May 17, 2015

A Face to Call Home

Tahu rasanya kesal dengan orang-orang dewasa tertentu karena terkadang obrolan mereka sangat membosankan? Tahu rasanya kesal dengan orang-orang dewasa tertentu karena mereka lebih tahu dunia nyata itu seperti apa, dan kau masih dibilang mahasiswa idealis yang belum tahu bentuk dunia? Tahu rasanya kesal ingin cepat lulus karena melihat mereka yang hidupnya—terlihat—lebih terarah?

Saya tahu.

Tapi ini nasib yang harus saya jalani, mahasiswi semester 4 yang hidup di tengah-tengah orang yang beranjak tua. Ketika obrolan di grup Whatsapp pada akhirnya hanya membahas ‘Kapan ngenalin calon, nih ke kita-kita?’ atau ‘Besok gue interview kerja, doain ya.’ atau ‘Lo sidang minggu depan? Gila! Good luck!’ atau ‘Gue mulai mikirin thesis gue, bantu cariin judul, dong’ atau ‘Gue baru dapet sinyal nih, pedaleman sih, eh gue minggu depan cuti, bisa balik ke Bogor loh!’ atau obrolan-obrolan lainnya khas orang-orang yang sudah mempersiapkan perancangan hidupnya dengan matang. 

Terkadang lucu ketika justru saya menimpali dengan hal-hal semacam ‘Gue tadi telat kelas, ga boleh masuk’ atau ‘Doain ya besok gue UTS’ atau ‘Elah ini dosen ga tau diri banget sih ngasih tugasnya’ atau hal-hal lainnya khas mahasiswa menuju tahun ketiganya. Rasanya cerita saya tidak ada apa-apanya dengan apa yang mereka hadapi.

Untungnya, saya hidup di tengah-tengah mereka. Nanti, saya tidak perlu kaget dengan dunia orang dewasa yang (dibikin) rumit itu seperti apa. Iya, dari mereka saya belajar banyak. Dari mereka, saya punya keluarga yang lain.




There are people you just can’t live without, no matter how meddlesome and stunned they are.

I am lucky I’ve found mine.


No comments:

Post a Comment