December 31, 2015

2015

Merangkum tahun yang akan berlalu merupakan sebuah ritual wajib sejak 2010 di blog ini. Saya memang suka menuliskan refleksi dari apa yang saya lalui selama setahun ke belakang. Tapi saya bukan tipikal orang yang menuliskan resolusinya untuk tahun depan. Saya—dengan jiwa kebebasan saya—berpikir bahwa resolusi itu omong kosong, bahwa hidup seharusnya bebas, bahwa target hanyalah kekangan yang membuat hidup tidak asyik. Biasanya saya hanya akan berdoa jika tahun depan akan lebih menyenangkan dari tahun sebelumnya. Biasanya hal itu terjadi, setiap tahun  hidup saya selalu makin menyenangkan. 

Hingga pada akhir 2014 lalu, saya merasa hidup kurang ‘greget’. Saya mau sesuatu yang menyenangkan lagi (iya, memang manusia tidak pernah puas, selalu minta lebih). Karena merasa di tahun 2014 saya sangat sedikit membaca buku dan berpergian, akhirnya saya memasang resolusi yang masih sangat sederhana untuk tahun 2015; read more, travel more. Saya mau hidup lebih progresif.

Menginjak penghujung tahun, saya cukup bangga dengan diri sendiri. Saya berhasil membaca 14 buku fiksi dan non-fiksi (meski melenceng dari target 24 buku dalam setahun), berpergian lebih sering dan telah mengunjungi 5 kota berbeda di luar Jawa Barat dan Pulau Jawa selama satu tahun terakhir, menonton lebih banyak film bagus, dan kembali bergabung dengan Gerakan UI Mengajar. Secara umum, saya merasa resolusi tahun 2015 cukup tercapai.

2015 adalah tahun yang lucu karena dalam beberapa kesempatan, saya berhasil menekan habis ego saya untuk melakukan hal yang tidak saya sukai sebelumnya. 

Pertama kalinya dalam hidup, saya punya teman sekamar. Dulu saya sangat anti dengan ngekos berdua karena berpikir hal ini dapat mengurangi kebebasan dan ruang privasi saya, dan sebenarnya saya malas cari orang yang bisa toleransi dengan ketidakacuhan saya kalau kamar sedang berantakan. Hehe. Untungnya, teman sekamar saya, Luna, adalah orang yang sifatnya sama seperti saya, jadi saya bisa menjalani hidup satu kosan dengan damai.  Ternyata ngekos berdua enak juga, bisa pinjem barang, bisa minta makanan, dan ada yang membangunkan juga kalau saat ketiduran saat nugas atau kesiangan bangun saat mau kuliah. Hehe.

Selain itu, akhir November lalu saya berhasil menjuarai sebuah kompetisi ilmiah di Fakultas tempat saya kuliah. Saya dapat juara 2 dalam bidang PKM Kewirausahaan. Buat saya, ini hal lucu karena saya sangat tidak suka membuat PKM dan tidak suka dunia kewirausahaan. Tapi mungkin semesta ingin mengajarkan kalau menutup diri dari segala sesuatu yang tidak kita sukai itu tidak baik. Salah seorang teman saya bilang, “mungkin di dunia ini banyak hal yang lu benci ternyata baik buat elu”.

2015 juga sebuah tahun yang penuh cinta. Ewwwwh. Beberapa teman dekat saya sudah ada yang tunangan, menikah dan sedang menunggu kelahiran anaknya. Lalu bagaimana dengan saya?

Tahun ini, ada seseorang yang membawa warna baru dan memberikan banyak pelajaran bagi diri saya. Orang yang saat itu memberikan kenyamanan dan rasa bahagia. Saya mengutip salah satu tulisan Alain de Botton dalam Essays in Love (buku favorit saya): “Perhaps it is true that we do not really exist until there is someone there to see us existing, we cannot properly speak until there is someone who can understand what we are saying in essence, we are not wholly alive until we are loved.” Dalam beberapa waktu, saya merasa lebih hidup, karena kehadirannya. 

Tapi mungkin itu juga kesalahan terbesar saya tahun ini. Saya terlalu bersandar pada kehadiran orang lain untuk membawakan saya kebahagiaan (terima kasih Olga atas ngobrol singkatnya via Line yang akhirnya membuat saya sadar tentang hal ini). Saya lupa bahwa kebahagiaan sejati datang dari diri sendiri. Padahal, sebelumnya saya pernah menulis “….is what really happen when you rely on someone else to bring you happiness. It’s just hard, because if they leave, so does your happiness”, tapi saya juga yang lupa. Iya, kalau orangnya ada, kita bahagia, kalau orangnya pergi, bahagianya juga pergi.  Emang 5 huruf itu efeknya bahaya, ya. Hehe. 

Intinya….ya saya turut bersuka cita tahun ini karena teman-teman saya bahagia dengan hidupnya bersama pasangannya, dan saya cukup senang karena ternyata saya bisa belajar banyak dari orang yang membuat saya harus merekonstruksi ulang definisi bahagia bersama orang lain bagi diri saya.

Jadi, tahun 2015 merupakan tahun yang cukup aneh. Ajaib. Mungkin kata ini yang paling dekat mendeskripsikan bagaimana tahun 2015 berlangsung bagi saya. Untungnya saya selalu dikelilingi orang-orang yang ajaib juga. Terima kasih untuk kalian yang selalu jadi energi positif buat saya selama ini. :)

Lalu tahun depan mau apa? Yang jelas, saya mau menyelesaikan kewajiban saya yang masih saya emban sampai tahun 2016.  Saya juga mau memasang target yang lebih banyak! Let’s read more than 14 books, travel to more than 5 cities, write more, and go abroad!


No comments:

Post a Comment