih juga sudah melakukan perjalanan Depok-Puncakmanggu selama berjam-jam menggunakan motor demi kembali lagi ke Titik 1. Gue terharu, loh. Serius. Btw maaf gue lupa melulu mau bayar utang buku. J

Dear Maul,
Maul adalah orang GUIM favorit gue sampai sekarang. Kenapa? Karena gampang banget dibohongin dan selalu kemakan sama kebohongan sekecil apapun. Hehehe. Iya, mulai dari pertama kali ketemu di wawancara oprec panitia, sampai h-1 kepulangan aksi, lo masih berhasil gue bohongin. Ul, tau nggak, gara-gara truth or truth malem-malem ketika bilang lo ingin punya anak banyak karena mau masa tuanya ramai, gue jadi mau punya anak banyak dengan alasan yang sama. Gue doakan sifat keibuan lo akan terus mengalir sampai jadi nenek nanti, ya. Gue perhatiin sih, udah siap banget jadi Ibu. Calon suaminya aja sih yang belum ada. Hehehe. J

Dear Ella,
Mohon maaf ya karena bahkan ketika sudah sampai di titik, korlapmu ini masih suka ketuker antara Ella dan Iffah. Abis nama kalian mirip. Iya, mirip huruf pertama huruf vokal, lalu diikuti oleh huruf yang dobel. Sama kan? Ella masih hobi nyanyi (nyanyian absurd)? Tetap dipertahankan ya semangatnya. Berkat Ella, Titik 1 kenal istilah lagu bobo dan ingus jebret yang dahsyat itu. Azis apa kabar la? Gue baru sadar, gue punya tetangga yang mukanya mirip sama Azis. Eh iya la, makasih ya waktu itu sudah mau mengantarkan Rendy jalan-jalan ke Ciputat. Kita yang lain sih jalannya ke Tenjo Laut. Hehehe. J 

Dear Iffah,
Sama seperti Ella, mohon maaf ya kalau korlapnya suka ketukar antara Ella dan Iffah. Intinya, nama kalian mirip. Gimana progress jadi menteri pendidikannya. Fah? Semoga lancar. Gue mau nanya dong, kok lo ngurusin nikahan mulu deh? Saudara-saudara lo berarti lagi berada di masa subur ya. L Di antara semua tamu undangan itu, nggak ada satupun yang bisa dikenalin gue? Bilang aja gue pernah tinggal bareng sama lo. Hehehe. Btw, di cerita gue buat buku GUIM 4, ada nama Iffah loh. Bangga gak? Bangga dong harusnya. Makanya, jangan lupa beli bukunya yaa. Terus yg pertama kali dibaca itu cerita gue. #maksa

Dear Mela,
Halo pengajar yang pertama kali gue temenin home visit dan langsung dapat medan yang aduhai sekali menuju kampung Ciputat! Terima kasih sudah mengenalkan gue dengan anak-anak kelas 4 yang selalu ceria nggak pernah kehabisan enerji kayak baterai Alkal*ne. Mungkin murid itu cerminan gurunya. Iya, Mela sama Pak Falah itu punya kesamaan; sama-sama ceria dan murah senyum. Untung nggak cengengesan kayak Wawan sih. Heheh. Gue seneng banget punya teman setitik sesama anak FISIP. Tau kan populasi anak FISIP di GUIM bukan yang mayoritas? L Semangat terus mel untuk suma dan segala urusan lainnya! Semoga gak kebul otaknya jadi anak kamed. J

Dear Risky,
Halo sensei kembarannya Adimas! Gimana codingnya? Lancar? Semoga ngode sana-sininya juga lancar, ya. Kok Risky sekarang jarang nongol di grup? Bete ya sama akoh? Huhuhu. Maaf ya kalo korlapnya punya salaah. Ayok dong ramaikan grup lagi seperti dahulu kala. Oiya, belum bilang terima kasih. Terima kasih ya waktu di awal-awal grup terbentuk, lo selalu menjadi orang pertama yang menanggapi gue. Btw, gimana kabar anak sukamadu? Eh, sukamadu bukan sih namanya? Maaf lupa. Hehehe. Keep contact ya sama anak-anaknya. Gue sangat yakin lo sudah sangat menginspirasi mereka. 25 hari di sana, lo udah jadi pahlawan mereka, kok. Jangan bersedih lagi yaaa!

