June 23, 2015

16.30



Dua jiwa
pada satu senja
di kota kembang
Berjalan ringan
Bercerita cinta

Dua jiwa
pada satu senja
di ibu kota
Melangkah dalam diam
Memendam rasa

Ke mana perginya senjaku?

Ada senja di dalam sini
Yang rindu disapa
dan diajak bercengkrama
layaknya takkan pernah datang malam




June 2, 2015

60 Jam Numpang Merenung di Kota Orang

Terkadang lucu bagaimana perjalanan melarikan diri—yang sangat singkat—justru menjadi perjalanan ‘menemukan apa yang hilang’. Senin, 25 Maret lalu, saya menginjakkan kaki kembali di kota Depok, tempat saya menuntut ilmu sekarang, setelah selama 3 hari sebelumnya numpang tidur di kota orang.

Hari Jum’at 22 Mei pada pukul 05.45 pagi, saya tiba di Kota Jogjakarta setelah seminggu sebelumnya secara impulsif saya membeli tiket kereta dengan alasan sederhana; penat dan sedang berada pada titik benci dengan kampus dan segala tetek-bengeknya. Jadi, secara tidak langsung perjalanan ini merupakan perjalanan lupa sementara dari segala kewajiban, tanggung jawab, dan kehidupan di kampus.

Kalau boleh jujur, saya tidak bangga dengan keputusan pergi ke luar kota dengan kesadaran penuh bahwa ada kewajiban dan tanggung jawab yang sedang minta dimanja dan tidak boleh ditinggal. Tapi, saat itu pembelaan yang selalu saya ucapkan dalam hati adalah: “Satu setengah tahun terkahir, saya banyak mengurusi kepentingan orang lain, sibuk bukan dengan pencapaian pribadi, dan se-terikat itu dengan rutinitas, jadi bukan sebuah keharaman kalau sekali-kali saya memanjakan jiwa, pikiran dan badan sendiri.” 

Tak lama setelah membeli tiket, saya mengabari Nina kalau saya akan datang ke Jogja. 

Lo mau ke sini dul? Mau ke mana aja?

“Mau bawa gue ke mana aja gue seneng deh, asal gue nggak di Depok, nggak ketemu orang-orang kampus. Eh, tapi nanti temenin gue ke Dieng, ya. Mau ngejar sunrise. Sisanya ke mana aja bebas.”

Pagi itu, saya sarapan dengan sepiring lontong sayur di pinggiran jalan Malioboro. Tenang. Entah karena bukan suasana Kukusan Teknik tempat saya sarapan setiap pagi yang saat itu dirasakan, atau memang Yogyakarta punya daya magisnya tersendiri dalam menciptakan ketenangan pagi, saat itu saya merasa makan dengan sangat damai dan yang jelas, tidak terburu-buru karena harus masuk kelas pagi secepatnya. Pagi saya semakin sempurna ketika ada pengamen jalanan yang menyanyikan lagu milik Dialog Dini Hari yang berjudul Jalan Dalam Diam—lagu dengan lirik yang sangat indah. Semesta memang asyik.

Selama di Jogja, saya numpang tidur di kost Nina, teman berjuang dan berbagi ide semasa SMA. Tiga hari di sana, Nina membawa saya ke banyak tempat: mendengarkan musik yang dilantunkan band-band kampus dan lokal Jogja di sebuah acara musik di UGM, makan-makan pada malam hari di sepanjang Jalan Kaliurang bersama Yogie dan Putri, mengunjungi situs sejarah pemandian Taman Sari, hening sejenak dan menikmati wangi buah pinus di hutan pinus Imogiri, mengantre untuk makan Gudeg Bromo yang terkenal di Jogja yang pada akhirnya tidak jadi karena malam itu kami berangkat ke Magelang untuk mengejar matahari terbit di atas Gunung Andong.

Semua perjalanan itu dilakukan secara mendadak, tanpa rencana. Setiap akan beranjak dari tempat yang saat itu dikunjung, saya, Nina dan teman yang ia bawa dapat berdiskusi hingga 15-20 menit untuk menentukan akan pergi ke mana selanjutnya. Lucunya, hal ini justru membawa kebahagiaan sendiri untuk saya. Sekali lagi, saya belajar bahwa berpergian tanpa ekspektasi apapun ternyata cukup menyenangkan. Bahkan perubahan tujuan yang tadinya ke Dieng menjadi ke Gunung Andong pun tetap saya nikmati.

Saat itu, saya sadar apa yang hilang dari diri saya. Apa yang selama ini saya cari hingga saya harus pergi jauh ke kota orang.

Saya abai terhadap spontanitas dalam hidup, yang dulu saya agung-agungkan. Saya, sekarang, terpaku pada rutinitas, jadwal, dan lini masa. Saya tidak tenang, bahkan cenderung takut jika saya tidak merencanakan apa yang akan saya lakukan besok, minggu depan, bulan depan, bahkan sampai tahun depan. Saya terbentuk menjadi apa yang dikatakan sebagai manusia modern yang selalu diburu oleh waktu untuk melakukan berbagai hal yang didefinisikan sebagai produktif. 

Teringat sebuah kutipan dari film yang rilis tahun 1986, Ferris Bueller’s Day Off; 
“Life moves pretty fast. If you don’t stop and look around in a while, you could miss it.” 
Intinya tinggal kita memilih, mau tetap ikut pada tuntutan waktu, atau rehat sejenak dan menengok kanan-kiri hidup sesaat.

Apapun itu, tiga hari kemarin merupakan hari yang sangat menyenangkan buat saya. Perjalanan melarikan diri dengan bonus refleksi terhadap diri sendiri. Dan yang jelas, saya jatuh cinta, lagi, pada kota yang selalu berhasil membuat saya bahagia dengan ketenangan, kesederhanaan dan kebaikan orang-orangnya.

Terima kasih untuk Nina, Yogie, Putri, Fahmi, Gevi, Fahreza, Bangkit, Mahar, Rivi, Taufiq dan Anggie yang sudah menjadi teman jalan-jalan yang sangat menyenangkan!



P.S.
Saat saya mencari insight untuk tulisan ini, saya menemukan artikel bagus tentang bagaimana caranya berdamai dengan waktu dalam hidup yang serba dipacu, berjudul How Not To Hurry. Sila di-klik dan dibaca! :)




Ini waku di Imogiri. Kayak kenal. 
Ya, namanya juga hutan pinus.
Mau di Bogor, mau di Jogja, bentukannya sama. Hehe.


di Taman Sari, fotonya terpotong. Huu. 

Fahmi-Gevi-Fahreza, teman sekampus Nina yang ikut menemani
Gayanya absurd, maklumi aja, ya. Ini selfie yang kesekian puluh. Hehe. 

Dari atas gunung Andong. Terbayar walaupun rame banget!

5--tebak aja maksudnya apa.  Lagi jadi angka penting
dalam hidup sekarang. Hehe.

Ditemani teman Nina lagi, kali ini ada Anggie, Bangkit, Mahar, Rivi, dan
Taufiq.