October 3, 2015

Malaikat dan Kumbang

Katanya, seseorang datang ke dalam hidup kita bukan tanpa perencanaan, semua orang punya alasan mengapa mereka ada di dalam hidup kita. Saya adalah satu dari sekian orang yang percaya dengan hal ini. Bagi saya, ‘Takdir’ hanya penyingkatan kata dari berbagai alasan  yang lebih luas lagi mengapa seseorang menjadi bagian dari hidup kita—sebentar ataupun lama.

Saat ini, ada seorang laki-laki yang datang.

Beberapa kali saya bercerita kepada seorang teman. Beberapa kali juga saya mengatakan bahwa saya heran mengapa bisa nyaman bersama dengan seseorang yang dalam banyak hal berbeda dengan saya. Dia yang rapi, saya yang serampangan. Dia yang lembut, saya yang blak-blakan. Dia yang senang berpikir jauh ke depan, saya yang lebih senang berpikir taktis dan praktis. 

Ya, mungkin ada 1001 perbedaan. Tapi, setelah sekian lama, ada lagi seseorang yang membuat saya merasa perbedaan bukanlah sebuah masalah. Kata teman saya, anggap saja itu anugerah.

Saya menikmati setiap obrolan dan diskusi tentang berbagai hal di sela-sela waktu minum kopi atau saat makan, saya menikmati saat melihat baris-baris kata di setiap obrolan virtual, saya terkadang tersenyum sendiri saat dia bilang “Biasa aja” di setiap perbuatan yang saya anggap…ehem…lucu, sweet atau romantis.

Kalau saya seorang pujangga, mungkin saya akan bilang dia adalah seorang malaikat yang dikirim semesta dari surga tertinggi. Sayangnya, saya tidak mau pakai kalimat itu. Pertama, saya bukan pujangga. Kedua, saya merasa malaikat adalah makhluk yang begitu sempurna, sedangkan apalah kita manusia. Ketiga, saya tahu dia tidak percaya tentang konsep malaikat secara spiritual. Jadi, saya akan berusaha mencari kata manis lainnya tapi bukan malaikat. Mungkin bulan, mungkin matahari, atau mungkin kumbang. Kumbang di hutan pinus saya—ya, karena saya suka hutan pinus.

Lalu, jika semua orang katanya memiliki andil dalam hidup orang lain, saya belum tahu apa alasan dia ada di hidup saya sekarang. Yang jelas, beberapa bulan belakangan ini, saya telah dibuat nyaman, pun saya telah diajarkan berbagai hal lewat berbagai cara.

Sekali lagi, dengan caranya, semesta telah membuat kupu-kupu itu berterbangan lagi.