May 18, 2015






Dan sementara
Akan ku karang cerita
Tentang mimpi jadi nyata
Untuk asa kita berdua

— Sementara, Float





May 17, 2015

A Face to Call Home

Tahu rasanya kesal dengan orang-orang dewasa tertentu karena terkadang obrolan mereka sangat membosankan? Tahu rasanya kesal dengan orang-orang dewasa tertentu karena mereka lebih tahu dunia nyata itu seperti apa, dan kau masih dibilang mahasiswa idealis yang belum tahu bentuk dunia? Tahu rasanya kesal ingin cepat lulus karena melihat mereka yang hidupnya—terlihat—lebih terarah?

Saya tahu.

Tapi ini nasib yang harus saya jalani, mahasiswi semester 4 yang hidup di tengah-tengah orang yang beranjak tua. Ketika obrolan di grup Whatsapp pada akhirnya hanya membahas ‘Kapan ngenalin calon, nih ke kita-kita?’ atau ‘Besok gue interview kerja, doain ya.’ atau ‘Lo sidang minggu depan? Gila! Good luck!’ atau ‘Gue mulai mikirin thesis gue, bantu cariin judul, dong’ atau ‘Gue baru dapet sinyal nih, pedaleman sih, eh gue minggu depan cuti, bisa balik ke Bogor loh!’ atau obrolan-obrolan lainnya khas orang-orang yang sudah mempersiapkan perancangan hidupnya dengan matang. 

Terkadang lucu ketika justru saya menimpali dengan hal-hal semacam ‘Gue tadi telat kelas, ga boleh masuk’ atau ‘Doain ya besok gue UTS’ atau ‘Elah ini dosen ga tau diri banget sih ngasih tugasnya’ atau hal-hal lainnya khas mahasiswa menuju tahun ketiganya. Rasanya cerita saya tidak ada apa-apanya dengan apa yang mereka hadapi.

Untungnya, saya hidup di tengah-tengah mereka. Nanti, saya tidak perlu kaget dengan dunia orang dewasa yang (dibikin) rumit itu seperti apa. Iya, dari mereka saya belajar banyak. Dari mereka, saya punya keluarga yang lain.




There are people you just can’t live without, no matter how meddlesome and stunned they are.

I am lucky I’ve found mine.


May 5, 2015





Anak tidak hanya butuh disembuhkan lukanya 
setelah berdarah
Anak butuh bahagia dalam menyembuhkan
Anak tidak butuh menghafal 
Anak butuh mengerti
Anak tidak butuh dilarang untuk disiplin
Anak butuh mengerti mengapa disiplin dibutuhkan
Anak butuh mengerti
Anak butuh objek

-N.S.




***

Rows of sincere words, coming from a boy who got hurt in his early adult.
No matter how old you are, you are kid to your parents.

May 3, 2015

When Life Gives You Lemon.....

It is delightful when you get really really bored, feel like yelling "I'M ENOUGH!" to every kind of thing that holds you right now,
you just find something to light up your day, sided by great companion.

First, it was talking to my research informant last Friday, he told many awesome stories and how I can learn so many things from him.

Second, it was yesterday, when I went to Europe on Screen—an annual Europe film festival—and watched three good movies with a dear friend that could really boost my mood. And also, I was having an afternoon walk, which is something I love but haven't done in a long time.

Antboy - Citizenfour - Morocco


When life gives you lemon, it gives you sugar as well. So what the hell, life goes on!

Terima kasih Gumilang yang mau menemani nonton seharian dan memenuhi bm-an sejak sebulan lalu!  J


May 1, 2015

Narapidana

Jum’at, 1 April 2015.

Hari ini saya mendapat sesi ‘kuliah’ gratis dari seorang mantan preman yang pernah menghuni LP Cipinang di tahun 1985 selama kurang lebih 8 tahun potong remisi.  Hal itu bermula ketika saya diberi tugas penelitian karier kriminal dalam mata kuliah Metode Penelitian Kriminologi dua minggu yang lalu. Singkatnya, setelah melalui beberapa lika-liku, kelompok saya akhirnya mendapatkan informan yang sesuai dengan kriteria yang sudah ditentukan. 

Informan saya menceritakan segala lika-likunya saat berkecimpung di dunia kriminal. Ia juga menceritakan secara rinci bagaimana ia menjalani proses peradilan pidana ketika kasus perampokan menyeretnya ke jeratan hukum. Takjubnya saya, semua yang ia ucapkan persis dengan apa yang dosen saya ajarkan di kelas Sosiologi Peradilan Pidana.

“Saya nggak sekolah, tapi saya tahu proses mulai orang ditangkep polisi, masuk ke pengadilan, ngajuin banding sampai kasasi, karena ya saya ngalamin sendiri,”

Rasanya jadi tamparan buat saya yang sudah dibayari kuliah mahal-mahal oleh orang tua , namun masih ‘picky’ terhadap ilmu yang didapati. Bahkan informan saya lebih paham tentang proses peradilan pidana dibandingkan saya yang mengambil 3 SKS mata kuliah Sosiologi Peradilan Pidana semester ini.

Jadi benar pernyataan yang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Toh, yang dicekoki teorinya belum tentu  lebih paham daripada mereka yang mengalami langsung. Kritik terhadap diri sendiri adalah ya sudah dikasih teorinya, harusnya lebih paham keadaan di lapangan seperti apa.


Hari itu saya belajar bahwa ilmu dapat diperoleh dari mana saja, bahkan dari orang yang dipinggirkan oleh masyarakat seperti contoh di atas yaitu mantan narapidana. Asiknya jadi anak Kriminologi, ya bisa berhadapan dengan orang-orang yang terkadang dipinggirkan oleh masyarakat itu. J