January 6, 2016

What Happened between January(s)

23 jam menuju keberangkatan.


Halo 2016! Ini postingan pertama saya di tahun 2016, ditulis  menjelang keberangkatan aksi karena saya bingung harus bagaimana melampiaskan rasa deg-degan dan panik saya.

Iya, kalau kata orang, saya gak bisa panik. Padahal saya adalah orang yang suka panik sendiri, maksudnya kalau panik dipendam sendiri, nggak usah ditunjukkin.

Malam ini saya super panik, mengingat kalau tahun lalu saya hanya bertanggung jawab dengan keberlangsungan hidup 1 tim di 1 titik aksi, tahun ini tanggung jawab saya beranak pinak menjadi seluruh keberlangsungan hidup dan kegiatan tim yang akan berangkat besok. Gimana saya nggak panik?

***

Kadang saya bingung mengapa saya masih mau melanjutkan partisipasi saya di Gerakan UI Mengajar. Satu, melelahkan. Dua, saya gak bisa (atau gak biasa) ngajar anak SD (belum mencoba secara intens, lebih tepatnya). Tiga, saya juga buka pecinta anak-anak. Saya lebih suka bayi, yang masih bisa digendong dan pasrah kalau dicubit-cubit atau diuwel-uwel. Hehe.

Tapi setiap kali pertanyaan itu muncul, saya selalu teringat apa yang saya alami di Januari 2014, kali pertama saya akhirnya paham mengapa banyak orang yang tidak bisa move on dari kegiatan ini. Rasanya selama sebulan saya hanya dialiri energi positif dari warga desa dan anak-anak yang sangat menyenangkan. Plus, tim yang juga sangat menyenangkan. Sejak itu, saya bertekad bahwa niat baik harus selalu dilanjutkan dan diberi ruang untuk berkembang.

Dan ternyata, Januari 2015 lah yang membawa saya ke Januari 2016. Sudah setahun, loh.

***

Iya, sekarang saya panik dan deg-degan.

Tapi deg-degan dan panik versi saya beda. Kalau toh menyenangkan, ngapain diambil pusing? Hehe.

***

Semoga Januari ini berkah (lagi), ya.