Dear Gumilang,
Ah bosen sama yang ini mah. Ga deng. Canda. Hehehe. Skripsinya apa kabar? Semoga dalam keadaan sehat walafiat ya. Saya dan keluarga di sini baik-baik saja. *format surat anak SD*

Bosen gak Gum dengerin curhatan random korlapnya? Gue mau curhat dong. Masa kemarin gue mimpi lo nikah sama anak Puncakmanggu. Nah di sana ada pesta rakyat. Terus tiba-tiba di antara tamu undangan, ada mantan gue. Sekian. Anti klimaks. Intinya, gue bersyukur lo selalu menjadi orang yang mau mendengarkan ocehan random gue sampai sekarang, dan entah kenapa ocehan gue selalu diladenin. Btw, boleh request gak kak? Botakin rambutnya lagi dong. L


With love,

Korlapmu

March 20, 2015

Salahku Berpakaiankah?

Menjadi cantik, memakai pakaian bagus, dan terlihat menarik adalah impian sebagian besar perempuan pada abad ini, bahkan pada abad-abad sebelumnya.
“Cantik itu relatif”. Ya, pernyataan tersebut tidak salah. Namun, tidak sepenuhnya benar. Ada standar-standar tertentu yang membuat perempuan dinilai cantik atau tidak, sehingga relatifitas kecantikkan perempuan adalah omong kosong manis belaka. Seorang perempuan cantik seringkali identik dengan bentuk tubuh yang ramping, kaki yang jenjang, rambut yang panjang, dan kulit yang putih. Apakah itu merupakan definisi baku cantik? Tentu tidak. Ada konstruksi sosial yang bermain di sana. Konsruksi itu menyebabkan penilaian perempuan cantik didasari atas indikator-indikator seperti yang disebutkan di atas.
Pembentukan diri seorang perempuan tidak dapat lepas dari penilaian masyarakat tentang perempuan itu sendiri. Sayangnya, hal ini sudah tertanam sejak proses sosialisasi paling awal, yakni sosialisasi oleh keluarga. Seorang anak perempuan akan diajarkan untuk bersikap manis, memakai pakaian yang manis dan bagus, serta hal-hal lainnya agar anak perempuan tersebut layak disebut sebagai perempuan yang baik di mata masyarakat.
Hal ini menjadi semakin parah ketika media juga ikut mengkonstruksikan konsep perempuan ideal melalui tayangan yang diproduksinya. Media merepresentasikan perempuan sebagai kesatuan tubuh. Banyak media yang justru menampilkan lekuk dan bentuk tubuh perempuan seperti dada, bokong, pinggul dan kaki (Berberick, 2010). Konstruksi inilah yang selanjutnya diinternalisasi oleh masyarakat dan diterima sebagai konsep perempuan ideal.
Demi memenuhi harapan masyarakat untuk menjadi ‘perempuan ideal’, beberapa perempuan berusaha untuk dapat menampilkan bentuk tubuh yang ideal dengan menggunakan beberapa mode pakaian tertentu. Jika kita melihat majalah-majalah busana, pakaian yang menunjang lekuk tubuh menjadi pilihan utama beberapa perempuan; jeans yang menampilkan lekuk pinggang, blus yang memberikan kesan ramping pada perut, kaos yang mempertegas lekuk tubuh, rok atau celana yang membentuk kaki agar terlihat jenjang, dan sebagainya. Tak ada yang salah dari kebebasan perempuan memilih pakaiannya. Permasalahannya adalah, pakaian perempuan seringkali menjadi bandul pemberat misogini. Pada beberapa kasus kekerasan seksual yang dilakukan laki terhadap perempuan, pakaian perempuan dijadikan penyebab perempuan menjadi korban. Tak ayal, komentar-komentar minor yang diskriminatif, seperti “salah sendiri, kenapa pake baju seksi?!”, seringkali dilontarkan kepada para survivor kasus kekerasan seksual.
Masyarakat Ikut Menyalahkan
Perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual seringkali disalahkan atas perbuatan yang menimpanya. Menyalahkan perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual menjadi praktik yang seringkali ditemukan akhir-akhir ini. Perilaku menyalahkan korban ini juga sering disebutrape myths, yaitu asumsi bahwa korban ikut berkontribusi atas dirinya yang menjadi korban dan dengan demikian bertanggung jawab atas terjadinya peristiwa tersebut (Moor, 2010). Contoh saja kasus pemerkosaan yang sempat mencoreng nama baik kampus ‘makara kuning’ oleh ‘S’, seorang seniman dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya terhadap mahasiswi dari fakultas yang sama. Beberapa media memunculkan opini bahwa perbuatan tersebut terjadi atas dasar suka-sama suka, dan sang korban memiliki kesadaran sepenuhnya atas perbuatannya. Padahal menurut pengakuan korban, pelaku melancarkan bujuk rayu hingga ancaman, sehingga korban tidak berdaya. Pelaku, dengan bujuk rayu dan ancaman, berhasil memposisikan korban berada pada posisi subordinat; membuatnya tak berdaya tanpa pilihan. Di sisi lain, pelaku yang menjustifikasikan perbuatan kejinya sebagai hubungan yang consent, menurut saya, berpikir dangkal berbasis hasrat seksual semata dan menyalahartikan beberapa perbuatan perempuan untuk konteks tertentu dalam berbagai hal, sebagai godaan atau ajakan untuk melakukan hubungan seksual.
Salah satu yang menjadi alasan perempuan menjadi korban yang justru disalahkan adalah jika perempuan menggunakan pakaian yang memperlihatkan bentuk tubuhnya untuk menggoda laki-laki dan menunjukkan maksud seksual tertentu.
Seorang anak perempuan pasti pernah mendapatkan sosialisasi dari kedua orangtuanya untuk berperilaku sopan dan menjaga dirinya dari objek kekerasan seksual. Anak perempuan, ketika memasuki masa remaja, pasti diwanti-wanti untuk menjaga sikap, membatasi omongannya, dan memerhatikan pakaian yang ia kenakan. Agar dapat tetap aman, perempuan harus mematuhi nilai-nilai tertentu yang membuatnya seakan terhindar dari ancaman yang ada.
Masyarakat mengkonstruksi perempuan sebagai objek untuk dipandang dan dinikmati serta menjadi pemicu nafsu seksual laki-laki. Penggunaan pakaian tertentu menurut laki-laki dianggap sebagai sesuatu yang ‘mengundang’.
Selain itu, tak hanya masyarkat sipil yang membuat stereotip tersebut mengakar. Fenomenavictim blaming juga terkadang dipertegas dengan pernyataan otoritas. Fauzi Bowo pada tahun 2011 sempat mengeluarkan statement untuk mengimbau perempuan agar tidak memakai rok mini di angkutan umum terkait banyaknya kasus pemerkosaan di angkutan umum kala itu (Tribunnews, 2011). Sebagai seorang pejabat publik, komentar tersebut tidak sensitif gender. Pernyataan tersebut tak hanya menjadikan perempuan sebagai objek, namun juga korban. Pejabat publik tidak seharusnya menyalahkan perempuan atas gaya berpakaian, karena adalah hak setiap manusia untuk mengekspresikan dirinya. Komentar dan solusi permasalahan yang tepat terdapat selentingan kasus yang diungkapkan mantan Gubernur DKI Jakarta itu seharusnya terkait dengan penyediaan sarana transportasi yang aman bagi semua dan adil secara gender. Komentar Fauzi Bowo dirasa tidak tepat dilontarkan oleh seorang pejabat publik yang kadar intelektualnya seharusnya tidak perlu dipertanyakan. Komentar tersebut juga dapat dijadikan salah satu bukti bahwa pola pikir beberapa masyarakat Indonesia masih memandang perempuan sebagai objek yang boleh dilecehkan.
Pakaian bukan Alasan
Pakaian bukanlah alasan deterministik yang relevan yang membuat seorang perempuan menjadi korban kejahatan, khususnya kejahatan kekerasan seksual. Mengapa? Menurut harian Reuters, negara-negara di kawasan Timur Tengah memperlakukan kaum perempuan dengan sangat buruk, bahkan paling buruk jika dibandingkan dengan negara lain. Salah satu bentuk perlakuan buruk yang dialami perempuan adalah kekerasan seksual, yang merupakan salah satu kejahatan terhadap perempuan dengan tingkat yang cukup tinggi jika dibandingkan dengan bentuk kejahatan lain. Padahal, seperti yang kita tahu, sebagian besar penduduk perempuan di negeri Timur Tengah menggunakan pakaian yang tertutup dari ujung kepala hingga ujung kaki. Bahkan dalam beberapa situasi, hanya mata perempuan saja lah yang masih boleh dibiarkan terbuka. Kontradiktif dengan gagasan kalimat di atas bukan?
Pakaian atau atribut pada tubuh perempuan bukan merupakan faktor yang membuat seorang perempuan mengalami kekerasan atau pelecehan seksual. Perempuan dan pakaiannya hanya menjadi korban objektifikasi masyarakat patriarki. Salah satu riset yang menjadi acuan dalam tulisan ini adalah riset Moor (2010), Johnson, Heglan, dan Schofield (1999), yang menjelaskan tentang perbandingan antara laki dengan perempuan terhadap kecenderungan atraktifitas seksual yang muncul akibat cara berpakaian. Riset tersebut menunjukkan bahwa gelagat seksual yang ditunjukkan perempuan tidak memiliki korelasi yang kuat dengan cara berbusananya. Riset tersebut juga menunjukkan bahwa perempuan dan laki-laki memiliki pandangan yang berbeda dalam hal mengekspresikan gelagat seksual melalui pakaian. Hasil riset menunjukkan bahwa perempuan tidak memiliki intensi menggunakan pakaian sebagai sebuah atraksi seksual. Sementara laki berpikiran sebaliknya. Hal ini mengakibatkan fenomenablaming the victim pada korban kekerasan seksual, terutama perempuan..
Melalui penjelasan demikian, sudah jelas tidak ada hubungan antara penggunaan pakaian tertentu oleh perempuan dan terjadinya suatu kekerasan atau pelecehan seksual. Contoh kasus di Arab yang telah sedikit dipaparkan di atas dapat menjelaskan jika baik tertutup ataupun tidak, perempuan akan tetap menjadi korban jika tidak dibangun kesadaran dan rasa menghargai atas diri perempuan secara seutuhnya.
Merupakan ironi jika kita berada dalam masyarakat yang lebih cenderung mewanti-wanti perempuan agar menjaga dirinya agar tidak menjadi korban pemerkosaan ketimbang mengajarkan laki-laki untuk melindungi dan menghormati perempuan seutuhnya serta menahan nafsunya. Saatnya perempuan bersuara!
***

Tulisan saya yang juga dimuat dalam Wepreventcrime

March 2, 2015



Here i am alone, talking to my shadow
And time’s flapping by, 
just to make fun of me
I hate the time, 
it keeps running away, 
taking you along on the road
And i refuse to go
I don’t wanna go with you

I’m waiting for the time to stop, 
and deliver you back to me
And i’ll hold you tight, 
i’ll hide you in my pocket
It will never take you again


Excuse me..
Do you have my time?
No i don’t ask it all, just a little of your 24-7
I hate the time,
it keeps running away, 
taking you along on the road
And i fell down, i fell down
I’m just waiting

I’m waiting for the time to stop, and deliver you back to me
I’m just waiting
Mr. Time—Andre Harihandoyo and Sonic People


--

For Mr.Time, that makes this whole mom-daughter things never worked out.